Dari Warung
Global Interaktif Bali Post
Warung Global----------------
Disiplin Berlalu Lintas Perlu Mulai dari Pejabat
Selamat sampai di tempat tujuan adalah dambaan siapa
saja yang melaju di jalan raya. Untuk itulah seharusnya
kita disiplin untuk menaati berbagai aturan yang ada.
Tetapi tidak bisa dimungkiri entah karena apa sehingga
banyak yang menganggap bahwa di jalan umum bisa
melakukan apa saja dengan sesuka hati. Semisal bagi
kalangan remaja. Sambil berkendara mereka melajukan
kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan berboncengan
melebihi kapasitas. Pelanggaran di jalan raya juga
dilakoni oleh kalangan pejabat, sehingga dijadikan
contoh tidak baik bagi masyarakat. Berikut opini yang
muncul dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio
Global FM Kinijani Bali, Jumat (3/3) kemarin. Acara ini
juga dipancarluaskan Radio Genta Swara Sakti Bali dan
Singaraja FM.
============================================================
Jujur di Denpasar mengatakan kalau kita disiplin maka
semuanya lancar. Apa sesungguhnya arti disiplin bagi
pejabat? Semua itu tergantung kepentingan. Sehingga,
kepada pejabat, mulailah juga berdisiplin. Kita
bersama-sama mematuhi aturan yang ada.
Pande di Pandak Gede menyatakan bahwa disiplin sangat
sentralistik dan strategis serta mutlak dilakukan oleh
pribadi untuk harmonisasi dalam kehidupan sosial. Ketika
tidak disiplin di jalan berarti orang tersebut tidak
bisa mengatur dirinya sendiri. Di jalan saja mereka tak
disiplin, apalagi diri mereka.
Gusar di Denpasar menambahkan, seharusnya yang memberi
contoh adalah bapak-bapak pejabat. Misalnya pejabat
memakai jalan menggunakan sirene tersebut perlu juga
memperhatikan masyarakat di sekitarnya.
Kompiang di Kemenuh mengatakan disiplin di jalan raya
memang seharusnya dilakukan dan patut didukung oleh
semua pihak. Kalau tidak disiplin di jalan maka kita
akan berhadapan dengan maut. Kita pantau di jalan raya,
memang anak-anak muda sekarang tidak disiplin dan bahkan
mengganggu pengguna jalan raya yang lain.
Made Budiasa di Marga mengatakan, sebagai masyarakat
kecil pihaknya berharap semoga didengar oleh pemimpin
karena disiplin tersebut seperti sau (kail), kalau kecil
bisa ditangkap tetapi kalau besar maka jaringnya robek.
Sehingga disarankan mulai dari atas bisa memberi
kedisiplinan yang benar karena nanti akan dipakai contoh
oleh yang kecil. Seperti balita, orangtualah yang
menjadi panutan.
Dewa Manik di Samsam mengatakan bahwa kalau suatu negara
tertib maka tertiblah dulu yang membuat aturan.
Khususnya dalam berlalu lintas, kalau menertibkan lalu
lintas maka seharusnya UU No. 14 Tahun 92
disosialisasikan terlebih dahulu. Karena banyak sekali
anak-anak remaja yang baru berusia antara 14 sampai 15
tahun sudah mempunyai surat izin mengemudi (SIM).
Sementara itu, Tasman di Tabanan menyatakan di Bali
lebih krodit kondisinya dibanding di Jakarta dalam
berlalu lintas. Mengapa demikian? Karena di Bali jalan
sudah sempit dan bermasalah. Apalagi jumlah kendaraan
yang begitu banyak. Cari tempat parkir susahnya setengah
mati. Sementara di Jakarta sudah terbagi sehingga krodit
bisa diatasi. Terutama bagi kalangan anak-anak muda. Di
Denpasar jalan sudah sempit. Terutama saat macet trotoar
pun dipakai jalan bahkan ada kendaraan pelat merah
nyelonong seenaknya padahal seharusnya menjadi contoh.
Nyoman Ledang di Denpasar mengatakan, disiplin tersebut
berupa kesadaran mengikuti aturan dan menaatinya.
Kondisi sekarang seperti ''panggang jauh dari api''
sudah tidak lagi menaati rambu-rambu lalu lintas. Lalu
lintas sekarang sudah rapuh. Misalnya sekarang orang
takut ditabrak dari belakang. Tak memikirkan orang lain.
Tapi pada era 75-an kita malah takut nabrak mobil di
depan. Sekarang pengendara tidak cerdas dan tangkas
mengendarai kendaraan.
Ia mengatakan sering kata-kata kasar keluar di jalan.
Tidak seperti tahun 76-an banyak yang senyum kalau
menyalip. Dan, mereka pasti membunyikan klakson.
Sekarang orang membunyikan klakson dikira nantang.
Demikian juga polisi tidak disiplin dalam memberikan SIM.
Dengan Rp 200.000, lima menit saja selesai. Tapi kalau
polisi dimintai pendapat tentang hal tersebut mereka
menyatakan tidak ada. Sementara pada tahun 70 atau 80-an
kita antre berjam-jam untuk mendapatkan SIM.
Ade di Denpasar mengatakan bahwa disiplin di jalan raya
dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya moral. Ini
akan berpengaruh pada tingkat pemikiran dan emosional
yang tidak terkendali. Kadang-kadang saya sendiri tidak
disiplin karena masih muda. Misalnya, terlambat ke
tempat kerja kita pasti mempercepat laju kendaraan,
kalau pemerintah dengan menghidupkan sirene. Sehingga
apa pun bisa dilakukan di jalan raya. Ia mengatakan
sekarang yang berperan untuk mengatasai semua itu adalah
pribadi kita sendiri, pihak terkait dalam hal ini polisi.
Polisi agar ikut menyadarkan pemuda untuk berdisplin di
jalan. Sehingga jalan tidak menjadi amburadul.
Ireng di Bajra menjelaskan, banyak pengendara yang ego.
Sementara mengenai kepemilikan SIM khususnya bagi pemula
agar diperketat harus melewati tes, sehingga nantinya
kedisiplinan dapat dilakukan. Jangan sampai menyalip dan
langsung berhenti. Demikian juga para sopir truk konvoi
2-3 kendaraan sampai-sampai kita tidak bisa nyalip. Yang
terpenting mari kita sama-sama disiplin jangan sampai
mengkambinghitamkan atau hanya menyalahkan masyarakat.
Lintang di Gianyar mengakui memang betul kedisiplinan
itu dilakukan oleh remaja karena kira-kira 3-4 bulan
lalu di Jl. Gunung Agung saya melihat siswa SMP naik
sepeda motor berempat, perempuan-perempuan lagi.
Terhadap hal ini perlu sosialisasi dan tindakan tegas
aparat dan kepolisian, terutama di Kota Denpasar.
Sementara di kota besar seperti Surabaya pengawasan
polisi sangat ketat. Demikian juga pembagian jalur di
sana diatur, mana jalur sepeda motor, mobil pribadi,
mobil umum dan lainnya. Ke depan diharapkan penegak
hukum terutama polantas semestinya berjaga di setiap
perempatan untuk mengawasi lalu-lalang kendaraan.
Sementara itu, Nyoman Darma di Keliki Gianyar melihat
ada beberapa faktor munculnya ketidakdisiplinan di jalan
raya di antaranya kemampuan, wawasan, kemauan dan
pengawasan. Maksudnya, kemauan itu misalnya ia sadar
akan keselamatannya sendiri dan juga keselamatan orang
lain.
*
panca