Hari
Nyepi
tak Lagi
Sepi ---
Rumah
dan
Gudang Dilempari
Semarapura
(Bali Post) -
Perayaan
Nyepi
di Klungkung
ternoda.
Saat
umat Hindu
khusyuk
melaksanakan tapabrata,
terjadi
aksi pelemparan
rumah
di dua
lokasi
berbeda oleh
oknum
tak bertanggung
jawab.
Pertama,
terjadi
pelemparan rumah
salah
satu keluarga
brahmana
di
Banjar Kaleran,
Tusan,
Banjarangkan, Kamis
(30/3) malam.
Satunya
lagi
terjadi pelemparan
sebuah
gudang rongsokan
di
Jalan Gusti
Ngurah
Rai, Semarapura
Kauh,
Klungkung, Rabu
(29/3) malam.
Informasi
warga
di masing-masing TKP
menyebutkan
kedua
aksi pelemparan
itu
terjadi akibat
kesalahpahaman.
Di
Banjar
Kaleran, Tusan
misalnya,
sekitar
pukul 20.00 wita
saat
pengerupukan, warga
mengarak
ogoh-ogoh.
Saat
melintas
di
depan
rumah
keluarga IB Cahaya
(31) (korban-red),
tanpa
alasan jelas,
beberapa
warga
menggulingkan dua
drum berisi
minyak yang
ada di
depan
warung korban.
Melihat
gelagat
kurang baik,
korban
mengambil drum tersebut
kemudian
memasukkan
ke
dalam rumahnya.
Korban
juga
menghubungi kerabatnya
untuk
berjaga-jaga.
Diperkirakan,
peristiwa
itu
terjadi berkaitan
dengan
kasus adat yang
sampai
kini belum
terselesaikan
secara
tuntas.
Setelah
melewati
siang
hari (Nyepi)
tanpa
kejadian apa-apa,
dalam
kondisi sepi
tanpa
aktivitas, listrik
juga
padam, sekitar
pukul 23.45
wita,
tiba-tiba terdengar
bunyi
lemparan secara
bertubi-tubi
ke arah
rumah yang
dijaga
sekitar 8 kerabat
korban
itu.
Melihat
batu
berjatuhan, mereka
sontak
terbangun sekaligus
menghidupkan
lampu.
Begitu
lampu
dihidupkan, secara
samar-samar
dilihat
sejumlah warga
berlarian
menuju
tempat yang lebih
gelap.
Korban
langsung
menghubungi
Polsek
Banjarangkan.
Menerima
laporan
itu, sejumlah
personel
diterjunkan yang
dipimpin
langsung
Kapolsek, AKP Made
Widiarta.
Sejumlah
personel
Polres
Klungkung juga
tiba di
TKP.
Polisi
mengidentifikasi TKP
dengan
mengumpulkan batu
bekas
lemparan sebagai
barang
bukti. Selain
batu,
juga ditemukan
bom
molotov yang
belum
meledak. ''Sedikitnya,
14 biji
batu dan
dua bom
molotof yang
kami
amankan saat
ini,''
ungkap Kapolsek
seizin
Kapolres Jumat (31/3)
kemarin.
Dikatakan,
dari
dua bom
molotov
itu,
satu ditemukan
di
halaman rumah
korban
dan satu
lagi di
atap
rumah.
Sementara
itu,
pelemparan gudang
rongsokan
di
Jalan Gusti
Ngurah
Rai, berawal
karena
kesalahpahaman.
Sekitar
pukul 20.00
wita,
Rabu (29/3), warga
Besang
mengarak ogoh-ogoh
keliling
desa.
Korban
(Tasim-red)
salah
seorang pengumpul
rongsokan,
juga
asyik menonton
ogoh-ogoh
tersebut
bersama
anaknya yang masih
kecil.
Saking
menikmati, anak
korban
masuk dalam
barisan
pengarak ogoh-ogoh
bergabung
dengan
anak-anak yang lain.
Korban
mencoba
menarik anaknya
untuk
keluar dari
barisan.
Karena
terlalu keras,
tarikan
korban ternyata
mengenai
anak yang lain
sampai
menangis.
Ketika
ditanyai
oleh
warga, si
anak
itu mengaku
dipukul.
Tidak
terjadi
apa-apa saat
itu.
Usai
mengarak
ogoh-ogoh.
Sejumlah
warga
ternyata kembali
mendatangi
gudang
rongsokan itu
seraya
melemparinya dengan
batu.
Merasa
tidak
aman, pemilik
rongsokan
langsung
menghubungi
Polres
Klungkung.
Bersama
sejumlah
personelnya,
Kapolres AKBP
Hotman
Simatupang langsung
turun
mengamankan TKP.
Sekaligus
memfasilitasi
pertemuan
antara
warga dengan
pemilik
gudang.
''Kasusnya
sudah
diselesaikan secara
musyawarah,''
tandas
Kasat Reskrim, AKP
Gde
Nyoman Arta.
Musyawarah
dilakukan
di
Mapolres dengan
Kapolres
sebagai
fasilitator.
Di
Tabanan
Kekhawatiran
akan
terjadinya
gesekan
di beberapa
titik
rawan saat
berlangsungnya
pawai
ogoh-ogoh ternyata
terbukti.
Di
Dusun Gablogan,
Brembeng,
Selemadeg,
Kamis (30/3)
lalu
sekitar pukul 01.30
wita,
terjadi perusakan
dua
sanggah cucuk
dan
penjor milik
korban I Made
Sudana
dan I Nyoman
Suanda
warga setempat.
Kapolsek
Selemadeg AKP I Made
Artana
seizin Kapolres
Tabanan
menyatakan kejadian
itu
cepat ditangani
oleh
petugas kepolisian
dan
para pengurus
desa
juga cepat
melakukan
tindakan
pengamanan.
Di
Kota Tabanan
dan
sekitarnya pawai
ogoh-ogoh
berlangsung
sekitar
pukul 17.00 wita
hingga 20.00
wita
Rabu (29/3) lalu.
Menariknya,
pawai
tidak hanya
diikuti
oleh pemuda
atau
orang dewasa
anak-anak pun
tidak
ketinggalan berpartisipasi.
Seperti
di
Banjar Lumajang,
anak-anak
dibuatkan
ogoh-ogoh
khusus yang
berukuran mini yang
diarak
oleh sesama
anak.
Kapolres
Tabanan AKBP Rudolf A.
Rodja
Jumat (31/3) kemarin,
menyatakan
secara
umum pelaksanaan
pawai
ogoh-ogoh berlangsung
aman
dan lancar.
Sementara
Ketua
Majelis Madya
Desa
Pakraman Kabupaten
Tabanan IGM
Purnayasa
menyatakan
secara
umum dinilainya
situasi
cukup baik,
walau
ia
mengaku
mendengar ada
beberapa
riak-riak
kecil
di seputar
pelaksanaannya.
Sementara
itu,
suasana hari
raya
Nyepi di
Jembrana
berlangsung
khidmat.
Hal ini
berkat kesadaran
warga
dan terjalinnya
kerja
sama
antar-umat
beragama.
Walaupun
demikian,
petugas
tetap stand by selama
perayaan
Nyepi.
Kapolres
Jembrana AKBP
Setyo
Dwiantoro mengatakan
untuk
pengamanan hari
raya
Nyepi, Polres
menyiapkan 500
personel.
Pengamanan
ini
berkoordinasi dengan
Satpol PP (380),
pihak ASDP
Gilimanuk (10),
Syahbandar
Gilimanuk (10),
tim
kesehatan (10), PMK (20),
dan
pecalang (300).
(kmb20/upi/kmb19)