kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 7 Maret 2006

 Bali

 

Angin Puyuh, Meru Pura Dadia Kebon Tubuh Roboh 

Semarapura (Bali Post)  -
Hujan
deras disertai angin kencang kembali terjadi di Klungkung. Belum hilang dari ingatan, lima pura di Desa Gelgel, Klungkung dan sejumlah rumah warga rusak akibat angin puyuh beberapa waktu lalu, giliran Pura Dadia Kebon Tubuh Desa Adat Tihingan, Banjarangkan yang menjadi korban. Angin bergulung yang disertai turunnya hujan sejak pukul 12.00 wita Minggu (5/3), mengakibatkan dua pelinggih yang letaknya berdekatan (meru tumpang tiga dan gedong betel-red) Pura Dadia Kebon Tubuh Desa Adat Tihingan, Banjarangkan, roboh.

Bahkan, meru tumpang tiga terbang sejauh enam meter sehingga ditemukan di tengah sawah yang berada di sebelah utara pura.

Berdasarkan pantauan di lokasi kejadian, Senin (6/3) kemarin, dua pelinggih yang tumbang itu sudah dipindahkan ke tempat yang lebih aman oleh pengempon pura. Seorang pengempon, Ketut Lungayasa, menuturkan Minggu siang, cuaca di desanya mendadak berubah. Cahaya matahari yang awalnya bersinar cerah, tiba-tiba berubah mendung. Muncul kabut hitam sehingga pandangan terlihat gelap. Kebetulan, saat itu dia bersama sejumlah warga lainnya sedang duduk-duduk di sebuah bengkel di desanya.

Begitu hujan deras turun disertai angin kencang, dia mulai khawatir, jangan-jangan akan terjadi sesuatu. Makanya, begitu hujan agak reda, Lungayasa langsung berkeliling memantau situasi. Terutama mengecek pura-pura yang ada di sekitarnya. Diawali dengan mengecek di Pura Dalem kemudian di Pura Dadia Kebon Tubuh. Pengecekan itu dilakukan atas dasar kesadaran dirinya selaku pengempon. Ketika masuk di Pura Dadia yang saat ini tengah membangun bale kulkul, dia dikejutkan dengan dua pelinggih yang terjatuh. ''Awalnya, saya melihat satu punggulan saja. Ketika dicek keliling pura, ternyata satu lagi (meru tumpang tiga-red) sudah tergeletak di tengah sawah,'' katanya.

Klian Pura Dadia Kebon Tubuh, Wayan Padet, mengaku heran pelinggih seberat meru tumpang tiga ternyata mampu diterbangkan oleh angin puyuh itu. Bahkan, melewati tembok penyengker pura. Itu berarti anginnya sangat kencang. Pada saat membangun, tak kurang dari 25 orang mengangkut meru itu, tambahnya. Anehnya lagi, bebaturan yang ada di bawah meru sama sekali tidak tergores. Atas terjadinya peristiwa itu, Padet menyatakan akan menggelar paruman, Selasa (7/3) ini. Paruman itu dimaksudkan untuk membicarakan tindakan selanjutnya yang diambil pascabencana. (kmb20)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)