Misi
Perdamaian
Itu
Waidzaa
khaathabahumul
jaahiluuna
qaaluu
salaama.
PESAN-PESAN
perdamaian
dalam agama
tauhid yang
diperjuangkan
oleh
Rasulullah SAW, baik
yang tertera
dalam
Alquran Karim,
maupun yang
diwujudkan
dalam
perilaku Rasul-Nya,
tampak
begitu gamblang.
Islam, yang
juga
berarti damai,
sejatinya
juga
mewajibkan umatnya
untuk
mewujudkan perdamaian
itu
sendiri dalam
kehidupan
sehari-hari.
Cuplikan
ayat yang
dikutip
di atas,
betapa
dengan jelas
menekankan
pentingnya
merealisasikan
misi
perdamaian itu,
bahkan
jika berhadapan
dengan
orang jahil (bodoh)
sekalipun.
"Dan
hamba-hamba Tuhan
yang Maha
Penyayang
itu (ialah)
orang-orang yang
berjalan
di atas
bumi
dengan rendah
hati
dan apabila
orang-orang
jahil
menyapa mereka,
maka
mereka mengucapkan
kata-kata yang
baik. Dan
orang-orang yang
melalui
malam hari
dengan
bersujud dan
berdiri
untuk Tuhan
mereka," (Q.S. al-Furqaan
[25]: 63 - 64).
Saat
Rasulullah SAW
mengawali
hari-harinya
di
Madinah, di
hadapan
para sahabatnya
dengan
suara yang sangat
fasih
beliau menegaskan, "Wahai
sekalian
manusia,
sebarkanlah
salam,
sambungkanlah
silaturrahmi,
dan
shalatlah ketika
orang-orang
sedang
tidur, maka kalian
akan
masuk surga
dengan
selamat sentosa,"
(H.R. Ahmad, Tirmidzi,
Ibnu
Majah, ad-Damiri
dan al-Hakim).
Muhammad Rasulullah SAW
adalah "Alquran
berjalan",
apa
yang diucapkan,
disikapi
dan
dilakukan, semuanya
adalah
wujud pengamalan
dari
wahyu Allah SWT itu.
Dialah
contoh terbaik
dalam
hal menebar
salam,
baik
melalui kata-kata
maupun
tindakan.
Dialah
contoh
terbaik dalam
hal
menyambung tali
kasih
sayang (silaturahmi),
sekaligus
contoh
terbaik dalam
hal
mendirikan shalat
malam,
bahkan, juga
contoh
terbaik dalam
semua
sisi kehidupan.
Untuk
ketiga
hal yang dipesankan
oleh
Rasulullah SAW itu,
tentu
kita layak
mencermati
diri
kita sendiri,
telah
seberapa
bersungguh-sungguhkah kita
dalam
melaksanakan pesan
tadi?
Jika
sudah,
maka kita
layak
bersyukur, seraya
memohon agar
dapat
melaksanakannya dengan
istiqomah,
konsisten,
hingga
akhir hayat
kita.
Jika
ternyata
kita
masih belum
melaksanakan
ketiga
hal itu,
jelas
kita layak
memohon
ampun kepada Allah
SWT, beristighfar
seraya
menyesali ketidakseriusan
kita
dalam melaksanakannya,
yang sebenarnya
ketiga
hal itu,
juga
telah diperintahkan
oleh Allah SWT
dalam
Alquran.
Sebagaimana
lazimnya
dalam
hal melaksanakan
kebaikan (amal
shaleh)
lainnya, bisa
saja
muncul rintangan yang
membuat
diri kita
enggan
atau tidak
dapat
melaksanakannya.
Menebar
salam,
misalnya,
jelas
bukan hal
mudah
saat kita
berada
dalam suatu
lingkungan yang
dipenuhi
nuansa
permusuhan. Begitu
pula dalam
hal
menyambung hubungan
kasih
sayang (silaturahmi),
manakala
niat
menebar
salam (kedamaian)
setengah-setengah,
maka
usaha melakukan
silaturahmi pun
akan
dengan mudah
rontok
di tengah
jalan.
Sedangkan
bagi yang
niatnya
kuat dengan
didasari
semata-mata
meraih
ridho Allah SWT, niscaya
upaya
menebar
salam dan
menyambung
tali
kasih sayang
itu
akan dapat
diwujudkan,
kendati
mesti berhadapan
dengan
kesulitan atau
tantangan
tertentu.
Begitu
pula bagi yang
berniat
serius mendapatkan
keridhoan Allah SWT
dalam
melaksanakan shalat
malam,
berbagai tantangan
yang ada,
seperti
rasa capek,
ngantuk,
acara-acara
televisi yang
semakin "penuh
warna"
atau aktivitas lain
yang menarik
perhatian,
seperti
hobi tertentu,
niscaya
tidak dapat
menghalangi
niat
serius untuk
bermi'raj (bertemu)
Allah SWT melalui
shalat
malam. "Lambung
mereka
jauh dari
tempat
tidurnya (untuk
shalat
malam), sedang
mereka
berdoa kepada
Tuhannya
dengan
rasa takut
dan
penuh harap," (Q.S.
as-Sajdah [32]: 16). "Kamu
lihat
mereka ruku'
dan
sujud mencari
karunia Allah
dan
keridhoan-Nya," (Q.S. al-Fath
[48]: 29).