kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 4 Maret 2006

 Kultur


Estetika
Ketelanjangan dalam Seni Rupa

MENYOAL tubuh telanjang dalam seni rupa mengikhtiarkan pandangan kita pada berbagai ranah ekspresi, dari petilasan arkeologis hingga terjemahan seni rupa kontemporer terkini. Wacana-wacana yang menyasar tematika ketelanjangan juga muncul dalam berbagai persepsi, dari yang porno, seksologis hingga konsep simbolik teologis.  

Garis terpenting yang mesti ditarik ketika membicarakan ketelanjangan dan persoalan ketubuhan adalah kebutuhan pemetaan yang secara historis sangat memungkinkan untuk dirunut. Namun, rupanya tidak pernah dianggap penting, hingga merasa lebih urgen untuk menutup sama sekali soal ini sebagai wilayah pembelajaran. Termasuk pula menjadi sangat aneh, dengan dalil demi menjaga moral akibat ketakmampuan mengurus birahi -- dengan serta merta harus anti dalam menyoal wilayah ini ke dalam ekspresi seni sekalipun. 

Padahal kearifan peradaban di masa lalu, telah menjejakkan bagaimana persoalan ketelanjangan termasuk seks dipahami sebagai wilayah kondrati yang termuliakan. Dalam konteks peradaban budaya Bali, estetika ketelanjangan malah sampai menempati ruang substilnya yang sakral dan suci. Termasuk pula rupa patung Lingga-Yoni yang menghiasi berbagai tempat suci di Bali, termasuk di Pura Pusering Jagat, Pejeng, juga sebuah realitas bagaimana seks dan ketelanjangan kelamin ditempatkan pada dasar keyakinan akan kesucian.   

Ketelanjangan kelamin telah dimaknai jauh melampaui soal-soal remeh-temeh, seputar tabu dan juga stigmatisasi lainnya. Ia telah menjadi tafsir kesemestaan yaitu  penciptaan. Keyakinan akan sesuatu ada karena diawali oleh proses penciptaan, senantiasa menjadi dasar untuk memuliakan sosok muasal itu, yang dalam wujudnya paling vulgar bernama seks oleh peraduan kelamin

Hal ini jelas terlihat bagaimana ritual perkawinan di Bali menghadirkan secara simbolik sesi persenggamaan yang suci dan sakral. Ada yang mengatraksikan lewat prosesi penusukan lembaran tikar dengan keris, termasuk yang sampai menampilkan pralambang kelamin laki-laki pada sosok instalasi orang-orangan lazim disebut Kala Badeg oleh masyarakat Sesetan, Denpasar, sebagai contoh. Ini tegas menjelaskan, betapa kelamin dan seks adalah sebuah kemuliaan. Hingga menjadi keliru ketika sampai meremehkan prihal kelamin sendiri. 

Ekspresi Seni yang Soliter 

Tebaran pemaknaan ketelanjangan kelamin yang suci dan mulia, juga tetap menginspirasi kalangan seniman pedesaan kita. Nyoman Kelinced, seorang pematung batu padas dari Petulu, Ubud, mentautkan sisi etik dari prilaku seks manusia. Pematung yang juga seorang penari rangda dan ahli pengobatan tradisional (balian) ini mentransformasikan berbagai kisah etik seksual dari folklore Bali, seperti halnya kisah Men Gablor, ataupun petikan cerita dari lontar Atma Prasangse sebagai representasi persepsinya soal seks dan juga ketelanjangan.

Pada salah satu karyanya, Kelinced menakikkan sosok-sosok manusia setengah demon, dengan rambut ikal terurai mengangkang tetapi dikerubuti belahan kelapa (pongpongan) yang menyerupai kelamin perempuan, dengan serabut terurai. Sebuah kisah kengerian yang mengepung akibat tak mampu memelihara kelamin dengan cara memuliakannya, sebuah kritik atas prilaku seks komersial.

Made Sukanta Wahyu, kelahiran Klungkung 1939 bahkan telah melahirkan ratusan patung dengan rupa dominan ketelanjangan pallus (kelamin laki). Pallus ditampilkannya dalam sosok yang kokoh dan berkarakter. Membaca beberapa karya Sukanta, nampaknya memposisikan sang pematung pada titik periferi: paduan keyakinan akan konsep kosmik Hindu-Bali tentang seks juga kelamin, dengan rupa nude kelamin yang secara estetik mendekati realistik tanpa ornamen, yang dalam kredo estetika tradisi sangat jarang ditemui.  

Dalam seni lukis, beberapa seniman nampak antusias menguak tematik seks dan rupa ketelanjangan. Dewa Putu Mokoh barangkali yang paling uzur dalam mengorbitkan bagaimana seks dituturkan penuh jenaka. Dengan tetap berkarib pada patron seni lukis gaya Pangosekan, Mokoh memotret adegan persenggamaan aneka binatang, termasuk cecak yang melata.  

Sementara dengan tuturan riang ala kartunis, pelukis Wayan Sadha, kelahiran Jimbaran 29 Juli 1948 senantiasa merekam berbagai ironi prilaku seks manusia Bali. Dari yang paling purba, yaitu kebiasaan mengintip sekali lagi ia tuturkan dengan banalitas yang menggelitik.  

Wayan Kun Adnyana, pengajar FSRD ISI Denpasar

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)