kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 28 Maret 2006

 Artikel


Dari beberapa komponen pendukung terindikasi bahwa kontributor signifikan pertumbuhan ekonomi selama ini adalah sektor konsumsi.
Dalam kelesuan ekonomi komponen ini menjadi sangat sulit berkembang tanpa didukung oleh daya beli yang tinggi dari masyarakat.

-----------------------

Pengangguran di Tengah Daya Serap Pertumbuhan Ekonomi
Oleh
I W Widya Arsana 

PERNYATAAN Gubernur BI bahwa pemasalahan terbesar yang harus dituntaskan adalah pengangguran dan kemiskinan menjadi catatan penting pemerintah. Hal ini mengisyaratkan kendala inflasi sebagai masalah krusial lainnya relatif bisa dikendalikan menyusul pembatalan kenaikan TDL. Pada kesempatan lain Kepala Bappenas mengungkapkan daya serap pertumbuhan ekonomi baru mencapai 180-250 ribu lapangan kerja baru. Realitas tersebut masih di bawah asumsi RPJM 2004-2009 sebesar 400-500 ribu lapangan kerja per satu persen petumbuhan ekonomi (BP, 22/3).

-------------------------------------------

Realitas daya serap perekonomian yang baru mencapai kurang lebih 50 persen dari asumsi menjadi pekerjaan rumah yang mendesak bagi pemerintah. Harus segera dilakukan langkah-langkah strategis karena akumulasi masalah pengangguran menjadi awal permasalahan sosial ekonomi lainnya. Peningkatan pengangguran secara signifikan berakibat pada penurunan pendapatan. Dalam jangka panjang daya beli rumah tangga menurun sehingga secara agregat pendapatan domestik ikut terpengaruh.

Untuk itu kebijakan perekonomian dalam berbagai level harus diarahkan untuk sensitif menciptakan lapangan kerja baru. Dominasi sektor padat modal yang dikembangkan dan memberikan kontribusi semu pada pertumbuhan ekonomi harus diganti dengan pola padat karya. Proyek-proyek padat karya akan memberikan stimulus positif pada penyerapan tenaga kerja yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

 

Langkah Nyata dan Komprehensif

Masalah pengangguran menuntut totalitas semua pihak dalam menciptakan lapangan kerja baru. Selama ini kontribusi penciptaan lapangan kerja yang mampu menyerap atau menurunkan tingkat pengangguran didominasi oleh sektor riil. Mendorong petumbuhan sektor riil adalah keharusan dalam suasana perekonomian yang stagnan. Berbagai kendala yang selama ini masih dihadapi sektor riil harus segera dituntaskan. Kebijakan moneter yang tepat, kredit bunga yang rendah, peningkatan fungsi intermediasi perbankan barangkali langkah-langkah nyata yang saat ini mendesak untuk dilaksanakan.

Langkah nyata dan komprehensif dari berbagai pihak diharapkan mampu menekan pengangguran sampai limit terendah. Karena inilah yang menjadi indikator nyata perbaikan perekonomian. Sementara indikator lainnya seperti inflasi, nilai tukar, suku bunga, indeks harga dan pertumbuhan merupakan indikator relatif yang sifatnya sebagai penjelas antara.

Apa yang diistilahkan dengan anomali dalam perekonomian tentu tidak diinginkan oleh semua pihak. Bahwasanya pertumbuhan yang terjadi meningkat sangat tinggi sementara disisi lain tidak diikuti oleh penurunan tingkat pengangguran. Tetapi justru yang terjadi adalah peningkatan angka pengangguran. Kalau demikian adanya maka jelas bahwa pertumbuhan yang terjadi tidak diikuti oleh kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja baru dan penyerapan angkatan kerja.

Hal ini bisa terjadi kalau struktur perekonomian didominasi oleh industri berbasis modal. Pertumbuhan yang terjadi dibangun oleh investasi yang digerakkan oleh sektor-sektor padat modal dengan kapasitas output relatif besar. Output yang besar memberikan kontribusi pada perekonomian dengan tidak diimbangi oleh kemampuan menyerap tenaga kerja. Ini bisa menjadi masalah dengan posisi yang berlawanan kalau dianalisis secara makro.

Dari beberapa komponen pendukung terindikasi bahwa kontributor signifikan pertumbuhan ekonomi selama ini adalah sektor konsumsi. Dalam kelesuan ekonomi komponen ini menjadi sangat sulit berkembang tanpa didukung oleh daya beli yang tinggi dari masyarakat. Sebaliknya kalau dorongan konsumsi bisa dipacu maka terbukanya keran impor tanpa batas akan  mengarahkan konsumsi pada produk impor. Lambat namun pasti produksi dalam negeri akan menjadi semakin lemah karena konsumsi barang menurun. Segala produksi yang ada tidak akan mampu menciptakan lebih banyak atau mempertahankan keberadaanya untuk menyerap tenaga kerja.

Seandainya sumber daya alam yang dikombinasikan dengan populasi penduduk secara maksimal bisa dimanfaatkan maka perekonomian yang kuat bisa diwujudkan. Dalam kenyataannya kemampuan tersebut barangkali masih relatif rendah dan perlu dipacu untuk mengejar ketertinggalan. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh orang asing yang lebih mampu melihat potensi dan kelebihan sumber daya alam yang kita miliki.

Pro-kontra tentang beberapa investasi asing yang marak selama ini harus segera ditindaklanjuti dalam kerangka untuk menemukan solusi saling menguntungkan. Pola-pola kerja samanya mesti ditinjau ulang yang disesuaikan dengan realitas dan perpaduan antara kepentingan bisnis dengan kepentingan sebagai sebuah bangsa. Untuk itu, pemerintah perlu mengambil langkah kongkrit yang mendukung kebangkitan investasi dan sektor riil.

Selain investasi dan sektor riil kunci penanggulangan pengangguran bisa dibuka dari upaya untuk mendorong pemakaian produk barang dan jasa dalam negeri.Hal ini bisa membangkitkan kepercayaan diri akan keunggulan dan kemampuan bersaing yang memberikan semangat untuk berproduksi. Produksi dengan diimbangi konsumsi akan menciptakan keseimbangan pasar yang mampu memberikan stabilitas dalam jangka panjang. Jika hal ini bisa dilakukan maka pengangguran dan kemiskinan tidak lagi menjadi masalah, bahkan pemulihan ekonomipun bisa dilakukan dengan cepat dan berkelanjutan.

Penulis, PNS, analis lintas sektoral dan Nerwil BPS Bangli

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)