Israel Nyatakan Sharon
Tidak
Mampu Permanen
Yerusalem-
Pemerintahan
Israel memberikan
sinyal formal
berakhirnya
penguasaan
lima
tahun Ariel Sharon
Selasa (11/4)
kemarin,
dan
menyatakan perdana
menteri yang
masih
dalam keadaan
koma
tersebut secara
permanen
sudah
tidak mampu.
Pengumuman
itu
disampaikan pada
sebuah
pertemuan kabinet.
Ehud
Olmert,
mengambil alih
kekuasaan
setelah
pendarahan otak
hebat
Sharon
pada 4
Januari lalu
dan
duduk pada pos
sebagai
pejabat perdana
menteri.
Olmert
setelah
partainya Kadima
menang
dalam pemilu
beberapa
waktu
lalu, saat
ini
melakukan sebuah
koalisi
baru pemerintah yang
akan
ditugaskan untuk
mengatur area
perbatasan
dari
negara Yahudi
dengan
menarik puluhan
ribu
pemukim keluar
dari
wilayah pendudukan
Tepi
Barat sebagai
kelanjutan
dari
keputusan Sharon untuk
menarik
Yahudi dari
Jalur Gaza
musim
panas lalu.
Perubahan
dalam status
ini
akan
berlaku
pada 14 April, saat
berakhirnya
periode 100
hari
seperti tercantum
pada
hukum setempat.
Keputusan
pemerintah
ini
dimajukan karena
liburan
satu pekan
lamanya
perayaan Paskah
kaum
Yahudi yang dimulai
Rabu.
Setelah
para
menteri secara
mutlak
mengesahkan langkah
tersebut,
Olmert
mengatakan
ia
berharap
jika
statusnya saat
ini
sebagai perdana
menteri
sementara tidak
disandangnya
untuk
jangka waktu yang
lama.
"Saya
berharap
keputusan
hari
ini akan
berlangsung
dalam
waktu pendek,"
katanya
kepada menterinya.
"Kita sibuk
untuk
membentuk pemerintahan
selanjutnya.
Saya
berharap
kami
dapat mengatur
dan
menyelesaikan tugas
ini
dengan cepat.
Menteri
kabinet Israel
Maimon
mengatakan kepada
wartawan
bahwa
masa dari
undang-undang
dasar
berarti "pemerintah
harus
menunjuk seseorang
dari
faksi perdana
menteri
sebagai penggantinya
hingga
pembentukan sebuah
pemerintahan
baru."
Ini
merupakan
aturan yang
sangat
sulit dan
menyedihkan
bagi
kami semua.
Kami
tidak pernah
berpikir
akan
mencapai
momen
seperti itu.
Kami
memberikan
doa dan
harapan
terbaik kepada
perdana
menteri, keluarga
dan
kerabatnya atas
kesembuhannya,"
kata
Maimon.
Sharon, yang menjadi
perdana
menteri pada
awal 2001,
mendominasi
sistem
perpolitikan Israel hingga
mengalami
pendarahan
otak
hebat.
Sebelum
itu ia
diharapkan
memimpin
partai
baru bernama
Kadima
untuk meraih
kemenangan
dalam
pemilu yang dilangsungkan
28 Maret
lalu.
Para
dokter
awalnya membuat
dirinya
koma namun
usaha-usaha
untuk
menyadarkannya pada
tiga
bulan terakhir
mengalami
kegagalan
meski
awalnya ada
respon
terhadap tes-tes
stimulus rasa
sakit.
Seorang
juru
bicara rumah
sakit Hadassah
Yerusalem,
Yael
Bossam-Levy, mengatakan
kepada
wartawan Selasa
kemarin
jika Sharon masih
dalam
keadaan "serius
namun
stabil."
(ton/afp)