kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 4 Maret 2006

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Warung Global----------------

Disiplin Berlalu Lintas Perlu Mulai dari Pejabat
 

Selamat sampai di tempat tujuan adalah dambaan siapa saja yang melaju di jalan raya. Untuk itulah seharusnya kita disiplin untuk menaati berbagai aturan yang ada. Tetapi tidak bisa dimungkiri entah karena apa sehingga banyak yang menganggap bahwa di jalan umum bisa melakukan apa saja dengan sesuka hati. Semisal bagi kalangan remaja. Sambil berkendara mereka melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan berboncengan melebihi kapasitas. Pelanggaran di jalan raya juga dilakoni oleh kalangan pejabat, sehingga dijadikan contoh tidak baik bagi masyarakat. Berikut opini yang muncul dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global FM Kinijani Bali, Jumat (3/3) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan Radio Genta Swara Sakti Bali dan Singaraja FM. 

============================================================ 

Jujur di Denpasar mengatakan kalau kita disiplin maka semuanya lancar. Apa sesungguhnya arti disiplin bagi pejabat? Semua itu tergantung kepentingan. Sehingga, kepada pejabat, mulailah juga berdisiplin. Kita bersama-sama mematuhi aturan yang ada.

Pande di Pandak Gede menyatakan bahwa disiplin sangat sentralistik dan strategis serta mutlak dilakukan oleh pribadi untuk harmonisasi dalam kehidupan sosial. Ketika tidak disiplin di jalan berarti orang tersebut tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Di jalan saja mereka tak disiplin, apalagi diri mereka.

Gusar di Denpasar menambahkan, seharusnya yang memberi contoh adalah bapak-bapak pejabat. Misalnya pejabat memakai jalan menggunakan sirene tersebut perlu juga memperhatikan masyarakat di sekitarnya.

Kompiang di Kemenuh mengatakan disiplin di jalan raya memang seharusnya dilakukan dan patut didukung oleh semua pihak. Kalau tidak disiplin di jalan maka kita akan berhadapan dengan maut. Kita pantau di jalan raya, memang anak-anak muda sekarang tidak disiplin dan bahkan mengganggu pengguna jalan raya yang lain.

Made Budiasa di Marga mengatakan, sebagai masyarakat kecil pihaknya berharap semoga didengar oleh pemimpin karena disiplin tersebut seperti sau (kail), kalau kecil bisa ditangkap tetapi kalau besar maka jaringnya robek. Sehingga disarankan mulai dari atas bisa memberi kedisiplinan yang benar karena nanti akan dipakai contoh oleh yang kecil. Seperti balita, orangtualah yang menjadi panutan.

Dewa Manik di Samsam mengatakan bahwa kalau suatu negara tertib maka tertiblah dulu yang membuat aturan. Khususnya dalam berlalu lintas, kalau menertibkan lalu lintas maka seharusnya UU No. 14 Tahun 92 disosialisasikan terlebih dahulu. Karena banyak sekali anak-anak remaja yang baru berusia antara 14 sampai 15 tahun sudah mempunyai surat izin mengemudi (SIM).

Sementara itu, Tasman di Tabanan menyatakan di Bali lebih krodit kondisinya dibanding di Jakarta dalam berlalu lintas. Mengapa demikian? Karena di Bali jalan sudah sempit dan bermasalah. Apalagi jumlah kendaraan yang begitu banyak. Cari tempat parkir susahnya setengah mati. Sementara di Jakarta sudah terbagi sehingga krodit bisa diatasi. Terutama bagi kalangan anak-anak muda. Di Denpasar jalan sudah sempit. Terutama saat macet trotoar pun dipakai jalan bahkan ada kendaraan pelat merah nyelonong seenaknya padahal seharusnya menjadi contoh.

Nyoman Ledang di Denpasar mengatakan, disiplin tersebut berupa kesadaran mengikuti aturan dan menaatinya. Kondisi sekarang seperti ''panggang jauh dari api'' sudah tidak lagi menaati rambu-rambu lalu lintas. Lalu lintas sekarang sudah rapuh. Misalnya sekarang orang takut ditabrak dari belakang. Tak memikirkan orang lain. Tapi pada era 75-an kita malah takut nabrak mobil di depan. Sekarang pengendara tidak cerdas dan tangkas mengendarai kendaraan.

Ia mengatakan sering kata-kata kasar keluar di jalan. Tidak seperti tahun 76-an banyak yang senyum kalau menyalip. Dan, mereka pasti membunyikan klakson. Sekarang orang membunyikan klakson dikira nantang. Demikian juga polisi tidak disiplin dalam memberikan SIM. Dengan Rp 200.000, lima menit saja selesai. Tapi kalau polisi dimintai pendapat tentang hal tersebut mereka menyatakan tidak ada. Sementara pada tahun 70 atau 80-an kita antre berjam-jam untuk mendapatkan SIM.

Ade di Denpasar mengatakan bahwa disiplin di jalan raya  dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya moral. Ini akan berpengaruh pada tingkat pemikiran dan emosional yang tidak terkendali. Kadang-kadang saya sendiri tidak disiplin karena masih muda. Misalnya, terlambat ke tempat kerja kita pasti mempercepat laju kendaraan, kalau pemerintah dengan menghidupkan sirene. Sehingga apa pun bisa dilakukan di jalan raya. Ia mengatakan sekarang yang berperan untuk mengatasai semua itu adalah pribadi kita sendiri, pihak terkait dalam hal ini polisi. Polisi agar ikut menyadarkan pemuda untuk berdisplin di jalan. Sehingga jalan tidak menjadi amburadul.

Ireng di Bajra menjelaskan, banyak pengendara yang ego. Sementara mengenai kepemilikan SIM khususnya bagi pemula agar diperketat harus melewati tes, sehingga nantinya kedisiplinan dapat dilakukan. Jangan sampai menyalip dan langsung berhenti. Demikian juga para sopir truk konvoi 2-3 kendaraan sampai-sampai kita tidak bisa nyalip. Yang terpenting mari kita sama-sama disiplin jangan sampai mengkambinghitamkan atau hanya menyalahkan masyarakat.

Lintang di Gianyar mengakui memang betul kedisiplinan itu dilakukan oleh remaja karena kira-kira 3-4 bulan lalu di Jl. Gunung Agung saya melihat siswa SMP naik sepeda motor berempat, perempuan-perempuan lagi. Terhadap hal ini perlu sosialisasi dan tindakan tegas aparat dan kepolisian, terutama di Kota Denpasar. Sementara di kota besar seperti Surabaya pengawasan polisi sangat ketat. Demikian juga pembagian jalur di sana diatur, mana jalur sepeda motor, mobil pribadi, mobil umum dan lainnya. Ke depan diharapkan penegak hukum terutama polantas semestinya berjaga di setiap perempatan untuk mengawasi lalu-lalang kendaraan.

Sementara itu, Nyoman Darma di Keliki Gianyar melihat ada beberapa faktor munculnya ketidakdisiplinan di jalan raya di antaranya kemampuan, wawasan, kemauan dan pengawasan. Maksudnya, kemauan itu misalnya ia sadar akan keselamatannya sendiri dan juga keselamatan orang lain. * panca

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)