Aksi Ambil Untung Lemahkan Rupiah
Jakarta (Bali Post) -
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot
antarbank pada perdagangan Kamis (2/3) kemarin, melemah
10 poin ke level 9.185 dibandingkan penutupan Rabu (1/3)
di posisi 9.175 per dolar AS. Pelemahan rupiah lebih
diakibatkan aksi ambil untung temporer dan terimbas
pelemahan yen Jepang terhadap dolar AS, dari 115 menjadi
116.
Sampai kuartal pertama 2006, rupiah diperkirakan masih
menguat di kisaran 9.100/9.150 per dolar AS, didukung
sentimen positif penerbitan obligasi global pemerintah.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berpandangan,
selama penguatan nilai tukar itu ditopang oleh
fundamental ekonomi, tentu sangat baik. "Pada level
apapun rupiah tidak perlu kita khawatirkan, jika memang
penguatannya karena faktor fundamental," katanya.
Ia mengingatkan, kalau pergerakan upiah ditopang
oleh persepsi dan spekulasi harus segera ditangani. "Kalau
itu adalah penyebabnya fundamental plus adanya optimisme
confidance, mungkin itu jadi tantangan pemerintah untuk
me-manage dengan baik supaya tidak terjadi spekulasi
yang membalik. Karena itu, dalam pengelolaan kebijakan
dan komuniaksi kebijakan kita akan coba sehati-hati
mungkin," jelasnya.
Di lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di
Bursa Efek Jakarta (BEJ) kembali ditutup menguat 10,408
poin (0,839 persen) ke level 1.249,678. Indeks LQ45 juga
naik 2,705 poin (0,991 persen) ke level 275,657, dan
Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,504 poin (0,684
persen) ke posisi 221,419. Sejak perdagangan dibuka,
IHSG naik perlahan dan sempat mencapai level 1.250
ditopang oleh pembelian lanjutan pada sejumlah saham
berkapitalisasi besar.
Sentimen positif dari dalam negeri yang mengangkat IHSG
berasal dari penguatan nilai tukar rupiah mendekati
level 9.100 per dolar AS, penurunan sukubunga Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) ke level 12,73 persen, penurunan
inflasi di bulan Februari lalu menjadi 0,58 persen dari
bulan Januari 2006 di level 1,36 persen. Juga, rencana
Moody's untuk merevisi peringkat obligasi pemerintah
Indonesia. Investor asing membeli saham 529,975 juta
unit senilai 471,709 milyar. Sedangkan transaksi jual
mencapai 323,608 juta lembar saham senilai Rp
282,724 milyar, sehingga terjadi pembelian bersih Rp
188,985 milyar, naik dibandingkan perdagangan sebelumnya
Rp 100,201 milyar. Total volume perdagangan mencapai
2,347 milyar saham senilai Rp 1,657 trilyun dengan
frekuensi perdagangan 19.444 kali. Terdapat 193 saham
yang aktif diperdagangkan dengan rincian 68 saham naik,
80 saham tetap (stagnan) dan 45 saham melemah.
(kmb2)