kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 1 April 2006

 Bali


Hari
Nyepi tak Lagi Sepi ---
Rumah
dan Gudang Dilempari 

Semarapura (Bali Post) -
Perayaan
Nyepi di Klungkung ternoda. Saat umat Hindu khusyuk melaksanakan tapabrata, terjadi aksi pelemparan rumah di dua lokasi berbeda oleh oknum tak bertanggung jawab.

Pertama, terjadi pelemparan rumah salah satu keluarga brahmana di Banjar Kaleran, Tusan, Banjarangkan, Kamis (30/3) malam. Satunya lagi terjadi pelemparan sebuah gudang rongsokan di Jalan Gusti Ngurah Rai, Semarapura Kauh, Klungkung, Rabu (29/3) malam. Informasi warga di masing-masing TKP menyebutkan kedua aksi pelemparan itu terjadi akibat kesalahpahaman.

Di Banjar Kaleran, Tusan misalnya, sekitar pukul 20.00 wita saat pengerupukan, warga mengarak ogoh-ogoh. Saat melintas di depan rumah keluarga IB Cahaya (31) (korban-red), tanpa alasan jelas, beberapa warga menggulingkan dua drum berisi minyak yang ada di depan warung korban.

Melihat gelagat kurang baik, korban mengambil drum tersebut kemudian memasukkan ke dalam rumahnya. Korban juga menghubungi kerabatnya untuk berjaga-jaga. Diperkirakan, peristiwa itu terjadi berkaitan dengan kasus adat yang sampai kini belum terselesaikan secara tuntas.

Setelah melewati siang hari (Nyepi) tanpa kejadian apa-apa, dalam kondisi sepi tanpa aktivitas, listrik juga padam, sekitar pukul 23.45 wita, tiba-tiba terdengar bunyi lemparan secara bertubi-tubi ke arah rumah yang dijaga sekitar 8 kerabat korban itu.

Melihat batu berjatuhan, mereka sontak terbangun sekaligus menghidupkan lampu. Begitu lampu dihidupkan, secara samar-samar dilihat sejumlah warga berlarian menuju tempat yang lebih gelap. Korban langsung menghubungi Polsek Banjarangkan.

Menerima laporan itu, sejumlah personel diterjunkan yang dipimpin langsung Kapolsek, AKP Made Widiarta. Sejumlah personel Polres Klungkung juga tiba di TKP. Polisi mengidentifikasi TKP dengan mengumpulkan batu bekas lemparan sebagai barang bukti. Selain batu, juga ditemukan bom molotov yang belum meledak. ''Sedikitnya, 14 biji batu dan dua bom molotof yang kami amankan saat ini,'' ungkap Kapolsek seizin Kapolres Jumat (31/3) kemarin. Dikatakan, dari dua bom molotov itu, satu ditemukan di halaman rumah korban dan satu lagi di atap rumah.

Sementara itu, pelemparan gudang rongsokan di Jalan Gusti Ngurah Rai, berawal karena kesalahpahaman. Sekitar pukul 20.00 wita, Rabu (29/3), warga Besang mengarak ogoh-ogoh keliling desa. Korban (Tasim-red) salah seorang pengumpul rongsokan, juga asyik menonton ogoh-ogoh tersebut bersama anaknya yang masih kecil. Saking menikmati, anak korban masuk dalam barisan pengarak ogoh-ogoh bergabung dengan anak-anak yang lain. Korban mencoba menarik anaknya untuk keluar dari barisan. Karena terlalu keras, tarikan korban ternyata mengenai anak yang lain sampai menangis. Ketika ditanyai oleh warga, si anak itu mengaku dipukul. Tidak terjadi apa-apa saat itu.

Usai mengarak ogoh-ogoh. Sejumlah warga ternyata kembali mendatangi gudang rongsokan itu seraya melemparinya dengan batu. Merasa tidak aman, pemilik rongsokan langsung menghubungi Polres Klungkung. Bersama sejumlah personelnya, Kapolres AKBP Hotman Simatupang langsung turun mengamankan TKP. Sekaligus memfasilitasi pertemuan antara warga dengan pemilik gudang.

''Kasusnya sudah diselesaikan secara musyawarah,'' tandas Kasat Reskrim, AKP Gde Nyoman Arta. Musyawarah dilakukan di Mapolres dengan Kapolres sebagai fasilitator.

Di Tabanan

Kekhawatiran akan terjadinya gesekan di beberapa titik rawan saat berlangsungnya pawai ogoh-ogoh ternyata terbukti. Di Dusun Gablogan, Brembeng, Selemadeg, Kamis (30/3) lalu sekitar pukul 01.30 wita, terjadi perusakan dua sanggah cucuk dan penjor milik korban I Made Sudana dan I Nyoman Suanda warga setempat. Kapolsek Selemadeg AKP I Made Artana seizin Kapolres Tabanan menyatakan kejadian itu cepat ditangani oleh petugas kepolisian dan para pengurus desa juga cepat melakukan tindakan pengamanan. 

Di Kota Tabanan dan sekitarnya pawai ogoh-ogoh berlangsung sekitar pukul 17.00 wita hingga 20.00 wita Rabu (29/3) lalu. Menariknya, pawai tidak hanya diikuti oleh pemuda atau orang dewasa anak-anak pun tidak ketinggalan berpartisipasi.  Seperti di Banjar Lumajang, anak-anak dibuatkan ogoh-ogoh khusus yang berukuran mini yang diarak oleh sesama anak.

Kapolres Tabanan AKBP Rudolf A. Rodja Jumat (31/3) kemarin, menyatakan secara umum pelaksanaan pawai ogoh-ogoh berlangsung aman dan lancar. Sementara Ketua Majelis Madya Desa Pakraman Kabupaten Tabanan IGM Purnayasa menyatakan secara umum dinilainya situasi cukup baik, walau ia mengaku mendengar ada beberapa riak-riak kecil di seputar pelaksanaannya.

Sementara itu, suasana hari raya Nyepi di Jembrana berlangsung khidmat. Hal ini berkat kesadaran warga dan terjalinnya kerja sama antar-umat beragama. Walaupun demikian, petugas tetap stand by selama perayaan Nyepi.

Kapolres Jembrana AKBP Setyo Dwiantoro mengatakan untuk pengamanan hari raya Nyepi, Polres menyiapkan 500 personel. Pengamanan ini berkoordinasi dengan Satpol PP (380), pihak ASDP Gilimanuk (10), Syahbandar Gilimanuk (10), tim kesehatan (10), PMK (20), dan pecalang (300).

(kmb20/upi/kmb19)

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)