kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 3 Maret 2006

 Ekonomi


Irigasi
Tersumbat, Petani Abianbase Mengeluh  

Gianyar (Bali Post) -
Keberpihakan
pemerintah terhadap pembangunan sektor pertanian, tampaknya masih sangat rendah. Buktinya, keluhan para petani di empat subak di wilayah Kelurahan Abianbase, Gianyar masing-masing Subak Tedung, Subak Pekandelan, Subak Payal dan Subak Dukun, hingga kini belum mendapat respon positif. Mereka mengeluhkan distribusi air ke wilayahnya seringkali ngadat lantaran saluran irigasi tersumbat tanah.

Selain itu, mereka juga mengeluhkan jebolnya terowongan di Subak Tedung dan serangan hama tikus yang berulangkali merusak tanaman padi petani di Subak Pekandelan. Hal itu terungkap saat Komisi B DPRD Gianyar bertatap muka dengan para pekaseh dan tokoh adat se-Kelurahan Abianbase di Kantor Lurah setempat, Kamis (2/3) kemarin.

Ditemui seusai acara tatap muka itu, Ketua Komisi B DPRD Gianyar Pande Ketut Suralaga membenarkan para petani di Abianbase sedang mengalami masalah. Sejak beberapa tahun lalu, debit air ke subak itu sangat rendah akibat tidak optimalnya kondisi saluran irigasi tersier. Saluran air itu sudah mengalami pendangkalan sehingga mempengaruhi debit air ke empat subak tersebut. Saat saluran irigasi itu kondisinya masih bagus, petani setempat mengaku bisa menanam padi tiga kali dalam setahun. Namun, kini mereka hanya bisa menanam padi satu kali dalam setahun karena pasokan air tidak mencukupi. "Saat musim kemarau, mereka terpaksa menanam palawija karena tidak ada lagi pasokan air ke subak itu," katanya.

Kondisi makin memburuk begitu terowongan di wilayah Subak Pekandelan jebol beberapa waktu lalu. Perihal jebolnya terowongan itu, sudah dilaporkan petani kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Gianyar. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda akan diperbaiki. Petani mengaku tidak berani masuk ke dalam terowongan untuk membersihkan longsoran tanah.

Komisi B juga mendengar laporan yang menyebutkan tanaman padi di Subak Pekandelan sudah berulangkali diserang hama tikus. Serangan binatang mengerat itu terjadi beberapa saat menjelang musim panen. Akibatnya, petani setempat mengalami penurunan produksi sangat drastis. Sebelumnya, produksi petani dalam setiap 25 are lahan rata-rata mencapai 150 kilogram gabah. Begitu hama tikus merajalela, produksi petani paling hanya 100 kilogram gabah setiap 25 are lahan. "Selama ini, Dinas Pertanian tidak pernah melaporkan hal itu kepada Dewan," katanya seraya mendesak instansi terkait di Pemkab Gianyar secepatnya menindaklanjuti keluhan petani tersebut. (kmb13)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)