kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 12 April 2006

 Surat Pembaca


Puskesmas Versus RS Internasional

Membaca tulisan bapak A.A. Gde Muninjaya (BP, 11/4-2006) saya duga benar adanya kondisi puskesmas kita makin terpuruk, sementara RS internasional justru gede-gedean oleh kita didorong maju, dipuja jadi gaya hidup yang memiliki pelayanan dan fasilitas kelas dunia.

Di satu pihak berbusa-busalah mulut kita bicara soal nasib rakyat, kemelaratan rakyat, airmata rakyat, TDL, BBM, elpiji, dan di lain pihak mulut kita justru semakin jauh dari lidah kita sendiri. Ini hanyalah contoh kecil karena pada saat yang sama pasar dan warung tradisional pun telah ditinggal, sebab kita lebih memilih beli kerupuk dan terasi di mall dan supermarket, lebih memilih ngorta lewat HP ketimbang ngorta di balai banjar.

Sebagai bangsa pada hemat saya, kita telah kehilangan segala-galanya, karena memang di mata geopolitik global pun, kehadiran Indonesia kayaknya hanya buat isin, malu, dengan berbagai predikat miring yang dengan asyik sedang kita sandang. So, dengan ngesok sebagai seorang nasionalis, apa yang bisa kita buat menghadapi segudang keprihatinan ini?

Itulah yang sekarang saya pikir, sambil menunggu dokter puskesmas yang belum juga muncul-muncul itu. Ketika perawat kurus itu akhirnya muncul, berkatalah ia bahwa pak dokter sedang besuk pasiennya di RS internasional. ''Besok jika tidak ada halangan pastilah beliau masuk. Tetapi asma bapak kan belum begitu parah,'' katanya enteng sambil makan nasi jinggo.

Abu Bakar
Jl
. Sakura I/12 Denpasar

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)