Kasus
Sudi
Silalahi---
Presiden
SBY jangan
Kucing-kucingan
Mataram
(Suara NTB)-
Mencuatnya
kasus
surat palsu yang
dilaporkan
Sekretaris
Kabinet
Sudi Silalahi
terkait
renovasi KBRI di
Seoul, Korea Selatan,
menurut
Presiden Partai
Keadilan
Sejahtera (PKS), Ir. H.
Tifatul
Sembering, menunjukkan
bahwa
di
jajaran pemerintahan
Susilo
Bambang Yudoyono (SBY)
belum ''bersih''.
Untuk
itu
Tifatul meminta
Presiden SBY
segera
memeriksa kembali
lingkungan
kabinetnya
dari
praktik-praktik korupsi.
''Presiden agar
mengklarifikasinya.
Jangan
kucing-kucingan.
Apa
Presiden
memberi
petunjuk ke
Sudi?''
katanya sembari
bertanya
saat
jumpa pers
usai
membuka Muswil
ke II PKS NTB,
di Hotel Grand
Legi
Mataram, Jumat (3/3)
kemarin.
Tifatul
mengingatkan
Presiden SBY yang
gencar
dengan gerakannya
memberantas
korupsi
di republik
ini, agar
sungguh-sungguh
membersihkan internal
kabinetnya
dari
praktik korupsi.
''Kalau
ada yang
terlibat
harus
ditindak tegas,''
cetusnya.
Apalagi
muncul
kesan memberi
petunjuk
ke Sudi
Silalahi
untuk
mengarahkan renovasi
KBRI di Seoul
kepada
salah satu
perusahaan.
Dalam
hal ini,
lanjutnya,
pihaknya
dan
rakyat tak
mau
dibohongi, sehingga
diperlukan
transpransi
Presiden
terhadap
kasus
Sudi Silalahi.
Karena
sesuai
perundang-undangan yang
berlaku, siapapun
yang membantu
membukakan
jalan
dalam upaya
penyalahgunaan
keuangan
negara,
maka yang bersangkutan
termasuk
melakukan
korupsi.
Pada
bagian lain,
Tifatul
juga menyoroti
beberapa
isu
penting, di
antaranya
soal
impor beras.
Saat
memberikan
sambutan
pada
acara pembukaan
muswil,
Tifatul menegaskan
bahwa PKS
menentang
kebijakan
impor
beras, karena
jelas-jelas
merugikan
para
petani. ''Bayangkan
saya
kita surplus beras 5,4
juta ton,''
ungkapnya
sembari
menyebutkan kalau
mafia internasional
juga
begitu kuat
untuk
memainkan harga
beras.
Terhadap
impor
beras ini,
Tifatul
melihat ada yang
tidak
beres di internal
pemerintahan.
Buktinya
terungkap
perbedaan data yang
dikeluarkan
pihak PBS
dan
Bulog dengan data
sebelumnya.
''Jangan
sampai data
ini
diorder oleh BPS,
ini
berbahaya.
Ini
kita
tindaklanjuti terus
agar jangan
disalahgunakan,''
katanya.
Masalah
Freeport
Sementara
masalah
tambang raksasa
Freeport di
Propinsi Papua yang
kini
mendapat protes
dari
rakyat di
lingkar
tambang, Tifatul
sependapat agar
kontrak
karya
Pemerintah
RI dengan
Freeport
ditinjau
ulang.
Ini
penting agar
rakyat,
khususnya di Papua
menikmati
dengan
wajar kekayaan
alam yang
dikelola
pihak
asing.
Misalnya,
soal
pengelolaan bahan
mentah
tambang di
luar
negeri, mestinya
dikelola
di
dalam negeri
sehingga
hasilnya
bisa
dinikmati dengan
besar
oleh rakyat.
Ia
berharap
para
pejabat pemerintah
terkait
dengan pertambangan
ini
untuk berunding
dengan
pihak investor penambangan
Freeport. ''Berundinglah
untuk
rakyat.
Jangan
untuk
mempertebal kantong
sendiri,''
cetusnya.
Karena
ironis,
lanjutnya, terdapat
tambang
begitu besar
di Papua,
tetapi
sebagian rakyat Papua
kelaparan.
Untuk
itu
Pemerintah
RI
harus
sungguh-sungguh memberikan
dukungan
terhadap
nasib
rakyat Papua dan
memberikan
tanggungjawab
kepada
pihak investor agar
memberikan social cost yang
besar kepada
rakyat Papua.
Di
hadapan
para kader PKS
saat
pembukaan muswil,
Tifatul
mengingatkan tiap
kader
dan pengurus PKS agar
memahami
dan
melek terhadap
setuasi yang
berkembang
di
daerahnya dan
negara
ini secara
umum.
Terutama
terhadap
kebijakan-kebijakan
pemerintah yang
merugikan
rakyat.
''Begitu
bebas
amanah Allah kepada
PKS.
Untuk
itu
saya mengimbau
para
kader untuk
menggerakkan
dakwah.
Pergilah
ke
gunung-gunung, pesisir
pantai,
di kos-kosan,
di
lembah-lembah desa,
sampaikan
hidayah Allah,''
demikian
Tifatul.
(046)