Pinjaman Bank Dunia Angkat Rupiah
Jakarta (Bali Post) -
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot
antarbank pada perdagangan, Selasa (11/4) kemarin,
ditutup menguat lima poin ke level 8.985 dibanding
penutupan Jumat (7/4) di posisi 8.990. Penguatan ini
tidak terlepas dari komitment Bank Dunia memberikan
pinjaman 900 juta dolar AS.
Kondisi makro ekonomi dan politik di dalam negeri yang
cenderung membaik menimbulkan optimisme pemodal asing
untuk melakukan investasinya di Indonesia. Pada sesi
pagi, mata uang lokal itu sempat menguat ke level 8.965
per dolar AS dan ditransaksikan di kisaran 8.960/8.970
per dolar AS, atau menguat 25 poin jika dibandingkan
posisi penutupan Jumat lalu.
Di lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di
Bursa Efek Jakarta (BEJ), ditutup melemah tipis 3,171
poin (0,233 persen) ke level 1.360,127 akibat aksi ambil
untung (profit taking) terhadap beberapa saham papan
atas. Indeks LQ45 juga ditutup melemah 0,577 poin (0,191
persen) ke level 302,056. Sedangkan Jakarta Islamic
Index (JII) naik 0,830 poin (0,350 persen) ke posisi
237,966.
Penguatan nilai rukar rupiah ke level 8.975/8.990 per
dolar AS dan dipertahankannya BI Rate di level 12,75
persen masih menjadi sentimen positif pasar sehingga
IHSG bergerak di kisaran sempit. Selama sepekan lalu,
harga saham sektor keuangan seperti multifinance,
perbankan dan properti menguat menyusul rencana Bank
Indonesia (BI) menurunkan BI Rate pada kuartal kedua
2006.
Investor asing membeli saham sebanyak 389,987 juta unit
senilai Rp 801,494 milyar. Sedangkan transaksi jual
sebanyak 455,328 juta lembar saham senilai Rp687,568
milyar sehingga terjadi pembelian bersih Rp 113,926
milyar, atau turun dibandingkan Jumat (7/4) pekan lalu
sebesar Rp 140,131 milyar.
Sementara total volume perdagangan mencapai 1,330 milyar
saham senilai Rp 1,597 trilyun dengan frekuensi
perdagangan 15.005 kali. Terdapat 191 jenis saham yang
aktif diperdagangkan dengan rincian hanya 41 saham naik,
60 saham tetap (stagnan) dan 90 saham melemah.
(kmb2)