Petani Rumput Laut pun Terkalahkan
PENGAMAT
lingkungan Ir. Nyoman Gelebet dalam sebuah pertemuan
membahas nasib petani rumput laut yang terancam tergusur
di kawasan Nusa Dua dan sekitarnya sempat mengaku
prihatin dengan perkembangan yang terjadi. Gelebet
membeberkan, awalnya ketika kawasan itu bakal dijadikan
kawasan pariwisata, berbagai harapan muncul karena
janji-janji manis untuk rakyat setempat.
Pasalnya, sejumlah agenda pembangunan yang bisa membawa
kemajuan bagi masyarakat ditawarkan. Bahkan, untuk
perbaikan SDM masyarakat di sana, pemerintah lantas
membangun sekolah pariwisata (kini STP Nusa Dua).
Tujuannya tak lain ketika pariwisata di sana bergerak,
SDM rakyat telah siap menyambutnya.
Namun, yang terjadi sebaliknya. Janji manis kehadiran
sekolah pariwisata itu hanya sebatas angan-angan. Bahkan,
janji awal sekolah itu akan melihatkan warga sekitar
termasuk sebagai stakeholder tak ada realisasinya. Yang
paling ekstrem saat ini justru siswa yang dididik di
sekolah itu kebanyakan bukan orang setempat.
Kondisi yang tak kalah memprihatinkan justru dialami
warga lokal yang selama ini hidup dari hasil laut
sebagai petani rumput laut. Pasalnya lahan pesisir yang
selama ini bisa dijadikan budi daya rumput laut harus
ditinggalkan. Kebijakan pemerintah menetapkan kawasan
itu sebagai lokasi pariwisata membuat investor yang
menguasai lahan tanpa ampun minta nelayan menyingkir
dari pantai bening nan indah itu.
Dalam dialog antara petani rumput laut Sawangan, Nusa
Dua dengan investor mengemuka kalau kehadiran petani
rumput laut bisa mengganggu wisatawan yang lagi
asyik-masyuk menikmati pantai. Sebaliknya petani yang
sejak lama bergantung urat perutnya dari tanaman rumput
laut di pantai itu justru melihat lahan tersebut sangat
potensial.
Namun, aturan akhirnya mengalahkan mereka, sang penduduk
asli yang terpaksa menyingkir secara tak ikhlas dan
sangat terpaksa karena tak punya kekuatan sekelas
pemerintah, apalagi investor yang menjadi penguasa
kawasan itu.
(lit)