kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 3 Maret 2006

 Mimbar Islam


Misi
Perdamaian Itu
Waidzaa
khaathabahumul jaahiluuna qaaluu salaama. 

PESAN-PESAN perdamaian dalam agama tauhid yang diperjuangkan oleh Rasulullah SAW, baik yang tertera dalam Alquran Karim, maupun yang diwujudkan dalam perilaku Rasul-Nya, tampak begitu gamblang. Islam, yang juga berarti damai, sejatinya juga mewajibkan umatnya untuk mewujudkan perdamaian itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Cuplikan ayat yang dikutip di atas, betapa dengan jelas menekankan pentingnya merealisasikan misi perdamaian itu, bahkan jika berhadapan dengan orang jahil (bodoh) sekalipun. "Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka," (Q.S. al-Furqaan [25]: 63 - 64).

Saat Rasulullah SAW mengawali hari-harinya di Madinah, di hadapan para sahabatnya dengan suara yang sangat fasih beliau menegaskan, "Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, sambungkanlah silaturrahmi, dan shalatlah ketika orang-orang sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat sentosa," (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Damiri dan al-Hakim).

Muhammad Rasulullah SAW adalah "Alquran berjalan", apa yang diucapkan, disikapi dan dilakukan, semuanya adalah wujud pengamalan dari wahyu Allah SWT itu. Dialah contoh terbaik dalam hal menebar salam, baik melalui kata-kata maupun tindakan. Dialah contoh terbaik dalam hal menyambung tali kasih sayang (silaturahmi), sekaligus contoh terbaik dalam hal mendirikan shalat malam, bahkan, juga contoh terbaik dalam semua sisi kehidupan.

Untuk ketiga hal yang dipesankan oleh Rasulullah SAW itu, tentu kita layak mencermati diri kita sendiri, telah seberapa bersungguh-sungguhkah kita dalam melaksanakan pesan tadi? Jika sudah, maka kita layak bersyukur, seraya memohon agar dapat melaksanakannya dengan istiqomah, konsisten, hingga akhir hayat kita.

Jika ternyata kita masih belum melaksanakan ketiga hal itu, jelas kita layak memohon ampun kepada Allah SWT, beristighfar seraya menyesali ketidakseriusan kita dalam melaksanakannya, yang sebenarnya ketiga hal itu, juga telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam Alquran.

Sebagaimana lazimnya dalam hal melaksanakan kebaikan (amal shaleh) lainnya, bisa saja muncul rintangan yang membuat diri kita enggan atau tidak dapat melaksanakannya. Menebar salam, misalnya, jelas bukan hal mudah saat kita berada dalam suatu lingkungan yang dipenuhi nuansa permusuhan. Begitu pula dalam hal menyambung hubungan kasih sayang (silaturahmi), manakala niat menebar salam (kedamaian) setengah-setengah, maka usaha melakukan silaturahmi pun akan dengan mudah rontok di tengah jalan.

Sedangkan bagi yang niatnya kuat dengan didasari semata-mata meraih ridho Allah SWT, niscaya upaya menebar salam dan menyambung tali kasih sayang itu akan dapat diwujudkan, kendati mesti berhadapan dengan kesulitan atau tantangan tertentu.

Begitu pula bagi yang berniat serius mendapatkan keridhoan Allah SWT dalam melaksanakan shalat malam, berbagai tantangan yang ada, seperti rasa capek, ngantuk, acara-acara televisi yang semakin "penuh warna" atau aktivitas lain yang menarik perhatian, seperti hobi tertentu, niscaya tidak dapat menghalangi niat serius untuk bermi'raj (bertemu) Allah SWT melalui shalat malam. "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk shalat malam), sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap," (Q.S. as-Sajdah [32]: 16). "Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya," (Q.S. al-Fath [48]: 29).

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)