kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 12 April 2006

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Siswa HIV/AIDS jangan Disalahkan

* Buat Lembaga dan Lakukan Penelitian

SEDIKITNYA dua siswa SMA di Bali positif terkena HIV/AIDS. Masalah AIDS adalah sebuah fenomena gunung es. Di permukaan hanya tampak dua orang, tetapi kita tidak tahu berapa orang lagi di bawahnya yang tidak kelihatan. Pariwisata memberi pengaruh yang sangat besar, positif dan negatif. Positifnya lapangan kerja terbuka lebar, negatifnya para remaja terseret arus globalisasi, salah satunya pergaulan bebas. Remaja sekarang lebih senang menghabiskan waktu dengan sekadar nongkrong daripada membaca buku. Tak jarang akhirnya mereka salah langkah dengan melakukan pergaulan bebas yang menimbulkan risiko terkena HIV/AIDS. Orang-orang muda sekarang seringkali tidak percaya apa yang dikatakan agama dan nasihat-nasihat dari orangtua. Di sisi lain orangtua yang mapan di dalam karier sering tidak memperhatikan pergaulan anak-anaknya, karena mereka telah disibukkan oleh urusan pekerjaan. Orangtua hendaknya jangan hanya mencari harta dan memanjakan anak dengan materi, tetapi yang lebih penting pengawasan orangtua terhadap sepak terjang dan dengan siapa saja anak bergaul. Untuk siswa yang telah telanjur kena HIV/AIDS ini tidak usah disalahkan, walau mereka telah salah langkah. Sekarang pihak orangtua dan pihak terkait lainnya jangan tinggal diam, arahkan mereka dan bila terkena narkoba bawa ke panti rehabilitasi. Buatkan sebuah lembaga dan lakukan penelitian kenapa mereka sampai terkena penyakit semacam itu. Demikian antara lain wacana yang terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan di Radio Global FM 96,5, Selasa (11/4) kemarin. Acara ini juga direlai oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

---------------------------------------------

Agung Purnawijaya di Blahbatuh berpendapat pariwisata memberikan dampak yang sangat besar, positif dan negatif. Positifnya lapangan kerja terbuka lebar, negatifnya para remaja terseret arus globalisasi, salah satunya pergaulan bebas. Dalam hal ini peran penting orangtua sangat dibutuhkan untuk memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap anak. Orangtua hendaknya jangan hanya mencari harta dan memanjakan anak dengan materi, tetapi yang lebih penting pengawasan orangtua terhadap sepak terjang dan dengan siapa saja anak bergaul.

Menurut Dogler di Gianyar, masalah AIDS adalah sebuah fenomena gunung es. Di permukaan hanya tampak dua orang tetapi kita tidak tahu berapa orang lagi yang tidak kelihatan. Sekarang yang perlu kita ketahui adalah latar belakang dari dua siswa yang tekena AIDS ini. Apakah mereka kena dari jarum suntik narkoba atau dari hubungan seks bebas. Orangtua, guru dan masyarakat sekitar jangan hanya berpangku tangan, segera lakukan pencegahan dan orang-orang yang telah positif terkena agar bisa menahan diri supaya penyakit ini tidak menular lebih luas. Untuk dinas terkait agar tetap lakukan pengawasan, tetapi penderita tidak diperlakukan diskriminatif.

Agung Putra di Denpasar menambahkan, penyakit AIDS merupakan tantangan, berkah dan musibah. Berkah bagi oknum tertentu, karena dengan semakin banyaknya pengidap AIDS positif tentu akan mendatangkan bantuan dari negara-negara tertentu. Musibah bagi orangtua yang memiliki anak yang terkena. Tantangan bagi pihak terkait untuk mencegah supaya penularan penyakit tidak semakin meluas.

Made Lonto di Batubulan mengatakan, zaman memang tidak bisa diubah. Semua itu tergantung nasib, semua yang telah terjadi tidak usah disesali. Tetapi untuk ke depannya semua pihak harus mampu menjaga dan menahan diri masing-masing.

Sementara itu, Tati di Kuta mengajak untuk mencari tahu, kenapa sampai ada siswa yang mengidap penyakit mengerikan tersebut. Dari mana dan bagaimana penularannya, ini harus ditelusuri.

Natri dan Mursi di Denpasar mengharapkan siswa yang telanjur kena HIV/AIDS ini tidak usah disalahkan, walau mereka telah salah langkah. Sekarang pihak orangtua dan pihak terkait lainnya jangan tinggal diam, arahkan mereka dan bila terkena narkoba bawa ke panti rehabilitasi. Masyarakat di sekitar jangan mengucilkan ataupun menghindari mereka, karena HIV/AIDS tidak menular melalui sentuhan, kecuali melalui hubungan seks.

Menurut Suardana di Jimbaran, hal ini merupakan fenomena global. Anak-anak sekarang tidak cukup hanya diberikan materi tetapi perlu diajarkan moral. Pengarahan dan kasih sayang sangat perlu untuk mencegah anak salah pergaulan yang ujung-ujungnya menimbulkan petaka seperti mengidap HIV/AIDS. Tindakan nyata dari pihak terkait juga sangat penting. Misalnya memberikan penyuluhan dan sosialisasi ke masyarakat betapa penyakit ini mematikan dan hingga saat ini belum ada obatnya.

Yudi di Denpasar berpendapat, penyakit HIV/AIDS tidak hanya bisa ditularkan melalui jarum suntik atau hubungan seks, tetapi bisa juga melalui pisau cukur dan transfusi darah. Jadi mereka-mereka yang terkena penyakit ini tidak selalu mereka yang berperilaku buruk, tetapi mereka kena karena kelalaian orang lain.

Dewi di Denpasar menegaskan di era globalisasi ini pemahaman terhadap suatu masalah sangat penting, misalnya masalah HIV/AIDS. Remaja sekarang lebih senang menghabiskan waktu dengan sekadar nongkrong daripada membaca buku dan tak jarang akhirnya mereka salah langkah dengan melakukan pergaulan bebas yang menimbulkan risiko terkena AIDS. Orang-orang yang sudah telanjur kena HIV/AIDS dibuatkan sebuah lembaga dan dilakukan penelitian kenapa mereka sampai terkena penyakit semacam itu.

Pande di Pandak Gede dan Ketut Nasir di Denpasar menyampaikan, kemajuan teknologi ternyata tidak mampu menahan laju berbagai macam penyakit, tetapi justru memicu berkembangnya suatu penyakit seperti HIV/AIDS. Terkait dengan penyakit HIV/AIDS, ada beberapa faktor penyebab berjangkitnya penyakit tersebut, antara lain, orangtua yang mapan di dalam karier sering tidak memperhatikan pergaulan anak-anaknya, karena mereka telah disibukkan oleh urusan pekerjaan. Orang-orang muda sekarang seringkali tidak percaya apa yang dikatakan agama dan nasihat-nasihat dari orangtua. Solusinya, perlu peningkatan mutu SDM, dalam hal ini di Bali perlu lebih banyak diangkat guru-guru agama Hindu untuk memberikan wejangan-wejangan. Memberikan pendidikan seks kepada anak-anak dan remaja.
* wati

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)