Fakta, Disiplin di Jalan Kurang
Denpasar (Bali Post) -
Disiplin masyarakat berlalu lintas di wilayah Poltabes
Denpasar dinilai masih sangat kurang. Fakta itu sangat
signifikan jika mencermati data statistik selama dua
bulan terakhir. Periode Januari-Februari 2006 saja
tercatat 5.888 kasus pelanggaran lalin -- dari helm, SIM,
marka jalan, rambu-rambu, hingga sabuk keselamatan.
Pelanggaran terbanyak dilakukan oleh remaja usia di
bawah 15 tahun yang mencapai 53 persen. Usia 15-20
tahun sebanyak 46 persen dan usia 20-30 tahun hanya 28
persen. Sedangkan dari jenis SIM, pelanggaran oleh
pemilik SIM C (sepeda motor, terbanyak (48 persen), SIM
A (mobil) 30 persen dan SIM B (truk dan bus) lima persen.
Mencermati besarnya angka statistik pelanggaran anak
usia sekolah itu, Kapoltabes Denpasar Kombes Drs. Dewa
Made Parsana bersama Kasat Lantas Kompol Nyoman Artana,
S.H. mengatakan agar tertib dan disiplin berlalu lintas
mendapat perhatian semua elemen masyarakat. ''Bukan
bermaksud menohok, kepada orangtua yang memiliki anak
masih di bawah umur agar bisa menahan diri. Jangan
memberi peluang anaknya mengendarai sepeda motor ke
sekolah,'' kata Kapoltabes, Kamis (2/3) kemarin.
''Memang dari segi keterampilan, anak SMP sudah
jago-jago naik sepeda motor, meski belum punya SIM.
Namun, berlalu lintas yang aman tidak cukup modal
terampil, tetapi perlu mental. Anak muda cenderung
mentalnya belum stabil. Implikasinya, tidak saja
membahayangan diri sendiri, boleh jadi karena kesalahan
si anak, orang lain bisa terkena imbasnya,'' ujar
Parsana.
Kompol Nyoman Artana menambahkan, periode 2004 terjadi
109 kasus laka lantas, 113 orang meninggal dunia.
Sedangkan 2005 115 kasus, 95 di antaranya meninggal.
Sedangkan pada Januari 2006, terjadi 18 kasus, 14
meninggal dunia, 7 luka berat, dan Februari 2006 terjadi
27 kasus 15 meninggal dunia 18 luka berat.
''Demikian tingginya angka meninggal dunia. Karena itu
harap maklum untuk pelanggaran anak-anak tanpa SIM,
sepeda motornya ditahan,'' ujar Artana.
Sosialisasi agar anak usia SMP tidak membawa sepeda
motor, pihaknya sudah ke sekolah-sekolah. Dari
pantauannya masih ada dua sekolah yang tidak memberikan
perhatian. ''Banyak juga anak-anak membawa sepeda motor,
dititipkan di rumah orang. Dalam hal ini kami memang
susah. Tanpa ada kesadaran orangtua siswa,'' tambah
Artana. (kmb11)