Bali
Mesti
Kendalikan Alihfungsi
Lahan
Subur
Denpasar
(Bali Post)-
Di
tengah
derap pembangunan
yang cenderung
terus
meningkat, Bali harus
memapu
mengendalikan proses
tersebut.
salah
satunya
mampu mengendalikan
alih
fungsi lahan
subur.
Demikian
ditandaskan
Deputi
Bidang
Politik dan
Hankam yang
diwakili
Mayjen
Dewa Putu
Rai,
Rabu (26/4) kemarin.
Rai
yang mewakili
Meneg
Perencanaan Pembangunan
Nasional/Bappenas
pada
Musrenbang (Musyawarah
Perencanaan
Pembangunan)
Propinsi Bali,
Rabu (26/4)
kemarin
di Renon
beralasan, Bali
merupakan
salah
satu propinsi
di luar
Jawa yang
memiliki
tingkat
urbanisasi paling tinggi.
Penduduk Bali yang
tingal
di
kota
mencapai 57,5
persen,
lebih tinggi
dari rata-rata
nasional 48,3
persen.
Sementara
itu,
membengkaknya angka
pengangguran
di Bali
akibat anjloknya
sektor
pariwisata bisa
membawa
dampak ekonomi
dan
kerawanan sosial yang
tidak
bisa dianggap
enteng.
Karena
itu program
pembangunan
di
tahun 2007 mesti
difokuskan
pada
upaya penciptaan
lapangan
kerja
dan penanganan
keluarga
miskin.
Gubernur
Bali Dewa
Beratha
mengatakan hal
itu
saat pembukaan
Musrenbang
kemarin.
Dikatakan
tantangan
di
tahun 2007 cukup
besar.
Selain
masalah
pariwisata yang kini
tengah
mengalami masa
sulit,
Bali
juga
dihadapkan pada
membengkaknya
angka
pengangguran yang jumlahnya
mencapai 81.748
orang.
Bahkan
dari
pendataan kini
terdapat pula 147.132 KK
miskin.
Kondisi
tersebut
juga
masih dihadapkan
pada
masalah
kamtibmas,
daya
saing Bali yang rendah
dibandingkan
daerah
lainya terutama
menghadapi
pasar
internasional.
Mengatasi
masalah
ini Gubernur
berharap
perlunya
penanganan
secara
lintas sektoral
dan
didukung pembiayaan
yang memadai.
Meski
kenyataan
tersebut
cukup
memprihatinkan, Gubernur
mengaku
optimis adanya
perbaikan
di masa
mendatang.
Hal ini
mengacu
pada angka
makro
ekonomi yang cenderung
meningkat.
Pertumbuhan
ekonomi
naik dari 4,62
persen
tahun 2004 menjadi
5,46 pada 2005.
Pendapatan
perkapita
juga
meningkat dari
Rp 8,152
juta
menjadi Rp 9,395
juta.
Namun
diakui kenaikan
itu
belum bisa
memberikan
peningkatan
kesejahteraan
masyarakat
mengingat
angka
inflasi masih
tinggi
yakni 11,31
persen.
Beri
Peluang
Sementara
itu
Mendagri yang diwakili
Dirjen
Perkotaan Ir. Aryo
Sasongko
mengatakan
masalah yang
menonjol
belakangan
ini
cukup banyak
di
antaranya tata
ruang,
bencana alam,
pengangguran
serta
gizi buruk.
Adanya
kebijakan
otonomi
diharapkan penanganannya
bisa
terpadu yang diintegrasikan
dengan
kebijaksaan nasional.
Dirjen
menegaskan
kebijakan
desentralisasi
dan
otonomi daerah
mestinya
dapat
semakin memberi
ruang
dan peluang
dalam
mengaktualisasikan
demokratisasi dan
penyelenggaraan
pembangnan
daerah.
Dirjen
mengakui
perkembangan
ekonomi
nasional saat
ini
belum pulih
benar
sehingga perlu
kerja
keras dalam
upaya
percepatan pembangunan
daerah.
Ia
mencotohkan
anjloknya
pendapatan
dari
dari sektor
pariwisata,
memerlukan
penanganan yang
tepat
sehingga bisa
memulihkan
kepercayaan
wisatawan
domestik
maupun
internasional. ''Bali
juga
mesti mampu
menggali
potensi
unggulan lainnya yang
bisa
menunjang sektor yang
ada,''
tambahnya.
(031)