kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 4 Maret 2006

 Pariwisata


Catatan
Pariwisata Sepekan...
Tindakan
Khusus Manjakan Pariwisata Bali  

BALI (baca: pengusaha di Bali) yang terkena dampak bom Jimbaran-Kuta perlu diberikan perlakuan atau tindakan khusus. Demikian kira-kira isyarat Menbudpar Jero Wacik ketika tampil sebagai pembicara dalam sebuah semiloka belum lama ini. Kalau disimak, isyarat seperti itu bukanlah wacana baru. Setahun sebelumnya, ketika bom meledak pertama kali di Legian hal sama sudah dilakukan. Kalangan pengusaha bukan saja yang langsung terjun di pariwisata, tetapi yang terimbas bom Bali juga diwacanakan mendapatkan perlakuan khusus, seperti penundaan atau penjadawalan kembali pengembalian kredit dari perbankan.

Memang, dampak dari dua ledakan bom secara berturut-turut belakangan ini paling terasa. Tingkat hunian hotel rata-rata masih di bawah 20 persen. Negara-negara pemasok turis semakin gencar melarang warganya berkunjung ke Bali dengan mengeluarkan travel warning dan travel advisory.

Tak heran dalam beberapa tulisan di harian ini dilaporkan, tak hanya industri yang terlibat langsung seperti hotel, restoran dan travel agent yang terancam bangkrut. Sektor lainnya juga terseret, karena Bali sudah telanjur bergantung pada pariwisata. Ini tentu berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat setempat. Kondisi ini kian diperparah dengan naiknya biaya-biaya produksi seperti BBM, listrik, upah pekerja dan production cost lainnya.

Lucunya, di balik isyarat itu Wacik malah menyampaikan pernyataan cukup menggelitik. Dia menyentil telinga para praktisi/pengusaha pariwisata Bali yang telanjur terlalu manja. Dia kemudian membandingkan pengusaha di daerah ini dengan daerah lain. Kalau di sini kondisi pariwisata disebut normal apabila tingkat hunian hotel di atas 90 persen. Sementara kalau di daerah lain, tingkat hunian hotel sekitar 45 - 50 persen masih dianggap baik dan wajar. Karena itu, wajar pula jika baru dua-tiga bulan saja tingkat hunian hotel mereka melorot sudah menjerit, bahkan mengatakan akan bangkrut. ''Kita di Bali ini telanjur manja,'' sentil Jero Wacik.

Wacik pun kemudian meluruskan persepsi mengenai pemulihan (recovery) pariwisata. Menurutnya, apabila kedatangan (arrival) wisman ke Bali sudah menyentuh angka 4.000 per hari, pertanda pariwisata mulai pulih. Dengan jumlah itu, tingkat hunian hotel sekitar 60 - 70 persen, okupansi yang dianggap ideal agar pelayanan kepada wisatawan maksimal. Itu berarti, saat ini kondisi pariwisata Bali belum pulih, bahkan sebaliknya menuju kebangkrutan karena tingkat hunian hotel kini sampai di bawah 20 persen. Karena itu, wajar pula para pengusaha di Bali mulai menjerit. Entah itu diartikan karena mereka manja, atau karena leher mereka kini memang benar-benar telah tercekik?

Terlepas dari persoalan manja tadi, melihat kondisi real belakangan ini memang sudah saatnya Bali mendapatkan perlakuan dan tindakan khusus. Bali tidak saja telah menjadi korban bom teroris, tetapi juga korban travel warning dan travel advisory negara pemasok turis. Namun patut diingat, hendaknya perlakuan dan tindakan khusus tadi jangan sampai malah memanjakan para pelaku usaha di daerah ini yang sudah dicap telanjur manja tadi. Apalagi tetap mempertahankan bahkan menambah mental priyayi mereka itu. Padahal, paradigma ekonomi dunia kini sangat berubah, bahwa bisnis pariwisata bak air di daun talas, sangat rentan dan rawan berbagai isu global maupun lokal.

* sugiarta

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)