Pasraman
yang Berhasil
SEJUMLAH
contoh "lembaga"
yang telah
berhasil
melakukan
edukasi model
pasraman.
Di
Denpasar ada "padepokan"
Sanggar
Kreativitas Seni
Budaya
Wyakti Ni Prayoga
Maha
Bajra Sandhi yang
selama 12
tahun
melakukan eksplorasi
yoga musik,
menelentangkan
jalan
seni sebagai
pusat
pembebasan atau
seni
pembebas.
Bagi
pasraman
ini,
seni bukan
semata
hiburan, namun
ruang
tempat membasuh
diri, alias
penyucian.
Di
Desa
Saren, Budakeling,
Karangasem
juga
telah dibangun "taman
perguruan
desa supra",
pasraman
desa
prayoga, memilih
jalan
mahaindah, menjadikan
seni
sebagai ritus
diri.
Pendeknya, pasraman
ini
berlakon suntuk
di
jalan wibhuti:
menari,
megambel, mekidung,
dan
mendalang sebagai
upaya
membuka pintu-pintu
kesadaran
surga.
Hal yang sama
juga
diupayakan Sanggar
Kreativitas
Seni
Budaya Pulo
Candani
Wiswakarma di
Batubulan,
Gianyar
dan Banjar
Selat
Peken, Bangli.
Dengan
kompetensi
masing-masing, yoga
terlihat
sebagai
dasar pencaharian.
Dan, gong gamelan
atau
musik, diutamakan
mengambil
peran vital
untuk
kecerdasan rasa
dan
rasio.
Karena
begitulah
pada
galibnya. Mengikuti
temuan-temuan
mutakhir
para
musikolog, betapa
musik
memang berperan
besar
membangun kecerdasan
batin.
Menurut Westa,
jika
Pasraman Dibia
Desa
Pradesa Bangli
dibangun,
ia
harus
berangkat dari
kearifan
lokal
dan tradisi yang
mendorong
bangkitnya
daya
cipta (energi
kreatif).
Daya
yoga dalam
pengertian
luas
mesti dibangun
dan
dilakoni dari
sini.
(ole)