Tahun Depan, Mitra Bulog Dilarang Gunakan Dana LUEP
Jakarta (Bali Post) -
Departemen Pertanian (Deptan) segera mengeluarkan
peraturan yang melarang para mitra Perum Bulog
menggunakan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi
Pedesaan (DPM-LUEP). Pasalnya, selama ini mitra Bulog
telah memperoleh dana pengadaan gabah melalui Bulog.
Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono kepada pers
di Jakarta, Senin (6/3) kemarin mengatakan, mulai tahun
2007 penyaluran DPM-LUEP hanya diberikan kepada
pemilik penggilingan padi guna melakukan
penyerapan petani saat musim panen. Karena itu, DPM-LUEP
tidak lagi dialokasikan bagi mitra Bulog. ''Sekarang ini
memang belum ada aturan untuk itu, namun mulai tahun
depan dana LUEP tidak lagi untuk mitra Bulog,'' katanya.
Dikatakannya, selama ini mitra Bulog sudah memperoleh
dana pengadaan gabah melalui Bulog. Oleh karena itu,
dengan dialokasikannya dana LUEP hanya untuk
penggilingan diharapkan mampu memperluas penyerapan
gabah. Menanggapi penilaian bahwa kebijakan tersebut
akan menurunkan harga gabah petani, Mentan menyatakan
hal itu tidak akan terjadi, sebaliknya pasar gabah
petani semakin luas sehingga lebih banyak penyerapannya.
Pada 2006 Deptan mengalokasikan dan LUEP Rp 250 milyar
atau naik dibanding 2005 yang hanya Rp 99,9 milyar,
sedangkan pada 2004 alokasinya Rp 161,6 milyar.
Sementara itu pencairan dana LUEP pada 2005 sebesar Rp
89,6 milyar, sedangkan pada 2004 realisasinya mencapai
Rp 157,5 milyar dan pada tahun ini diperkirakan baru
akan cair pada Maret 2006.
Untuk 2003 dari alokasi dana LUEP guna penyerapan gabah
petani oleh penggilingan padi sebesar Rp 162,2 milyar
hanya cair sebanyak Rp 159,3 milyar. Menanggapi
terjadinya penurunan produksi padi pada 2005 dibanding
2004 seperti diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)
dalam angka sementara pekan lalu, Anton menyatakan
tingkat penurunannya masih terlalu rendah sehingga tidak
berpengaruh terhadap produksi 2006.
Berdasarkan angka sementara BPS produksi padi pada 2005,
sebesar 54,05 juta ton GKG atau menurun sebesr 32.186
ton (0,06 persen) bila dibanding produksi 2004. ''Selama
ini berdasarkan angka sementara ataupun angka ramalan I
dan II produksi padi selalu turun, namun ternyata justru
pada angka tetap terjadi surplus,'' katanya.
(kmb1)