kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 3 Maret 2006

 Pendidikan


Pasraman Desa sebagai Pusat Pendidikan Budaya-Spiritual

MEMBANGUN pasraman tentu saja tidak mudah. Apalagi dengan niat suci untuk mencerdaskan anak-anak dengan landasan seni dan budaya Bali.  Namun, bagaimana pun sulitnya, untuk membangun inprastruktur dan suprastruktur maka pasraman menjadi penting digagas dan diwujudkan. Peranan individu seperti seniman, pragina, pandita, pakar, dan tenaga edukasi diharapkan akan terus bisa memperjelas kompetensi pasraman. Dengan segala keterbatasan, dari pasraman akan dibangun spirit baru, cakrawala pandang baru pada semesta dunia. Implementasinya, jadikanlah pasraman desa ini sebagai pusat pendidikan budaya-spiritual. Lalu bagaimana seharusnya menjabarkan proses belajar-mengajar dalam pasraman itu?

Seorang pemerhati budaya dan pendidikan I Wayan Westa mengatakan muatan kompetitif yang mengasah kepekaan peserta didik sebaiknya diajarkan dalam pasraman. Megambel, menari, mekidung, mendalang, menyurat dan membabar aksara menjadi mata ajar wajib. Edukasi dan penekanan pada aksara menjadi penting dibabar guna menyikapi gen kecerdasan manusia Bali. "Inilah urgensi vital yang sama sekali tidak boleh dilupakan. Tentu  dalam arus besar  zaman kecerdasan lokal harus senantiasa menyesuaikan diri," kata Westa.

Adapun wujudnya kelak, lanjut Westa, proses edukasi pasraman harus mengusung dan berpayung pada tiga komponen dasar, yakni satyam - ciwam - sundaram  (benar - suci - indah). Tiga substansi ini tak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebab, merupakan biji dasar, energi utama yang akan membangun meru kesadaran (meru dandaksara),  sebab ia merupakan kapasitas kecerdasan akal budi, tiga mantra kecerdasan yang harus dihidupkan pada pribadi manusia. Tanpa tiga energi itu, mustahil direngkuh kecerdasan Tuhan.

"Wawasan holistik ini sedari awal telah membingkai pola anutan pasraman desa yang telah digagas leluhur kita di masa silam. Ini kearifan lokal perlu dipertahankan, karena jelas ada kedalaman sublimasi sosial," lanjutnya.

Menurut Westa, tiga substansi dasar itu akan memperlihatkan realitas praktis pada perilaku batiniah anak-anak, menyangkut bajra-wak-cita. Bajra dalam realisasi diri akan memperlihatkan kompetensi laku, sedana yoga -- energi batiniah yang memutar kedalaman sublimasi diri, dan memunculkan daya cipta, utpatti urip jati. Ini dapat dilihat dari kapasitas diri di dalam melakoni hidup, wujud pengabdian pada Tuhan Semesta Alam.  Bekerja dan memuja adalah kuncinya. Yoga adalah penggeraknya. Sementara Wak menemukan realisasi pada laku sendiri, sejauh mana kata, ucapan, prakarsa lisan dapat dipertanggungjawabkan atas kerja. Bohong besar itu ucapan tanpa kerja. Dari kerja dan pengabdianlah wacana itu dimuarakan, melahirkan teori dan sesuluh. "Semua itu akan menumbuhkan citta, tattwa baru,  ilmu Bali berspirit taksu, ilmu yang menjamah langit Tuhan, maha penuh mengatasi segala," ujarnya.

Menurut Westa, dengan landasan-landasan yang disebutkan itulah pasraman itu dibangun. Seperti Pasraman Pradesa Bangli yang dibangun oleh sejumlah komponen masyarakat di Bangli. Pasraman itu harus dibangun dengan kepekaan menangkap tanda-tanda zaman, didasari kemandirian, kemurnian, dan penuh kompetensi. Ia bebas dari kepentingan dan prasyarat politik. Dia mesti menjadi muara dari pembebasan seni dan seni pembebasan. Ia harus tampil dengan jati dirinya sendiri. Tugas guru wisesa (pemerintah) adalah mengkondisikan dan memberi fasilitas, tanpa ada niat intervensi ideologis. Sebab, tugas penguasalah sebagai sang panikelan tanah --  yang kuasa atas wilayah wajib melindungi seluruh kepentingan itu. "Kepentingan yang memotivasi masyarakatnya merengkuh tangga-tangga kesadaran batiniah. Di mana kelak tercipta masyarakat dengan cahaya kedewaan -- divene society," ujarnya.

Berhasil tidaknya proses edukasi dalam pasraman, menurut Westa, sangat ditentukan oleh kompetensi dan urgensi guru-guru bersangkutan. Pasraman harus bisa menghadirkan guru atau pinisepuh yang betul-betul memiliki kemampuan penuh. Dedikasinya akan diuji sejauh tingkat sedhana-nya. Artinya, sejauh guru bersangkutan memahami kepentingan-kepentingan "investasi manusia", di masa depan. "Diharapkan dari pasraman ini akan lahir manusia muda yang tak cuma memiliki bobot pengetahuan tinggi, tetapi rasa dan wiweka-nya juga mengagumkan. Sanggup menghadapi zaman yang senantiasa berubah, serta jelas akar ke-Bali-annya," katanya. (ole)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)