Dari Warung Global
Interaktif Bali Post---
Mari Bangkit
di
Tahun Baru
Caka 1928
Hari
Pengrupukan
dan
hari raya
Nyepi
adalah prosesi ritual
yang dilakukan
umat Hindu
setahun
sekali.
Suatu event yang
sangat
penting dalam
pendidikan
moralitas
dan
kesadaran sebagai
umat
manusia, yang diharapkan
dapat
melahirkan manusia
yang bermoral
dan
beretika. Selalu
eling ring raga.
Merenungkan
apa
yang telah
kita
perbuat di
hari yang
lalu
dan apa yang
akan
kita perbuat
di hari
hari yang
akan
datang.
Pada
dasarnya
pengendalian
diri
sangat ditekankan
untuk
menghindari sifat-sifat
bhuta
kala, dan
itu
bisa dilakukan
dengan
membaca kitab
suci,
bergaul dengan
orang
suci dan
makan
makanan yang bersifat
suci.
Dengan
cara
demikian
tidak
akan terperosok
ke
dalam sifat-sifat
bhuta
kala. Umat Hindu
diharapkan
benar-benar
menghayati
dan
melaksanakan tat twam
asi
dan
Trikaya Parisudha,
mawas
diri, jangan
membuat
masalah dengan
saudara
sendiri.
Pengalaman-pengalaman
kelam
di masa
lalu
dikubur dan
dijadikan
pelajaran
berharga.
Di
tahun yang baru,
mari
bangkit
dengan semangat yang
baru
untuk Bali lebih
baik.
Demikian terungkap
dalam
acara Warung Global
yang disiarkan
secara
langsung oleh Radio
Global FM 96,5,
Rabu (29/3).
Acara
ini juga
dipancarluaskan
oleh Radio
Genta Bali
dan
Singaraja FM. Berikut
rangkuman
selengkapnya
==========================================================
Suardana
di
Jimbaran dan
Agung
Adnyana di
Denpasar
mengatakan
pengrupukan
dan
Nyepi adalah
sebuah
hari suci yang
selalu
mengingatkan kita
untuk
pelatihan dalam
proses
pengendalian dan
meningkatkan
kualitas
diri.
Selalu eling ring
raga. Pada
saat
hari Nyepi
hendaknya
kita
renungkan
apa yang
telah
kita perbuat
di hari
yang lalu
dan apa
yang akan
kita
perbuat di
hari
hari yang akan
datang.
Sementara
Dewa
Aji Linggih
di
Pacung Bitra
Gianyar
menyatakan semua yang
terjadi
adalah tergantung
dari
manusia itu
sendiri.
Diimbau
kepada
pengusung ogoh-ogoh
untuk
melakukan persembahyangan
dan
tidak minum
miras
sebelum melakukan
arak-arakan.
Dengan
menahan
diri kita
ciptakan
Bali aman
dan
tenteram.
Widi
di
Denpasar berpendapat
di hari
yang suci
ini
kita harus
benar-benar
bisa
mengendalikan diri
agar suasana
hari
suci tidak
ternoda.
Untuk
pembuatan
ogoh-ogoh
ini
sebenarnya hal yang
sangat
positif dan
bisa
sebagai sarana
promosi
pariwisata, tetapi
pada
saat pengarakan,
di
sinilah kita
dituntut
untuk
lebih bisa
menahan
diri dari
godaan
untuk menghindari
keributan yang
dapat
menodai perayaan
Nyepi.
Agung
Purnawijaya
di
Denpasar mengajak
seluruh
umat Hindu untuk
lebih
mawas diri,
jangan
membuat masalah
dengan
saudara sendiri.
Pengalaman-pengalaman
kelam
di masa
lalu
dikubur dan
dijadikan
pelajaran
berharga.
Di
tahun yang baru,
mari
bangkit
dengan semangat yang
baru
untuk Bali lebih
baik.
Ketut
Kari di
Songan melihat
pelaksanaan
upacara
pengrupukan saat
ini
telah bejalan
dengan
baik, ini
disebabkan
karena
masing-masing orang
sadar
dan mampu
untuk
menahan diri
dan
menghindari hal-hal
yang dapat
memicu
keributan.
Sementara
Pande
di Pandak
Gede
menambahkan, hari
pengrupukan
dan
hari raya
Nyepi
adalah prosesi ritual
yang dilakukan
umat Hindu
setahun
sekali.
Suatu
event yang sangat
penting
dalam pendidikan
moralitas
dan
kesadaran sebagai
umat
manusia, yang diharapkan
dapat
melahirkan manusia
yang bermoral
dan
beretika.
Untuk
menghindari
terjadinya
penodaan,
perlu
dilakukan pengamanan
oleh
pihak pecalang
dengan
pihak aparat
terkait.
Hal senada
diungkapkan
Putu
Andai dan
Aji
Alep di
Tabanan,
budaya
tetap dilestarikan
tetapi
perlu diawasi
dengan
ketat, melakukan
koordinasi
dengan
pihak terkait
dan
harus ada yang
bertanggung
jawab
untuk pengamanan
terkait
dengan pengarakan
ogoh-ogoh yang
dikatakan
sering
sebagai pemicu
keributan.
Dalam
hal ini
jangan
biarkan para
pemuda
untuk menyelesaikan
masalahnya
sendiri.
Aparat
desa
harus mengawasi
dan
bertindak bijaksana
di
dalam mencegah
timbulnya
masalah.
Nang
Tut Su
di Tabanan
mengatakan
pada
dasarnya pengendalian
diri
sangat ditekankan
untuk
menghindari sifat-sifat
bhuta
kala.
Dan, itu
bisa
dilakukan dengan
membaca
kitab suci,
bergaul
dengan orang
suci
dan makan
makanan yang
bersifat
suci.
Dengan
cara
demikian
tidak
akan terperosok
ke
dalam sifat-sifat
bhuta
kala.
Agus
Jering
di Singaraja
dan
Sumawa di
Kintamani
mengharapkan,
sebagai
umat Hindu di
dalam
melakukan tapa
brata
penyepian betul-betul
dapat
dijalankan dengan
baik.
Untuk
menciptakan suasana
aman,
saat pengusungan
ogoh-ogoh
perlu
dilakukan komunikasi
dan
koordinasi antara
banjar yang
satu
dengan yang lain
supaya
tidak mengalami
kendala-
kendala
antardesa adat.
Menurut
Ida Bagus
Rai di
Denpasar, yang paling
penting
dilakukan adalah
pengendalian
diri,
benar-benar menghayati
dan
melaksanakan tat twam
asi
dan
trikaya parisudha.
*
wati