kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 3 Maret 2006

 Ekonomi


Aksi Ambil Untung Lemahkan Rupiah
 

Jakarta (Bali Post) -
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank pada perdagangan Kamis (2/3) kemarin, melemah 10 poin ke level 9.185 dibandingkan penutupan Rabu (1/3) di posisi 9.175 per dolar AS. Pelemahan rupiah lebih diakibatkan aksi ambil untung temporer dan terimbas pelemahan yen Jepang terhadap dolar AS, dari 115 menjadi 116.

Sampai kuartal pertama 2006, rupiah diperkirakan masih menguat di kisaran 9.100/9.150 per dolar AS, didukung sentimen positif penerbitan obligasi global pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berpandangan, selama penguatan nilai tukar itu ditopang oleh fundamental ekonomi, tentu sangat baik. "Pada level apapun rupiah tidak perlu kita khawatirkan, jika memang penguatannya karena faktor fundamental," katanya.

Ia mengingatkan,  kalau pergerakan upiah ditopang oleh persepsi dan spekulasi harus segera ditangani. "Kalau itu adalah penyebabnya fundamental plus adanya optimisme confidance, mungkin itu jadi tantangan pemerintah untuk me-manage dengan baik supaya tidak terjadi spekulasi yang membalik. Karena itu, dalam pengelolaan kebijakan dan komuniaksi kebijakan kita akan coba sehati-hati mungkin," jelasnya.

Di lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) kembali ditutup menguat 10,408 poin (0,839 persen) ke level 1.249,678. Indeks LQ45 juga naik 2,705 poin (0,991 persen) ke level 275,657, dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,504 poin (0,684 persen) ke posisi 221,419. Sejak perdagangan dibuka,  IHSG naik perlahan dan sempat mencapai level 1.250 ditopang oleh pembelian lanjutan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Sentimen positif dari dalam negeri yang mengangkat IHSG berasal dari penguatan nilai tukar rupiah mendekati level 9.100 per dolar AS, penurunan sukubunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ke level 12,73 persen, penurunan inflasi di bulan Februari lalu menjadi 0,58 persen dari bulan Januari 2006 di level 1,36 persen. Juga, rencana Moody's untuk merevisi peringkat obligasi pemerintah Indonesia. Investor asing membeli saham 529,975 juta unit senilai 471,709 milyar. Sedangkan transaksi jual mencapai 323,608 juta lembar saham senilai Rp  282,724 milyar, sehingga terjadi pembelian bersih Rp 188,985 milyar, naik dibandingkan perdagangan sebelumnya Rp 100,201 milyar. Total volume perdagangan mencapai 2,347 milyar saham senilai Rp 1,657 trilyun dengan frekuensi perdagangan 19.444 kali. Terdapat 193 saham yang aktif diperdagangkan dengan rincian 68 saham naik, 80 saham tetap (stagnan) dan 45 saham melemah. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)