kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 1 April 2006

 Nusatenggara


Warung
Global
Penyelenggaraan
PAB jangan hanya Jalankan Kewajiban 

Pekan Apresiasi Budaya (PAB) selama ini masih terkesan diproyeksikan hanya bagi kalangan masyarakat tertentu. Tak heran, catatan PAB di daerah ini masih jauh dari harapan. Dalam hal ini, PAB harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Panitia penyelenggara, sebelum menyelenggarakan PAB disarankan melakukan survai terlebih dahulu. Penyelenggaraan PAB jangan hanya untuk menjalankan  kewajiban semata. Demikian beberapa opini yang mengemuka dalam program Warung Global dengan tema, ''Catatan PAB Semuanya Merah'' disiarkan Radio Global FM Lombok, 96,7, Rabu (29/3).

-----------

PENGUNJUNG pertama Warung Global Anto di Tanjung mengatakan Gubernur sebagai pemimpin tertinggi di daerah harus mau mengakui dengan jujur, bahwa catatan PAB NTB masih jauh dari harapan. Menurutnya, Gubernur tidak perlu malu dengan catatan PAB yang masih rendah di daerah ini. ''Gubernur tidak perlu malu. Kalau memang catatannya buruk ya harus diakui,'' pintanya seraya menambahkan, bantahan Gubernur NTB, dikarenakan kekhawatiran terhadap nama baik NTB di mata wisatawan.

''Pihak yang berkompeten di dalamnya harus mampu mengubah PAB menjadi lebih baik,'' ungkap pengunjung yang berpartisipasi via SMS terkait dengan catatan PAB yang selalu merah. Sementara itu, Aden di Mataram melihat buruknya catatan PAB disebabkan masyarakat NTB yang sudah tak mengenal budayanya sendiri. Menurutnya, budaya barat justru lebih banyak dianut masyarakat mulai dari pergaulan hingga berpakaian. ''Ini tandanya masyarakat NTB lebih mengenal budaya barat. Kita bisa lihat dari pergaulan, berpakaian dan perkataannya,'' ujarnya.

Hal yang sama disampaikan Afin di Kawo, Pujut Lombok Tengah. Menurut Afin, masuknya budaya barat membuat budaya Lombok (baca : NTB) terkikis. Indikasinya, adanya anggapan budaya daerah sebagai budaya kampungan. Anggapan ini semakin memposisikan budaya daerah berada di bawah budaya barat. ''Kita bisa lihat masyarakat sudah tidak menghargai dan mencintai budayanya sendiri,'' katanya.

Putra Selaparang di Cakranegara mengatakan, lemahnya sosialisasi turut memberi andil PAB kurang mendapat tempat di hati masyarakat. Ia sendiri sebagai orang yang selalu bergelut di bidang seni mengaku kurang begitu paham dengan PAB. Tak heran bila kemudian PAB kurang mampu menyentuh masyarakat. ''Saya sebagai pelaku seni juga kurang begitu paham dengan PAB yang diselenggarakan selama ini,'' ujarnya penuh tanda tanya.

Putra Selaparang menambahkan, PAB cenderung terkesan diproyeksikan untuk kalangan masyarakat tertentu. Tak heran, catatan PAB di daerah ini masih jauh dari yang diharapkan. ''PAB harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat,'' cetusnya.

Sebelum menyelengarakan PAB, ia menyarankan penyelenggara melakukan survei terlebih dahulu. ''Penyelenggara harus mau turun ke lapangan. Jangan mengadakan PAB hanya untuk menjalankan kewajiban saja,'' katanya mengingatkan.

 

I Gede Mandia di Mataram, menyarankan agar dalam penyelenggaraan PAB mampu merebut simpati masyarakat di daerah ini. Ini penting,  agar masyarakat merasa memiliki PAB. ''Yang diperlukan dalam PAB adalah upaya untuk merebut simpati masyarakat agar merasa memilikinya,'' kata Mandia.

Dicontohkannya, bagaimana pelaksanaan pawai ogoh-ogoh sudah begitu menyatu dengan masyarakat, sehingga dana bukan lagi menjadi masalah.

Menches di Lombok Timur mengatakan catatan PAB yang buruk akibat minimnya kreasi dari seniman di daerah ini. Seniman tidak punya banyak waktu untuk menuangkan bakatnya berupa karya seni. ''Bagaimana catatan PAB mau hitam kalau seniman masih sibuk cari duit. Seniman tidak punya banyak waktu untuk berkreasi,'' tuturnya. (win/ham)

Klik di Sini

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)