kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 4 Maret 2006

 Bali


Sekolah
Dwijendra akan Gunakan Basis Hindu
* Untuk Gaet Dana Depag
 

Denpasar (Bali Post) -
Di
Bali belum ada TK, SD dan SMA/SMK yang berbasiskan Hindu. Makanya sejumlah dana pembinaan bagi pendidikan keagamaan di Depag tak bisa turun ke sekolah lantaran tak ada lembaga pendidikan dasar dan menengah yang berbasiskan agama Hindu. Alasan itulah dipakai Ketua Umum Yayasan Dwijendra Pusat Drs. I.B. Gede Wiyana untuk segera mengubah nama sekolah di bawah yayasannya menjadi nama Hindu.

Itu diungkapkannya saat membuka kursus agama Hindu di aula setempat Kamis (2/3) malam. Ke depan nama TK Dwijendra akan diganti menjadi Prawidya (TK) Dwijendra, sekolah menengah tak lagi memakai SMP dan SMA melainkan Madya Widya Dwijendra dan seterusnya. Namun, soal istilah yang tepat masih sedang dicarikan di sastra Hindu, sedangkan nama Dwijendra tetap berada di belakangnya.

Ditanya soal kurikulum, I.B. Gede Wiyana mengatakan tetap menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, hanya saja diperpadat muatan lokal di bidang agama Hindu dan sastra Bali. Akan ada penambahan jam agama Hindu, budi pekerti dan sastra Bali. Karena itu ia sudah mengajukan permohonan kepada Pemkot Denpasar untuk diberi bantuan guru agama Hindu, sastra Bali dan budi pekerti.

Ketika ditanya apakah tak takut kehilangan calon siswa non-Hindu, ia menegaskan tak masalah, karena itu bagian dari tanggung jawab pembinaan umat. Namun, ia menegaskan sekalipun berbasis Hindu, siswa yang non-Hindu tetap diberikan pendidikan agama sesuai keyakinannya.

''Denpasar perlu memiliki sekolah berbasis Hindu. Strategi ini juga untuk menggaet dana pembinaan sekolah agama di Depag agar tak jatuh kepada kelompok tertentu saja,'' ujarnya.

Pada bagian lain ia mengungkapkan warga Bali kini sudah mengejar prestise. Di mana sekolah yang mahal dikejar dengan alasan lebih bermutu. Termasuk umat Hindu tak mau ikut kursus kalau kegiatan itu digratiskan. Ia mencontohkan sulitnya mencari peserta kursus di Pura Jagatnatha. Karena itu, pola itu kini diubah dengan cara swadana. Ke depan ia harapkan pembinaan umat terhadap masalah agama didanai oleh Pemkot Denpasar.

Kursus agama selama tiga bulan ini menurutnya juga penting untuk meningkatkan martabat umat Hindu. Di samping untuk mengikis kesan Hindu menghambur-hamburkan uang. Makanya diperlukan keseimbangan tatwa, etika dan upakara. (025)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)