Rupiah Menuju 9.000
Jakarta (Bali Post) -
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot
antarbank pada perdagangan Senin (27/3) kemarin, terus
menunjukkan keperkasaannya mendekati 9.000, atau menguat
85 poin ke level 9.040 dibanding penutupan Jumat (24/3)
di posisi 9.125 per dolar AS. Derasnya dana asing yang
masuk (capital inflow) masih mendorong nilai rupiah
menguat ke level 9.040 per dolar AS di tengah rencana
kenaikan bunga The Fed Amerika Serikat pada 28 Maret
2006.
Meski ada penguatan, beberapa pelaku pasar meyakini
rupiah akan tetap bergerak stabil di level 9.100 per
dolar AS. Pergerakan nilai rupiah ke level 9.000 per
dolar AS memang masih terbuka, tetapi masih untuk
mencapai ke arah itu masih membutuhkan waktu.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di
Bursa Efek Jakarta (BEJ) ditutup menguat 0,576 poin
(0,044 persen) ke level 1.311,950 terutama akibat
kenaikan ISAT, BBCA dan BDMN. IHSG sepanjang perdagangan
bergerak di kisaran sempit, karena pemodal masih
menunggu rencana The Fed, Amerika Serikat, yang
diperkirakan akan menaikkan suku bunganya pada pertemuan
28 Maret 2006. Pelaku pasar kemungkinan akan kembali
lebih aktif melakukan transaksi pada tanggal 3 April
2006 setelah rencana kenaikan suku bunga The Fed dan
data inflasi bulan Maret diumumkan.
Sedang Indeks LQ45 juga ditutup menguat tipis 0,058 poin
(0,020 persen) ke level 290,418, sedangkan Jakarta
Islamic Index (JII) turun 0,271 poin (0,116 persen) ke
posisi 233,098. Investor asing membeli saham sebanyak
145,016 juta unit senilai Rp 271,812 milyar.
Sedangkan transaksi jual 168,042 juta lembar saham
senilai Rp 395,185 milyar, sehingga terjadi penjualan
bersih Rp 123,374 milyar, atau berkurang jika
dibandingkan akhir pekan lalu, sebesar Rp 163,188 milyar.
Sementara total volume perdagangan mencapai 1,022 milyar
saham senilai Rp 905,862 milyar dengan frekuensi
perdagangan 9.717 kali. Terdapat 169 jenis saham yang
aktif diperdagangkan dengan rincian 48 saham naik, 74
saham tetap (stagnan) dan 47 saham melemah.
(kmb2)