Puskesmas
Versus RS
Internasional
Membaca
tulisan
bapak A.A. Gde
Muninjaya (BP, 11/4-2006)
saya
duga benar
adanya
kondisi puskesmas
kita
makin terpuruk,
sementara RS
internasional
justru
gede-gedean oleh
kita
didorong maju,
dipuja
jadi gaya
hidup yang
memiliki
pelayanan
dan
fasilitas kelas
dunia.
Di
satu
pihak berbusa-busalah
mulut
kita bicara
soal
nasib rakyat,
kemelaratan
rakyat,
airmata rakyat, TDL,
BBM, elpiji,
dan di
lain pihak
mulut
kita justru
semakin
jauh dari
lidah
kita sendiri.
Ini
hanyalah contoh
kecil
karena pada
saat yang
sama
pasar
dan warung
tradisional pun
telah
ditinggal, sebab
kita
lebih memilih
beli
kerupuk dan
terasi
di mall dan
supermarket, lebih
memilih
ngorta lewat HP
ketimbang
ngorta
di balai
banjar.
Sebagai
bangsa
pada hemat
saya,
kita telah
kehilangan
segala-galanya,
karena
memang di
mata
geopolitik global pun,
kehadiran Indonesia kayaknya
hanya
buat isin,
malu,
dengan berbagai
predikat miring yang
dengan
asyik sedang
kita
sandang. So, dengan
ngesok
sebagai seorang
nasionalis,
apa
yang bisa
kita
buat menghadapi
segudang
keprihatinan
ini?
Itulah
yang sekarang
saya
pikir, sambil
menunggu
dokter
puskesmas yang belum
juga
muncul-muncul itu.
Ketika
perawat kurus
itu
akhirnya muncul,
berkatalah
ia
bahwa
pak dokter
sedang
besuk pasiennya
di RS
internasional. ''Besok
jika
tidak ada
halangan
pastilah
beliau
masuk. Tetapi
asma
bapak
kan
belum
begitu parah,''
katanya
enteng sambil
makan
nasi jinggo.
Abu Bakar
Jl.
Sakura I/12
Denpasar