Dari
Diskusi
soal Papua dan
Harga
Diri --
Rakyat
Pertanyakan
ke Mana
Kekayaan
Alam
Mereka
DISKUSI
terkait
masalah Papua berlangsung
hangat
dengan tampilnya
sepuluh
wakil dari
kalangan
universitas
di
daerah tersebut
dalam seminar
bertajuk ''Papua,
Harga
Diri Bangsa
Indonesia'' yang
digelar Yayasan
Kepustakaan Bung
Karno,
Selasa (11/4) kemarin.
Ternyata
pangkal
keinginan warga Papua
untuk
merdeka dan
melepaskan
diri
dari NKRI tak
begitu
ruwet sebagaimana
yang dibayangkan.
Ketua
Kopertis
Wilayah XII Papua,
Salim
Yahya Tuharea
dan
rekannya Didimus Mote
sangat
sederhana menggambarkan
keadaan
wilayah dan
warga
mereka di
sana.
Warga
sangat miskin
dan
hidup dalam
kekurangan,
sementara
kekayaan Papua yang
dulu
bernama Irian
Jaya
begitu berlimpah. ''Ke
mana
semua itu,
kenapa
kami dibuat
menderita,''
ujar
mereka.
Menurut
Tuharea
maupun Mote, tak
banyak
sebenarnya keinginan
warga Papua.
Mereka
ingin hidup
makmur
seperti saudara
mereka
di belahan
wilayah RI
bagian
barat yang hidup
jauh
lebih baik. ''Berikan
kami
keadilan dan
menikmati
kekayaan
alam
kami,'' ujar
mereka
sederhana. Kalau
ini
sudah diwujudkan,
takkan
ada keinginan
untuk
melepaskan diri
dari Indonesia.
Mereka
mempertanyakan ke
mana
kekayaan alam
mereka
selama ini
dan
siapa yang menikmati.
Apa
yang dilontarkan
dua
tokoh Papua yang mewakili
sepuluh
rekannya dari
sesama
kalangan pendidikan
yang hadir
dalam
pertemuan itu
dinilai
hal wajar
oleh
peserta diskusi yang
sebagian
besar
juga dari
unsur
politik dan
pendidik.
Ketua
DPD PDI-P Bali Cok.
Ratmadi yang
mewakili DPP PDI-P
saat
membuka seminar mengatakan
sebenarnya
tak ada
alasan
pemerintah tidak
memberikan
perlakuan
adil
terhadap rakyat
Papua. Presiden
Soekarno
saat
berjuang membebaskan
daerah
ini dari
jajahan
Belanda bertekad
bersama
seluruh rakyat
Indonesia untuk
memerdekakan
Irian
Barat. Karena
itu,
Cok. Ratmadi
mengaku
kurang setuju
kalau
sampai terjadi
pemiskinan
di Papua. ''Ini
tak
sejalan dengan
reformasi,''
ujarnya.
Dikatakan,
reformasi
bukan
hanya terjadi
di
bidang politik.
Namun
juga di
seluruh
lapisan seperti
sosial
dan ekonomi.
Karenanya
sudah
seharusnya rakyat
Papua bisa
menikmati
hasil
kemerdekaan dan
kekayaan
alam
mereka. ''Ini yang
harus
kita perjuangkan,''
tambahnya.
Cok. Rat
sapaan
akrab Ratmadi
juga
mengingatkan kembali
akan
makna Bhineka
Tunggal
Ika.
Sementara
itu,
Ketua Yayasan
Kepustakaan Bung
Karno
Shri I.B. Darmika
Putra
Wedastera Suyasa,
S.T. dalam
makalah
tunggalnya mengatakan
usia
kemerdekaan bangsa
ini yang
telah
mencapai 61 tahun
ternyata
tak
menjamin bangsa
ini
benar-benar merdeka,
mandiri,
maju
dan bermartabat.
Sebab,
masih banyak
warga
di negeri
ini
hidup miskin
dan
terbelakang. Sebagaimana
halnya
terjadi di Papua.
Yang menyakitkan
lagi,
adanya kejadian yang
memperlihatkan
ketidakberdayaan
bangsa
ini ketika
sejumlah
daerahnya
terlepas
begitu
saja seperti
Timtim
dan kasus
Sipadan-Ligitan
serta
larinya 42 warga
Papua meminta
suaka
ke Australia. ''Kejadian
ini
sangat melukai
perasaan
dan
menginjak harga
diri
bangsa ini,''
ujar
Shri I.B. Wedastera.
Ditegaskan,
bangsa
ini memang
tengah
menghadapi ujian
berat
menyangkut kedaulatan
wilayahnya. ''Kita
tentu
tak menginginkan
Papua yang secara
historis
adalah
bagian tak
terpisahkan
dari NKRI
juga
lepas,'' tambahnya.
Lantas
di mana
tanggung
jawab
kita?
Shri
I.B. Dharmika
mengingatkan
roh
negara kesatuan
kita
sudah makin
terkikis.
Dalam
hal Papua sekarang
ini,
Pemerintah SBY dituntut
tegas
dan jelas
dalam
sikap. Tidak
membiarkan
aneka
wacana berseliweran
yang berpotensi
memunculkan
sikap
dan aksi-aksi
separatisme
dan
disintegratif. Pada
acara
tersebut, kepada
utusan Papua
diserahkan
bendera
merah putih.
(lit)