Warung
Global
Penyelenggaraan
PAB jangan
hanya
Jalankan
Kewajiban
Pekan
Apresiasi
Budaya (PAB)
selama
ini masih
terkesan
diproyeksikan
hanya
bagi kalangan
masyarakat
tertentu.
Tak
heran,
catatan PAB di
daerah
ini masih
jauh
dari harapan.
Dalam
hal ini,
PAB harus
menyentuh
seluruh
lapisan masyarakat.
Panitia
penyelenggara,
sebelum
menyelenggarakan PAB
disarankan melakukan
survai
terlebih dahulu.
Penyelenggaraan PAB
jangan
hanya untuk
menjalankan
kewajiban
semata.
Demikian beberapa
opini yang
mengemuka
dalam program
Warung Global
dengan
tema, ''Catatan PAB
Semuanya
Merah''
disiarkan Radio Global FM
Lombok, 96,7,
Rabu (29/3).
-----------
PENGUNJUNG
pertama
Warung Global Anto
di
Tanjung mengatakan
Gubernur
sebagai
pemimpin tertinggi
di
daerah harus
mau
mengakui dengan
jujur,
bahwa catatan PAB NTB
masih
jauh dari
harapan.
Menurutnya,
Gubernur
tidak
perlu malu
dengan
catatan PAB yang masih
rendah
di daerah
ini.
''Gubernur
tidak
perlu malu.
Kalau
memang catatannya
buruk
ya harus
diakui,''
pintanya
seraya
menambahkan, bantahan
Gubernur NTB,
dikarenakan
kekhawatiran
terhadap
nama
baik NTB
di mata
wisatawan.
''Pihak yang
berkompeten
di
dalamnya harus
mampu
mengubah PAB menjadi
lebih
baik,'' ungkap
pengunjung yang
berpartisipasi via SMS
terkait
dengan catatan PAB
yang selalu
merah.
Sementara
itu, Aden
di
Mataram melihat
buruknya
catatan PAB
disebabkan
masyarakat NTB yang
sudah
tak mengenal
budayanya
sendiri.
Menurutnya,
budaya
barat justru
lebih
banyak dianut
masyarakat
mulai
dari pergaulan
hingga
berpakaian. ''Ini
tandanya
masyarakat NTB
lebih
mengenal budaya
barat.
Kita
bisa
lihat dari
pergaulan,
berpakaian
dan
perkataannya,'' ujarnya.
Hal yang sama
disampaikan
Afin di
Kawo,
Pujut Lombok
Tengah.
Menurut Afin,
masuknya
budaya
barat membuat
budaya
Lombok
(baca
: NTB) terkikis.
Indikasinya,
adanya
anggapan budaya
daerah
sebagai budaya
kampungan.
Anggapan
ini
semakin memposisikan
budaya
daerah berada
di
bawah budaya
barat.
''Kita bisa
lihat
masyarakat sudah
tidak
menghargai dan
mencintai
budayanya
sendiri,''
katanya.
Putra
Selaparang
di
Cakranegara mengatakan,
lemahnya
sosialisasi
turut
memberi andil PAB
kurang
mendapat tempat
di hati
masyarakat.
Ia
sendiri
sebagai orang yang
selalu
bergelut di
bidang
seni mengaku
kurang
begitu paham
dengan PAB.
Tak
heran
bila kemudian PAB
kurang
mampu menyentuh
masyarakat. ''Saya
sebagai
pelaku seni
juga
kurang begitu
paham
dengan PAB yang
diselenggarakan selama
ini,''
ujarnya penuh
tanda
tanya.
Putra
Selaparang
menambahkan, PAB
cenderung
terkesan
diproyeksikan
untuk
kalangan masyarakat
tertentu.
Tak
heran,
catatan PAB di
daerah
ini masih
jauh
dari yang diharapkan.
''PAB harus
menyentuh
seluruh
lapisan masyarakat,''
cetusnya.
Sebelum
menyelengarakan PAB,
ia
menyarankan
penyelenggara
melakukan
survei
terlebih dahulu.
''Penyelenggara
harus
mau turun
ke
lapangan.
Jangan
mengadakan PAB
hanya
untuk menjalankan
kewajiban
saja,''
katanya mengingatkan.
I
Gede
Mandia di
Mataram,
menyarankan agar
dalam
penyelenggaraan PAB mampu
merebut
simpati masyarakat
di
daerah ini.
Ini
penting, agar
masyarakat
merasa
memiliki PAB. ''Yang
diperlukan
dalam PAB
adalah
upaya untuk
merebut
simpati masyarakat
agar merasa
memilikinya,''
kata
Mandia.
Dicontohkannya,
bagaimana
pelaksanaan
pawai
ogoh-ogoh sudah
begitu
menyatu dengan
masyarakat,
sehingga
dana
bukan
lagi menjadi
masalah.
Menches
di
Lombok Timur
mengatakan
catatan PAB yang
buruk
akibat minimnya
kreasi
dari seniman
di
daerah ini.
Seniman
tidak
punya banyak
waktu
untuk menuangkan
bakatnya
berupa
karya seni.
''Bagaimana
catatan PAB
mau
hitam kalau
seniman
masih sibuk
cari
duit.
Seniman
tidak
punya banyak
waktu
untuk berkreasi,''
tuturnya.
(win/ham)
Klik di
Sini