Estetika
Ketelanjangan
dalam
Seni Rupa
MENYOAL
tubuh
telanjang dalam
seni
rupa mengikhtiarkan
pandangan
kita
pada berbagai
ranah
ekspresi, dari
petilasan
arkeologis
hingga
terjemahan seni
rupa
kontemporer terkini.
Wacana-wacana
yang menyasar
tematika
ketelanjangan
juga
muncul dalam
berbagai
persepsi,
dari yang porno,
seksologis
hingga
konsep simbolik
teologis.
Garis
terpenting yang
mesti
ditarik ketika
membicarakan
ketelanjangan
dan
persoalan ketubuhan
adalah
kebutuhan pemetaan
yang secara
historis
sangat
memungkinkan untuk
dirunut.
Namun,
rupanya tidak
pernah
dianggap penting,
hingga
merasa lebih
urgen
untuk menutup
sama
sekali
soal ini
sebagai
wilayah pembelajaran.
Termasuk
pula menjadi
sangat
aneh, dengan
dalil
demi menjaga moral
akibat
ketakmampuan mengurus
birahi --
dengan
serta merta
harus anti
dalam
menyoal wilayah
ini ke
dalam
ekspresi seni
sekalipun.
Padahal
kearifan
peradaban
di masa
lalu,
telah menjejakkan
bagaimana
persoalan
ketelanjangan
termasuk
seks
dipahami sebagai
wilayah
kondrati yang termuliakan.
Dalam
konteks
peradaban budaya
Bali,
estetika
ketelanjangan
malah
sampai menempati
ruang
substilnya yang sakral
dan
suci.
Termasuk pula
rupa
patung Lingga-Yoni
yang menghiasi
berbagai
tempat
suci di Bali,
termasuk
di Pura
Pusering
Jagat,
Pejeng, juga
sebuah
realitas bagaimana
seks
dan ketelanjangan
kelamin
ditempatkan pada
dasar
keyakinan
akan
kesucian.
Ketelanjangan
kelamin
telah dimaknai
jauh
melampaui soal-soal
remeh-temeh,
seputar
tabu dan
juga
stigmatisasi lainnya.
Ia
telah menjadi
tafsir
kesemestaan
yaitu
penciptaan.
Keyakinan
akan
sesuatu
ada karena
diawali
oleh proses
penciptaan,
senantiasa
menjadi
dasar untuk
memuliakan
sosok
muasal itu, yang
dalam
wujudnya paling vulgar
bernama seks
oleh
peraduan kelamin.
Hal ini
jelas terlihat
bagaimana ritual
perkawinan
di Bali
menghadirkan secara
simbolik
sesi
persenggamaan yang suci
dan
sakral.
Ada
yang mengatraksikan
lewat
prosesi penusukan
lembaran
tikar
dengan
keris, termasuk
yang sampai
menampilkan
pralambang
kelamin
laki-laki pada
sosok
instalasi orang-orangan
lazim
disebut Kala
Badeg
oleh masyarakat
Sesetan,
Denpasar,
sebagai
contoh.
Ini
tegas
menjelaskan, betapa
kelamin
dan seks
adalah
sebuah kemuliaan.
Hingga
menjadi
keliru ketika
sampai
meremehkan prihal
kelamin
sendiri.
Ekspresi
Seni yang
Soliter
Tebaran
pemaknaan
ketelanjangan
kelamin yang
suci
dan mulia,
juga
tetap menginspirasi
kalangan
seniman
pedesaan kita.
Nyoman
Kelinced, seorang
pematung
batu
padas dari
Petulu,
Ubud, mentautkan
sisi
etik dari
prilaku
seks manusia.
Pematung yang
juga
seorang penari
rangda
dan ahli
pengobatan
tradisional (balian)
ini
mentransformasikan berbagai
kisah
etik seksual
dari folklore Bali,
seperti
halnya kisah Men
Gablor,
ataupun petikan
cerita
dari lontar
Atma
Prasangse sebagai
representasi
persepsinya
soal
seks dan
juga
ketelanjangan.
Pada
salah
satu karyanya,
Kelinced
menakikkan
sosok-sosok
manusia
setengah demon, dengan
rambut
ikal terurai
mengangkang
tetapi
dikerubuti belahan
kelapa (pongpongan)
yang menyerupai
kelamin
perempuan, dengan
serabut
terurai.
Sebuah
kisah kengerian yang
mengepung
akibat
tak mampu
memelihara
kelamin
dengan
cara memuliakannya,
sebuah
kritik atas
prilaku
seks komersial.
Made Sukanta
Wahyu,
kelahiran Klungkung
1939 bahkan
telah
melahirkan ratusan
patung
dengan rupa
dominan
ketelanjangan pallus
(kelamin
laki).
Pallus
ditampilkannya
dalam
sosok yang kokoh
dan
berkarakter. Membaca
beberapa
karya
Sukanta, nampaknya
memposisikan sang
pematung
pada
titik periferi:
paduan
keyakinan
akan
konsep
kosmik Hindu-Bali tentang
seks
juga kelamin,
dengan
rupa nude kelamin
yang secara
estetik
mendekati realistik
tanpa
ornamen, yang dalam
kredo
estetika tradisi
sangat
jarang ditemui.
Dalam
seni
lukis, beberapa
seniman
nampak antusias
menguak
tematik seks
dan
rupa ketelanjangan.
Dewa
Putu
Mokoh barangkali yang
paling uzur
dalam
mengorbitkan bagaimana
seks
dituturkan penuh
jenaka.
Dengan
tetap berkarib
pada patron
seni
lukis
gaya
Pangosekan,
Mokoh
memotret adegan
persenggamaan
aneka
binatang, termasuk
cecak yang
melata.
Sementara
dengan
tuturan riang ala
kartunis,
pelukis
Wayan Sadha,
kelahiran
Jimbaran 29
Juli 1948
senantiasa
merekam
berbagai ironi
prilaku
seks manusia Bali.
Dari yang paling purba,
yaitu
kebiasaan mengintip
sekali
lagi ia
tuturkan
dengan
banalitas yang menggelitik.
Wayan
Kun Adnyana,
pengajar FSRD ISI
Denpasar