Angin
Puyuh,
Meru Pura
Dadia
Kebon
Tubuh Roboh
Semarapura
(Bali Post) -
Hujan
deras
disertai angin
kencang
kembali terjadi
di
Klungkung.
Belum
hilang dari
ingatan,
lima
pura di
Desa
Gelgel, Klungkung
dan
sejumlah rumah
warga
rusak akibat
angin
puyuh beberapa
waktu
lalu, giliran
Pura
Dadia Kebon
Tubuh
Desa Adat
Tihingan,
Banjarangkan yang
menjadi
korban.
Angin
bergulung yang
disertai
turunnya
hujan
sejak pukul 12.00
wita
Minggu (5/3), mengakibatkan
dua
pelinggih yang letaknya
berdekatan (meru
tumpang
tiga dan
gedong betel-red)
Pura
Dadia Kebon
Tubuh
Desa Adat
Tihingan,
Banjarangkan,
roboh.
Bahkan,
meru
tumpang tiga
terbang
sejauh enam meter
sehingga
ditemukan
di
tengah sawah yang
berada
di sebelah
utara
pura.
Berdasarkan
pantauan
di
lokasi kejadian,
Senin (6/3)
kemarin,
dua
pelinggih yang tumbang
itu
sudah dipindahkan
ke
tempat yang lebih
aman
oleh pengempon
pura.
Seorang
pengempon,
Ketut
Lungayasa, menuturkan
Minggu
siang, cuaca
di
desanya mendadak
berubah.
Cahaya
matahari yang
awalnya
bersinar cerah,
tiba-tiba
berubah
mendung.
Muncul
kabut
hitam sehingga
pandangan
terlihat
gelap.
Kebetulan,
saat
itu dia
bersama
sejumlah warga
lainnya
sedang duduk-duduk
di
sebuah bengkel
di
desanya.
Begitu
hujan
deras turun
disertai
angin
kencang, dia
mulai
khawatir, jangan-jangan
akan
terjadi
sesuatu.
Makanya,
begitu
hujan agak
reda,
Lungayasa langsung
berkeliling
memantau
situasi.
Terutama
mengecek
pura-pura yang
ada di
sekitarnya.
Diawali
dengan
mengecek di
Pura
Dalem kemudian
di Pura
Dadia
Kebon Tubuh.
Pengecekan
itu
dilakukan atas
dasar
kesadaran dirinya
selaku
pengempon. Ketika
masuk
di Pura
Dadia yang
saat
ini tengah
membangun bale
kulkul,
dia dikejutkan
dengan
dua pelinggih yang
terjatuh.
''Awalnya,
saya
melihat satu
punggulan
saja.
Ketika
dicek
keliling pura,
ternyata
satu
lagi (meru
tumpang
tiga-red) sudah
tergeletak
di
tengah sawah,''
katanya.
Klian
Pura
Dadia Kebon
Tubuh,
Wayan Padet,
mengaku
heran pelinggih
seberat
meru tumpang
tiga
ternyata mampu
diterbangkan
oleh
angin puyuh
itu.
Bahkan,
melewati
tembok
penyengker pura.
Itu
berarti
anginnya sangat
kencang.
Pada
saat
membangun, tak
kurang
dari 25 orang
mengangkut
meru
itu, tambahnya.
Anehnya
lagi, bebaturan yang
ada di
bawah
meru
sama sekali
tidak
tergores. Atas
terjadinya
peristiwa
itu,
Padet menyatakan
akan
menggelar
paruman,
Selasa (7/3)
ini.
Paruman
itu
dimaksudkan untuk
membicarakan
tindakan
selanjutnya yang
diambil
pascabencana.
(kmb20)