kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 3 Maret 2006

 Pendidikan


Pasraman
yang Berhasil  

SEJUMLAH contoh "lembaga" yang telah berhasil melakukan edukasi model pasraman. Di Denpasar ada "padepokan" Sanggar Kreativitas Seni Budaya Wyakti Ni Prayoga Maha Bajra Sandhi yang selama 12 tahun melakukan eksplorasi yoga musik, menelentangkan jalan seni sebagai pusat pembebasan atau seni pembebas. Bagi pasraman ini, seni bukan semata hiburan, namun ruang tempat membasuh diri, alias penyucian.

Di Desa Saren, Budakeling, Karangasem juga telah dibangun "taman perguruan desa supra", pasraman desa prayoga, memilih jalan mahaindah, menjadikan seni sebagai ritus diri. Pendeknya, pasraman ini berlakon suntuk di jalan wibhuti: menari, megambel, mekidung, dan mendalang sebagai upaya membuka pintu-pintu kesadaran surga.

Hal yang sama juga diupayakan Sanggar Kreativitas Seni Budaya Pulo Candani Wiswakarma di Batubulan, Gianyar dan Banjar Selat Peken, Bangli. Dengan kompetensi masing-masing, yoga terlihat sebagai dasar pencaharian. Dan, gong gamelan atau musik, diutamakan mengambil peran vital untuk kecerdasan rasa dan rasio. Karena begitulah pada galibnya. Mengikuti temuan-temuan mutakhir para musikolog, betapa musik memang berperan besar membangun kecerdasan batin. Menurut Westa, jika Pasraman Dibia Desa Pradesa Bangli dibangun, ia harus berangkat dari kearifan lokal dan tradisi yang mendorong bangkitnya daya cipta (energi kreatif). Daya yoga dalam pengertian luas mesti dibangun dan dilakoni dari sini. (ole)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)