Irigasi
Tersumbat,
Petani
Abianbase Mengeluh
Gianyar
(Bali Post) -
Keberpihakan
pemerintah
terhadap
pembangunan
sektor
pertanian, tampaknya
masih
sangat rendah.
Buktinya,
keluhan
para petani
di
empat subak
di
wilayah Kelurahan
Abianbase,
Gianyar
masing-masing Subak
Tedung,
Subak Pekandelan,
Subak
Payal dan
Subak
Dukun, hingga
kini
belum mendapat
respon
positif. Mereka
mengeluhkan
distribusi air
ke
wilayahnya seringkali
ngadat
lantaran saluran
irigasi
tersumbat tanah.
Selain
itu,
mereka juga
mengeluhkan
jebolnya
terowongan
di
Subak Tedung
dan
serangan hama
tikus yang
berulangkali
merusak
tanaman padi
petani
di Subak
Pekandelan. Hal
itu
terungkap saat
Komisi B DPRD
Gianyar
bertatap muka
dengan
para pekaseh
dan
tokoh adat se-Kelurahan
Abianbase
di
Kantor Lurah
setempat,
Kamis (2/3)
kemarin.
Ditemui
seusai
acara tatap
muka
itu, Ketua
Komisi B DPRD
Gianyar
Pande Ketut
Suralaga
membenarkan
para
petani di
Abianbase
sedang
mengalami masalah.
Sejak
beberapa tahun
lalu, debit air
ke
subak itu
sangat
rendah akibat
tidak
optimalnya kondisi
saluran
irigasi tersier.
Saluran air
itu
sudah mengalami
pendangkalan
sehingga
mempengaruhi debit air
ke
empat subak
tersebut.
Saat
saluran irigasi
itu
kondisinya masih
bagus,
petani setempat
mengaku
bisa menanam
padi
tiga kali dalam
setahun.
Namun,
kini mereka
hanya
bisa menanam
padi
satu kali dalam
setahun
karena pasokan air
tidak
mencukupi. "Saat
musim
kemarau, mereka
terpaksa
menanam
palawija karena
tidak
ada lagi
pasokan air
ke
subak itu,"
katanya.
Kondisi
makin
memburuk begitu
terowongan
di
wilayah Subak
Pekandelan
jebol
beberapa waktu
lalu.
Perihal jebolnya
terowongan
itu,
sudah dilaporkan
petani
kepada Dinas
Pekerjaan
Umum (PU)
Gianyar.
Namun,
hingga kini
belum
ada tanda-tanda
akan
diperbaiki. Petani
mengaku
tidak berani
masuk
ke dalam
terowongan
untuk
membersihkan longsoran
tanah.
Komisi
B juga
mendengar laporan
yang menyebutkan
tanaman
padi di
Subak
Pekandelan sudah
berulangkali
diserang
hama
tikus. Serangan
binatang
mengerat
itu
terjadi beberapa
saat
menjelang musim
panen.
Akibatnya, petani
setempat
mengalami
penurunan
produksi
sangat
drastis. Sebelumnya,
produksi
petani
dalam setiap 25 are
lahan rata-rata
mencapai 150 kilogram
gabah.
Begitu hama
tikus
merajalela, produksi
petani paling
hanya 100 kilogram
gabah
setiap 25 are lahan.
"Selama
ini, Dinas
Pertanian
tidak
pernah melaporkan
hal itu
kepada
Dewan," katanya
seraya
mendesak instansi
terkait
di Pemkab
Gianyar
secepatnya menindaklanjuti
keluhan
petani tersebut.
(kmb13)