Dari beberapa
komponen
pendukung
terindikasi
bahwa
kontributor signifikan
pertumbuhan
ekonomi
selama ini
adalah
sektor konsumsi.
Dalam
kelesuan
ekonomi
komponen ini
menjadi
sangat sulit
berkembang
tanpa
didukung oleh
daya
beli yang tinggi
dari
masyarakat.
-----------------------
Pengangguran
di
Tengah Daya
Serap
Pertumbuhan Ekonomi
Oleh
I W Widya
Arsana
PERNYATAAN Gubernur BI
bahwa
pemasalahan terbesar
yang harus
dituntaskan
adalah
pengangguran dan
kemiskinan
menjadi
catatan penting
pemerintah.
Hal ini
mengisyaratkan
kendala
inflasi sebagai
masalah
krusial lainnya
relatif
bisa dikendalikan
menyusul
pembatalan
kenaikan TDL.
Pada
kesempatan lain
Kepala
Bappenas mengungkapkan
daya
serap pertumbuhan
ekonomi
baru mencapai 180-250
ribu
lapangan kerja
baru.
Realitas
tersebut
masih
di bawah
asumsi RPJM 2004-2009
sebesar 400-500
ribu
lapangan kerja per
satu
persen petumbuhan
ekonomi (BP, 22/3).
-------------------------------------------
Realitas
daya
serap perekonomian
yang baru
mencapai
kurang
lebih 50 persen
dari
asumsi menjadi
pekerjaan
rumah yang
mendesak
bagi
pemerintah.
Harus
segera
dilakukan langkah-langkah
strategis
karena
akumulasi masalah
pengangguran
menjadi
awal permasalahan
sosial
ekonomi lainnya.
Peningkatan
pengangguran
secara
signifikan berakibat
pada
penurunan pendapatan.
Dalam
jangka
panjang daya
beli
rumah tangga
menurun
sehingga secara
agregat
pendapatan domestik
ikut
terpengaruh.
Untuk
itu
kebijakan perekonomian
dalam
berbagai level harus
diarahkan
untuk
sensitif menciptakan
lapangan
kerja
baru.
Dominasi
sektor
padat modal yang
dikembangkan dan
memberikan
kontribusi
semu
pada pertumbuhan
ekonomi
harus diganti
dengan
pola padat
karya.
Proyek-proyek
padat
karya
akan memberikan
stimulus positif
pada
penyerapan tenaga
kerja yang
mampu
meningkatkan pendapatan
masyarakat.
Langkah
Nyata
dan
Komprehensif
Masalah
pengangguran
menuntut
totalitas
semua
pihak dalam
menciptakan
lapangan
kerja
baru.
Selama
ini
kontribusi penciptaan
lapangan
kerja yang
mampu
menyerap atau
menurunkan
tingkat
pengangguran didominasi
oleh
sektor riil.
Mendorong
petumbuhan
sektor
riil adalah
keharusan
dalam
suasana perekonomian
yang stagnan.
Berbagai
kendala yang
selama
ini masih
dihadapi
sektor
riil harus
segera
dituntaskan.
Kebijakan
moneter yang
tepat,
kredit bunga yang
rendah,
peningkatan fungsi
intermediasi
perbankan
barangkali
langkah-langkah
nyata yang
saat
ini mendesak
untuk
dilaksanakan.
Langkah
nyata
dan komprehensif
dari
berbagai pihak
diharapkan
mampu
menekan pengangguran
sampai limit
terendah.
Karena
inilah yang
menjadi
indikator nyata
perbaikan
perekonomian.
Sementara
indikator
lainnya
seperti inflasi,
nilai
tukar, suku
bunga,
indeks harga
dan
pertumbuhan merupakan
indikator
relatif yang
sifatnya
sebagai
penjelas antara.
Apa
yang diistilahkan
dengan
anomali dalam
perekonomian
tentu
tidak diinginkan
oleh
semua pihak.
Bahwasanya
pertumbuhan yang
terjadi
meningkat sangat
tinggi
sementara disisi
lain
tidak diikuti
oleh
penurunan tingkat
pengangguran.
Tetapi
justru yang
terjadi
adalah peningkatan
angka
pengangguran.
Kalau
demikian
adanya
maka jelas
bahwa
pertumbuhan yang terjadi
tidak
diikuti oleh
kemampuan
untuk
menciptakan lapangan
kerja
baru dan
penyerapan
angkatan
kerja.
Hal ini
bisa terjadi
kalau
struktur perekonomian
didominasi
oleh
industri berbasis
modal.
Pertumbuhan yang
terjadi
dibangun oleh
investasi yang
digerakkan
oleh
sektor-sektor padat
modal dengan
kapasitas output
relatif
besar. Output yang
besar
memberikan kontribusi
pada
perekonomian dengan
tidak
diimbangi oleh
kemampuan
menyerap
tenaga
kerja.
Ini
bisa
menjadi masalah
dengan
posisi yang berlawanan
kalau
dianalisis secara
makro.
Dari beberapa
komponen
pendukung
terindikasi
bahwa
kontributor signifikan
pertumbuhan
ekonomi
selama ini
adalah
sektor konsumsi.
Dalam
kelesuan
ekonomi
komponen ini
menjadi
sangat sulit
berkembang
tanpa
didukung oleh
daya
beli yang tinggi
dari
masyarakat.
Sebaliknya kalau
dorongan
konsumsi
bisa
dipacu maka
terbukanya
keran
impor tanpa
batas
akan
mengarahkan
konsumsi
pada
produk impor.
Lambat
namun pasti
produksi
dalam
negeri
akan menjadi
semakin
lemah karena
konsumsi
barang
menurun. Segala
produksi yang
ada
tidak
akan mampu
menciptakan
lebih
banyak atau
mempertahankan
keberadaanya
untuk
menyerap tenaga
kerja.
Seandainya
sumber
daya alam yang
dikombinasikan
dengan
populasi penduduk
secara
maksimal bisa
dimanfaatkan
maka
perekonomian yang kuat
bisa
diwujudkan.
Dalam
kenyataannya
kemampuan
tersebut
barangkali
masih
relatif rendah
dan
perlu dipacu
untuk
mengejar ketertinggalan.
Hal inilah
yang dimanfaatkan
oleh
orang asing yang
lebih
mampu melihat
potensi
dan kelebihan
sumber
daya alam yang
kita
miliki.
Pro-kontra
tentang
beberapa investasi
asing yang
marak
selama ini
harus
segera ditindaklanjuti
dalam
kerangka untuk
menemukan
solusi
saling menguntungkan.
Pola-pola
kerja
samanya mesti
ditinjau
ulang yang
disesuaikan
dengan
realitas dan
perpaduan
antara
kepentingan bisnis
dengan
kepentingan sebagai
sebuah
bangsa.
Untuk
itu,
pemerintah perlu
mengambil
langkah
kongkrit yang mendukung
kebangkitan
investasi
dan
sektor riil.
Selain
investasi
dan
sektor riil
kunci
penanggulangan pengangguran
bisa
dibuka dari
upaya
untuk mendorong
pemakaian
produk
barang dan
jasa
dalam negeri.Hal
ini
bisa membangkitkan
kepercayaan
diri
akan
keunggulan
dan
kemampuan bersaing
yang memberikan
semangat
untuk
berproduksi. Produksi
dengan
diimbangi konsumsi
akan
menciptakan
keseimbangan
pasar yang
mampu
memberikan stabilitas
dalam
jangka panjang.
Jika
hal ini
bisa
dilakukan maka
pengangguran
dan
kemiskinan tidak
lagi
menjadi masalah,
bahkan
pemulihan ekonomipun
bisa
dilakukan dengan
cepat
dan berkelanjutan.
Penulis,
PNS, analis
lintas
sektoral dan
Nerwil BPS
Bangli