kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 1 April 2006

 Bali


Dari Warung Global Interaktif Bali Post---

Mari Bangkit di Tahun Baru Caka 1928 

Hari Pengrupukan dan hari raya Nyepi adalah prosesi ritual yang dilakukan umat Hindu setahun sekali. Suatu event yang sangat penting dalam pendidikan moralitas dan kesadaran sebagai umat manusia, yang diharapkan dapat melahirkan manusia yang bermoral dan beretika. Selalu eling ring raga. Merenungkan apa yang telah kita perbuat di hari yang lalu dan apa yang akan kita perbuat di hari hari yang akan datang. Pada dasarnya pengendalian diri sangat ditekankan untuk menghindari sifat-sifat bhuta kala, dan itu bisa dilakukan dengan membaca kitab suci, bergaul dengan orang suci dan makan makanan yang bersifat suci. Dengan cara demikian tidak akan terperosok ke dalam sifat-sifat bhuta kala. Umat Hindu diharapkan benar-benar menghayati dan melaksanakan tat twam asi dan Trikaya Parisudha, mawas diri, jangan membuat masalah dengan saudara sendiri. Pengalaman-pengalaman kelam di masa lalu dikubur dan dijadikan pelajaran berharga. Di tahun yang baru, mari bangkit dengan semangat yang baru untuk Bali lebih baik. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan secara langsung oleh Radio Global FM 96,5, Rabu (29/3). Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya

==========================================================

 

Suardana di Jimbaran dan Agung Adnyana di Denpasar mengatakan pengrupukan dan Nyepi adalah sebuah hari suci yang selalu mengingatkan kita untuk pelatihan dalam proses pengendalian dan meningkatkan kualitas diri. Selalu eling ring raga. Pada saat hari Nyepi hendaknya kita renungkan apa yang telah kita perbuat di hari yang lalu dan apa yang akan kita perbuat di hari hari yang akan datang.

 

Sementara Dewa Aji Linggih di Pacung Bitra Gianyar menyatakan semua yang terjadi adalah tergantung dari manusia itu sendiri. Diimbau kepada pengusung ogoh-ogoh untuk melakukan persembahyangan dan tidak minum miras sebelum melakukan arak-arakan. Dengan menahan diri kita ciptakan Bali aman dan tenteram.

 

Widi di Denpasar berpendapat di hari yang suci ini kita harus benar-benar bisa mengendalikan diri agar suasana hari suci tidak ternoda. Untuk pembuatan ogoh-ogoh ini sebenarnya hal yang sangat positif dan bisa sebagai sarana promosi pariwisata, tetapi pada saat pengarakan, di sinilah kita dituntut untuk lebih bisa menahan diri dari godaan untuk menghindari keributan yang dapat menodai perayaan Nyepi.

 

Agung Purnawijaya di Denpasar mengajak seluruh umat Hindu untuk lebih mawas diri, jangan membuat masalah dengan saudara sendiri. Pengalaman-pengalaman kelam di masa lalu dikubur dan dijadikan pelajaran berharga. Di tahun yang baru, mari bangkit dengan semangat yang baru untuk Bali lebih baik.

 

Ketut Kari di Songan melihat pelaksanaan upacara pengrupukan saat ini telah bejalan dengan baik, ini disebabkan karena masing-masing orang sadar dan mampu untuk menahan diri dan menghindari hal-hal yang dapat memicu keributan.

 

Sementara Pande di Pandak Gede menambahkan, hari pengrupukan dan hari raya Nyepi adalah prosesi ritual yang dilakukan umat Hindu setahun sekali. Suatu event yang sangat penting dalam pendidikan moralitas dan kesadaran sebagai umat manusia, yang diharapkan dapat melahirkan manusia yang bermoral dan beretika. Untuk menghindari terjadinya penodaan, perlu dilakukan pengamanan oleh pihak pecalang dengan pihak aparat terkait.

 

Hal senada diungkapkan Putu Andai dan Aji Alep di Tabanan, budaya tetap dilestarikan tetapi perlu diawasi dengan ketat, melakukan koordinasi dengan pihak terkait dan harus ada yang bertanggung jawab untuk pengamanan terkait dengan pengarakan ogoh-ogoh yang dikatakan sering sebagai pemicu keributan. Dalam hal ini jangan biarkan para pemuda untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Aparat desa harus mengawasi dan bertindak bijaksana di dalam mencegah timbulnya masalah.

 

Nang Tut Su di Tabanan mengatakan pada dasarnya pengendalian diri sangat ditekankan untuk menghindari sifat-sifat bhuta kala. Dan, itu bisa dilakukan dengan membaca kitab suci, bergaul dengan orang suci dan makan makanan yang bersifat suci. Dengan cara demikian tidak akan terperosok ke dalam sifat-sifat bhuta kala.

 

Agus Jering di Singaraja dan Sumawa di Kintamani mengharapkan, sebagai umat Hindu di dalam melakukan tapa brata penyepian betul-betul dapat dijalankan dengan baik. Untuk menciptakan suasana aman, saat pengusungan ogoh-ogoh perlu dilakukan komunikasi dan koordinasi antara banjar yang satu dengan yang lain supaya tidak mengalami kendala- kendala antardesa adat.

 

Menurut Ida Bagus Rai di Denpasar, yang paling penting dilakukan adalah pengendalian diri, benar-benar menghayati dan melaksanakan tat twam asi dan trikaya parisudha.

* wati

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)