Dari
Warung Global
Interaktif Bali Post
Masyarakat
masih
Ragukan KPK--
Jangan
hanya
Membidik, tetapi
Pelatuknya
tak
Ditarik
MEMASUKI
era reformasi
pemberantasan KKN
berkumandang
hebat.
Namun, kumandang
tersebut
tidak
sesuai dengan
realitas yang
ada.
Berbagai kasus
korupsi
terungkap dan
bahkan
merajalela terjadi
tanpa
diiringi dengan
penanganan yang
maksimal.
Jajaran
hukum sepertinya
sangat
kelabakan menyelesaikannya,
apalagi yang
bermain
dan terkait
di
dalamnya adalah
eksekutif,
legislatif.
Maka
tidaklah salah
kalau
akhirnya masyarakat
menjadi
ragu kepada
jajaran
hukum. Kehadiran KPK
menjadi
angin segar,
tetapi
melihat sebegitu
banyaknya
kasus yang
menunggu,
apalagi
di pusat
dan
melangkah ke
daerah,
apakah mungkin?
Rasanya
terlalau jauh.
Semisal
kasus APBD yang di
sana
juga
ada andil
lembaga
eksekutif. KPK jangan
hanya
sebatas membidik,
tetapi
pelatuknya tidak
ditarik.
Karena KPK
terlalu
banyak kasus yang
harus
diselesaikan, misalnya
masalah
di pusat.
Apalagi
di daerah
terlalu
jauh untuk
dijangkau.
Kalau KPK
punya
taring diharapkan
bisa
membuktikan. Jangan
sampai
kinerja pemerintah
untuk
masyarakat fokus
ke
korupsi tidak
ngurus
rakyat. Demikian yang
terungkap
dalam
acara Warung Global
yang disiarkan
di Radio Global FM 96,5
Senin (6/3)
kemarin yang
direlai Radio
Genta Bali
dan
Singaraja FM. Berikut
rangkuman
selengkapnya.
------------------------
Wirata
Dwikora
dari BCW menyatakan
sebenarnya
kalau
melihat keputusan
kebijakan-kebijakan
daerah,
apalagi menyangkut
anggaran,
selalu
eksekutif dan
legislatif
bersama-sama.
Kalau
legislatif sudah
menjadi
tersangka memang
masuk
akal eksekutif pun
harus
diperiksa, serta
legislatif pun
jangan
dibeda-bedakan, misalnya
dari
partai, TNI-Polri
harus
diperiksa semua
atau
jangan ada
tebang
pilih. Mengenai
keseriusan
prosesnya
di
Kejati bisa
dilihat
bahwa belum
serius
seperti halnya
kinerja KPK.
Kalau KPK
dalam
setiap kasus
tidak
pernah memberikan
suatu
penangguhan penahanan,
kemudian
tersangka
tidak
ada yang dibiarkan
bebas
berkeliaran di
luar
tahanan. Sementara
kalau
di Bali tersangka
tidak
ditahan. Bahkan,
kalau 2-3
tidak
datang tidak
ada
tindakan atau
petugas
sangat lunak.
Kalau
eksekutif ditahan
maka
ada mekanisme
internal Menteri
Dalam
Negeri yang punya
urusan
asalkan jangan
tebang
pilih atau
pandang
bulu, misalnya
melihat
dari politik
atau
partai.
Ledang
Asmara di
Denpasar
menambahkan,
memang
harus dibidik
karena APBD
adalah
hasil produksi
dari
legislatif dan
diperkuat
eksekutif.
Kalau
anggota legislatif
di-juk
maka gubernur
dan
bupati juga
di-juk.
Kalau terbukti
harus
dijebloskan ke
penjara.
Upaya KPK
harus
benar-benar menunjukkan
caling,
jangan hanya
di media. Pun
kejaksaan
harus
bergerak, karena
namamu
belum ada
di hati
rakyat.
Kehakiman juga
jangan
enduk-enduk, kalau
bisa
polisi dilibatkan
pula, karena
kita
masih menaruh
harapan
kepada polisi.
Dogler
di
Gianyar menjelaskan
ini
baru membidik,
jangan
sampai terlambat,
karena
kita lihat
sepak
terjang KPK belakangan
reportasenya
menurun.
Misalnya
bagaimana
kasus
anggota KPU sudah
dua kali
divonis,
diperiksa
lagi.
Dia berharap KPK
bekerja
dengan baik
dan
juga membidik
jangan
hanya kambing
hitamnya,
tetapi
induk kambing
hitamnya.
Karena
selama ini KPK
berkutat
hanya
di ibu
kota
negara.
Jujur
di
Denpasar bertanya
apakah
ini benar?
Dia
bertanya karena
belum
ada bukti,
karena
kita sudah
banyak
dibohongi. Eksekutif
dan
legislatif tersebut
seperti
satu lingkaran
dalam
memutuskan proyek.
Bisa
diamati setiap
bantuan yang
jumlahnya
Rp 1
milyar untuk
kecamatan
tetapi
hanya segelintir
sampai
di daerah,
sehingga
sering
anggota-anggota fraksi
ada di
mana
waktu sidang?
Arta
Jaya
Astawa di
Singaraja
menyatakan KPK
harus
mempertajam kerjanya,
karena
pemerintahan SBY sekarang
adalah
pemerintahan yang amanah.
Pemerintah
sebagai
penegak hukum
beserta
masyarakat berani
melawan
kekuatan yang mapan
karena
ini mencerminkan
sebuah
kecerdasan dan
kejujuran,
sehingga
keteladanan
di atas
akan
diikuti oleh
masyarakat.
Agung
Purnawijaya
di
Gianyar mengibaratkan
bahwa
pemerintahan SBY seperti
"gajah
dan jalak".
Gaja
tersebut adalah
Indonesia yang kaya
akan
sumber daya
alamnya,
sementara
jalak
pemakan kutu
busuk
atau parasit.
Karena
sekarang setelah
orde
baru korupsi
merajalela
tidak
hanya di DPR
tetapi
mulai dari
tingkat
desa, lurah.
Kepada KPK
diharapkan agar
mengaudit
mulai
dari desa
ke atas
sehingga
tidak
tumpang tindih.
Sebagai
pendukung diharapkan
kepada KPK
jangan
mandek di
perjalanan
karena
sebagai masyarakat
Bali tidak
akan
percaya.
Yogi di Negara
mengharapkan
jangan
hanya sebatas
membidik,
tetapi
pelatuknya tidak
ditarik.
Karena KPK
terlalu
banyak kasus yang
harus
diselesaikan, misalnya
masalah
di pusat.
Apalagi
di daerah
terlalu
jauh untuk
dijangkau.
Sujana
di
Karangasem merasa
pesimis
karena nantinya
ujung-ujungnya sing
ada apa
de. KPK terlalu
banyak
pekerjaan, sementara
KPK hanya
ada di
pusat.
Putu
Suena
di Denpasar
berharap
karena
terlalu banyaknya
kasus
korupsi, jangan
sampai
pemerintah hanya
fokus
mengurus korupsi,
sementara
rakyat
menderita kelaparan.
Sehingga
kalau KPK
punya
taring diharapkan
bisa
membuktikan. Jangan
sampai
kinerja pemerintah
untuk
masyarakat fokus
ke
korupsi tidak
ngurus
rakyat.
Wayan
Sadnya
di Kerobokan
sebagai
orang awam
hanya
menunggu hasil.
Kalau
ada pejabat
terbukti
korupsi agar
langsung
dibawa
ke LP Kerobokan.
Kalau
itu dilakukan
baru
percaya kepada
aparat
hukum. Kalau
hanya
baru dibidik,
sebagai
masyarakat dia
belum
percaya.*
panca