Dari
Warung Global Interaktif Bali Post
Siswa HIV/AIDS jangan Disalahkan
* Buat Lembaga dan Lakukan Penelitian
SEDIKITNYA
dua siswa SMA di Bali positif terkena HIV/AIDS. Masalah
AIDS adalah sebuah fenomena gunung es. Di permukaan
hanya tampak dua orang, tetapi kita tidak tahu berapa
orang lagi di bawahnya yang tidak kelihatan. Pariwisata
memberi pengaruh yang sangat besar, positif dan negatif.
Positifnya lapangan kerja terbuka lebar, negatifnya para
remaja terseret arus globalisasi, salah satunya
pergaulan bebas. Remaja sekarang lebih senang
menghabiskan waktu dengan sekadar nongkrong daripada
membaca buku. Tak jarang akhirnya mereka salah langkah
dengan melakukan pergaulan bebas yang menimbulkan risiko
terkena HIV/AIDS. Orang-orang muda sekarang seringkali
tidak percaya apa yang dikatakan agama dan
nasihat-nasihat dari orangtua. Di sisi lain orangtua
yang mapan di dalam karier sering tidak memperhatikan
pergaulan anak-anaknya, karena mereka telah disibukkan
oleh urusan pekerjaan. Orangtua hendaknya jangan hanya
mencari harta dan memanjakan anak dengan materi, tetapi
yang lebih penting pengawasan orangtua terhadap sepak
terjang dan dengan siapa saja anak bergaul. Untuk siswa
yang telah telanjur kena HIV/AIDS ini tidak usah
disalahkan, walau mereka telah salah langkah. Sekarang
pihak orangtua dan pihak terkait lainnya jangan tinggal
diam, arahkan mereka dan bila terkena narkoba bawa ke
panti rehabilitasi. Buatkan sebuah lembaga dan lakukan
penelitian kenapa mereka sampai terkena penyakit semacam
itu. Demikian antara lain wacana yang terungkap dalam
acara Warung Global yang disiarkan di Radio Global FM
96,5, Selasa (11/4) kemarin. Acara ini juga direlai oleh
Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman
selengkapnya.
---------------------------------------------
Agung Purnawijaya di Blahbatuh berpendapat pariwisata
memberikan dampak yang sangat besar, positif dan negatif.
Positifnya lapangan kerja terbuka lebar, negatifnya para
remaja terseret arus globalisasi, salah satunya
pergaulan bebas. Dalam hal ini peran penting orangtua
sangat dibutuhkan untuk memberikan perhatian dan kasih
sayang terhadap anak. Orangtua hendaknya jangan hanya
mencari harta dan memanjakan anak dengan materi, tetapi
yang lebih penting pengawasan orangtua terhadap sepak
terjang dan dengan siapa saja anak bergaul.
Menurut Dogler di Gianyar, masalah AIDS adalah sebuah
fenomena gunung es. Di permukaan hanya tampak dua orang
tetapi kita tidak tahu berapa orang lagi yang tidak
kelihatan. Sekarang yang perlu kita ketahui adalah latar
belakang dari dua siswa yang tekena AIDS ini. Apakah
mereka kena dari jarum suntik narkoba atau dari hubungan
seks bebas. Orangtua, guru dan masyarakat sekitar jangan
hanya berpangku tangan, segera lakukan pencegahan dan
orang-orang yang telah positif terkena agar bisa menahan
diri supaya penyakit ini tidak menular lebih luas. Untuk
dinas terkait agar tetap lakukan pengawasan, tetapi
penderita tidak diperlakukan diskriminatif.
Agung Putra di Denpasar menambahkan, penyakit AIDS
merupakan tantangan, berkah dan musibah. Berkah bagi
oknum tertentu, karena dengan semakin banyaknya pengidap
AIDS positif tentu akan mendatangkan bantuan dari
negara-negara tertentu. Musibah bagi orangtua yang
memiliki anak yang terkena. Tantangan bagi pihak terkait
untuk mencegah supaya penularan penyakit tidak semakin
meluas.
Made Lonto di Batubulan mengatakan, zaman memang tidak
bisa diubah. Semua itu tergantung nasib, semua yang
telah terjadi tidak usah disesali. Tetapi untuk ke
depannya semua pihak harus mampu menjaga dan menahan
diri masing-masing.
Sementara itu, Tati di Kuta mengajak untuk mencari tahu,
kenapa sampai ada siswa yang mengidap penyakit
mengerikan tersebut. Dari mana dan bagaimana
penularannya, ini harus ditelusuri.
Natri dan Mursi di Denpasar mengharapkan siswa yang
telanjur kena HIV/AIDS ini tidak usah disalahkan, walau
mereka telah salah langkah. Sekarang pihak orangtua dan
pihak terkait lainnya jangan tinggal diam, arahkan
mereka dan bila terkena narkoba bawa ke panti
rehabilitasi. Masyarakat di sekitar jangan mengucilkan
ataupun menghindari mereka, karena HIV/AIDS tidak
menular melalui sentuhan, kecuali melalui hubungan seks.
Menurut Suardana di Jimbaran, hal ini merupakan fenomena
global. Anak-anak sekarang tidak cukup hanya diberikan
materi tetapi perlu diajarkan moral. Pengarahan dan
kasih sayang sangat perlu untuk mencegah anak salah
pergaulan yang ujung-ujungnya menimbulkan petaka seperti
mengidap HIV/AIDS. Tindakan nyata dari pihak terkait
juga sangat penting. Misalnya memberikan penyuluhan dan
sosialisasi ke masyarakat betapa penyakit ini mematikan
dan hingga saat ini belum ada obatnya.
Yudi di Denpasar berpendapat, penyakit HIV/AIDS tidak
hanya bisa ditularkan melalui jarum suntik atau hubungan
seks, tetapi bisa juga melalui pisau cukur dan transfusi
darah. Jadi mereka-mereka yang terkena penyakit ini
tidak selalu mereka yang berperilaku buruk, tetapi
mereka kena karena kelalaian orang lain.
Dewi di Denpasar menegaskan di era globalisasi ini
pemahaman terhadap suatu masalah sangat penting,
misalnya masalah HIV/AIDS. Remaja sekarang lebih senang
menghabiskan waktu dengan sekadar nongkrong daripada
membaca buku dan tak jarang akhirnya mereka salah
langkah dengan melakukan pergaulan bebas yang
menimbulkan risiko terkena AIDS. Orang-orang yang sudah
telanjur kena HIV/AIDS dibuatkan sebuah lembaga dan
dilakukan penelitian kenapa mereka sampai terkena
penyakit semacam itu.
Pande di Pandak Gede dan Ketut Nasir di Denpasar
menyampaikan, kemajuan teknologi ternyata tidak mampu
menahan laju berbagai macam penyakit, tetapi justru
memicu berkembangnya suatu penyakit seperti HIV/AIDS.
Terkait dengan penyakit HIV/AIDS, ada beberapa faktor
penyebab berjangkitnya penyakit tersebut, antara lain,
orangtua yang mapan di dalam karier sering tidak
memperhatikan pergaulan anak-anaknya, karena mereka
telah disibukkan oleh urusan pekerjaan. Orang-orang muda
sekarang seringkali tidak percaya apa yang dikatakan
agama dan nasihat-nasihat dari orangtua. Solusinya,
perlu peningkatan mutu SDM, dalam hal ini di Bali perlu
lebih banyak diangkat guru-guru agama Hindu untuk
memberikan wejangan-wejangan. Memberikan pendidikan seks
kepada anak-anak dan remaja.
* wati