Pasraman Desa sebagai Pusat Pendidikan Budaya-Spiritual
MEMBANGUN
pasraman tentu saja tidak mudah. Apalagi dengan niat
suci untuk mencerdaskan anak-anak dengan landasan seni
dan budaya Bali. Namun, bagaimana pun sulitnya,
untuk membangun inprastruktur dan suprastruktur maka
pasraman menjadi penting digagas dan diwujudkan. Peranan
individu seperti seniman, pragina, pandita, pakar, dan
tenaga edukasi diharapkan akan terus bisa memperjelas
kompetensi pasraman. Dengan segala keterbatasan, dari
pasraman akan dibangun spirit baru, cakrawala pandang
baru pada semesta dunia. Implementasinya, jadikanlah
pasraman desa ini sebagai pusat pendidikan budaya-spiritual.
Lalu bagaimana seharusnya menjabarkan proses
belajar-mengajar dalam pasraman itu?
Seorang pemerhati budaya dan pendidikan I Wayan Westa
mengatakan muatan kompetitif yang mengasah kepekaan
peserta didik sebaiknya diajarkan dalam pasraman.
Megambel, menari, mekidung, mendalang, menyurat dan
membabar aksara menjadi mata ajar wajib. Edukasi dan
penekanan pada aksara menjadi penting dibabar guna
menyikapi gen kecerdasan manusia Bali. "Inilah urgensi
vital yang sama sekali tidak boleh dilupakan. Tentu
dalam arus besar zaman kecerdasan lokal harus
senantiasa menyesuaikan diri," kata Westa.
Adapun wujudnya kelak, lanjut Westa, proses edukasi
pasraman harus mengusung dan berpayung pada tiga
komponen dasar, yakni satyam - ciwam - sundaram (benar
- suci - indah). Tiga substansi ini tak bisa dipisahkan
satu sama lain. Sebab, merupakan biji dasar, energi
utama yang akan membangun meru kesadaran (meru
dandaksara), sebab ia merupakan kapasitas
kecerdasan akal budi, tiga mantra kecerdasan yang harus
dihidupkan pada pribadi manusia. Tanpa tiga energi itu,
mustahil direngkuh kecerdasan Tuhan.
"Wawasan
holistik ini sedari awal telah membingkai pola anutan
pasraman desa yang telah digagas leluhur kita di masa
silam. Ini kearifan lokal perlu dipertahankan, karena
jelas ada kedalaman sublimasi sosial," lanjutnya.
Menurut Westa, tiga substansi dasar itu akan
memperlihatkan realitas praktis pada perilaku batiniah
anak-anak, menyangkut bajra-wak-cita. Bajra dalam
realisasi diri akan memperlihatkan kompetensi laku,
sedana yoga -- energi batiniah yang memutar kedalaman
sublimasi diri, dan memunculkan daya cipta, utpatti urip
jati. Ini dapat dilihat dari kapasitas diri di dalam
melakoni hidup, wujud pengabdian pada Tuhan Semesta Alam.
Bekerja dan memuja adalah kuncinya. Yoga adalah
penggeraknya. Sementara Wak menemukan realisasi pada
laku sendiri, sejauh mana kata, ucapan, prakarsa lisan
dapat dipertanggungjawabkan atas kerja. Bohong besar itu
ucapan tanpa kerja. Dari kerja dan pengabdianlah wacana
itu dimuarakan, melahirkan teori dan sesuluh. "Semua itu
akan menumbuhkan citta, tattwa baru, ilmu Bali
berspirit taksu, ilmu yang menjamah langit Tuhan, maha
penuh mengatasi segala," ujarnya.
Menurut Westa, dengan landasan-landasan yang disebutkan
itulah pasraman itu dibangun. Seperti Pasraman Pradesa
Bangli yang dibangun oleh sejumlah komponen masyarakat
di Bangli. Pasraman itu harus dibangun dengan kepekaan
menangkap tanda-tanda zaman, didasari kemandirian,
kemurnian, dan penuh kompetensi. Ia bebas dari
kepentingan dan prasyarat politik. Dia mesti menjadi
muara dari pembebasan seni dan seni pembebasan. Ia harus
tampil dengan jati dirinya sendiri. Tugas guru wisesa (pemerintah)
adalah mengkondisikan dan memberi fasilitas, tanpa ada
niat intervensi ideologis. Sebab, tugas penguasalah
sebagai sang panikelan tanah -- yang kuasa atas
wilayah wajib melindungi seluruh kepentingan itu. "Kepentingan
yang memotivasi masyarakatnya merengkuh tangga-tangga
kesadaran batiniah. Di mana kelak tercipta masyarakat
dengan cahaya kedewaan -- divene society," ujarnya.
Berhasil tidaknya proses edukasi dalam pasraman, menurut
Westa, sangat ditentukan oleh kompetensi dan urgensi
guru-guru bersangkutan. Pasraman harus bisa menghadirkan
guru atau pinisepuh yang betul-betul memiliki kemampuan
penuh. Dedikasinya akan diuji sejauh tingkat sedhana-nya.
Artinya, sejauh guru bersangkutan memahami
kepentingan-kepentingan "investasi manusia", di masa
depan. "Diharapkan dari pasraman ini akan lahir manusia
muda yang tak cuma memiliki bobot pengetahuan tinggi,
tetapi rasa dan wiweka-nya juga mengagumkan. Sanggup
menghadapi zaman yang senantiasa berubah, serta jelas
akar ke-Bali-annya," katanya.
(ole)