kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 3 Maret 2006

 Bali


Fakta, Disiplin di Jalan Kurang
 

Denpasar (Bali Post) -
Disiplin masyarakat berlalu lintas di wilayah Poltabes Denpasar dinilai masih sangat kurang. Fakta itu sangat signifikan jika mencermati data statistik selama dua bulan terakhir. Periode Januari-Februari 2006 saja tercatat 5.888 kasus pelanggaran lalin -- dari helm, SIM, marka jalan, rambu-rambu, hingga sabuk keselamatan.

Pelanggaran terbanyak dilakukan oleh remaja usia di bawah  15 tahun yang mencapai 53 persen. Usia 15-20 tahun sebanyak 46 persen dan usia 20-30 tahun hanya 28 persen. Sedangkan dari jenis SIM, pelanggaran oleh pemilik SIM C (sepeda motor, terbanyak (48 persen), SIM A (mobil) 30 persen dan SIM B (truk dan bus) lima persen.

Mencermati besarnya angka statistik pelanggaran anak usia sekolah itu, Kapoltabes Denpasar Kombes Drs. Dewa Made Parsana bersama Kasat Lantas Kompol Nyoman Artana, S.H. mengatakan agar tertib dan disiplin berlalu lintas mendapat perhatian semua elemen masyarakat. ''Bukan bermaksud menohok, kepada orangtua yang memiliki anak masih di bawah umur agar bisa menahan diri. Jangan memberi peluang anaknya mengendarai sepeda motor ke sekolah,'' kata Kapoltabes, Kamis (2/3) kemarin.

''Memang dari segi keterampilan, anak SMP sudah jago-jago naik sepeda motor, meski belum punya SIM. Namun, berlalu lintas yang aman tidak cukup modal terampil, tetapi perlu  mental. Anak muda cenderung mentalnya belum stabil. Implikasinya, tidak saja membahayangan diri sendiri, boleh jadi karena kesalahan si anak, orang lain bisa terkena imbasnya,'' ujar Parsana.

Kompol Nyoman Artana menambahkan, periode 2004 terjadi 109 kasus laka lantas, 113 orang meninggal dunia. Sedangkan 2005 115 kasus, 95 di antaranya meninggal. Sedangkan pada Januari 2006, terjadi 18 kasus, 14 meninggal dunia, 7 luka berat, dan Februari 2006 terjadi 27 kasus 15 meninggal dunia 18 luka berat.

''Demikian tingginya angka meninggal dunia. Karena itu harap maklum untuk pelanggaran anak-anak tanpa SIM, sepeda motornya ditahan,'' ujar Artana.

Sosialisasi agar anak usia SMP tidak membawa sepeda motor, pihaknya sudah ke sekolah-sekolah. Dari pantauannya masih ada dua sekolah yang tidak memberikan perhatian. ''Banyak juga anak-anak membawa sepeda motor, dititipkan di rumah orang. Dalam hal ini kami memang susah. Tanpa ada kesadaran orangtua siswa,'' tambah Artana. (kmb11)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)