|
Menumbuhkan
Kepedulian
pada
Kehidupan
RANGKAIAN
hari
raya Nyepi
ada
empat tahapan.
Dari Melasti,
Nyejer,
Tawur dan
Nyepi.
Tahapan
hari
raya tersebut
sebagai
rangkaian ritual sakral
untuk
menyemaikan nilai-nilai
spiritual Veda ke
dalam
lubuk hati
umat.
Nilai-nilai
spiritual itu agar
menjadi
bagian yang integral dalam
diri
setiap umat.
Karena
nilai spiritual itulah
yang akan
menjadi
sumber kendali
perilaku
dalam
mengarungi dinamika
kehidupan
ini.
Dalam
ritual Melasti
dinyatakan
dalam
Lontar Sang Aji
Swamandala: ''melasti
ngaran
ngiring prawatek
dewata,
anganyutaken laraning
jagat, papa
klesa,
letuhing bhuwana''.
Lontar
Sunarigama menyatakan
''melasti
ngaran
ngamet sarining
merta ring
telenging
segara''.
Jadinya
Melasti
itu adalah
meningkatkan
kualitas
bakti
kita pada
Tuhan
untuk konsisten
mengikuti
tuntunan-Nya (ngiring
prawatek
dewata).
Kualitas
bakti
pada Tuhan
itu
untuk mendatangkan
kepedulian
kita
secara aktif
mengatasi
penderitaan
masyarakat (anganyutaken
laraning
jagat).
Di
samping
itu peduli
pada
upaya menghilangkan
kekotoran
diri (anganyutaken
papa klesa).
Kekotoran
diri
berupa kegelapan
rohani (awidya),
mementingkan
diri
sendiri (asmita),
pengumbaran
hawa
nafsu secara
berlebihan (raga),
pendendam,
pembenci
dan
dengki (dwesa)
dan
penakut karena
keterikatan
pada
nikmatnya ilusi
duniawi (abhinivesa).
Menghindari
perilaku
merusak
alam lingkungan (anganyutaken
letuhing
bhuwana).
Jadi
Melasti
mengingatkan umat
agar berbakti
pada
Tuhan itu
tidak
berhenti pada
berbakti
saja.
Tetapi
berbakti
pada
Tuhan untuk
memotivasi
munculnya
kepedulian
pada
perbaikan individual, sosial
dan
nutural yang yang
kesemuanya
itu
menyangkut pada
kepedulian
kita
pada nilai-nilai yang
menyangkut
semua
sistem kehidupan.
Kehidupan
akan
berlangsung
dengan
baik melalui
sistem
alam, sistem
sosial,
sistem hidup
individual yang berlandaskan
nilai-nilai spiritual.
Setelah
Melasti
dilanjutkan dengan
Nyejer,
umumnya dilakukan
di Pura
Bale Agung
Desa
Pakraman bersangkutan.
Istilah
Nyejer itu
berkonotasi
untuk
membangun ketetapan
hati
untuk terus
mengikuti (ngiring)
tuntutan
Prawatek
Dewata
manifestasi Tuhan
sehingga
kepedulian
untuk
tetap menjaga
kualitas
kehidupan individual,
sosial
dan natural yang benar
terus
terjaga dan
berlanjut
sepanjang
zaman.
Tawur
Kesanga
sebagai ritual sakral
yang dilakukan
saat
Tilem Kesanga
bermakna
untuk
memotivasi sikap
hidup
umat agar senantiasa
mengembalikan
alam (Bhuta)
ini agar
kembali
menjadi Bhuta
Hita
sebagaimana dinyatakan
dalam
Sarasamuscaya 135.
Bhuta
Hita
adalah alam yang
sejahtera.
Dalam
Agastia
Parwa dinyatakan ''Bhuta
Yadnya
ngarania taur
muang
kapujan ring tuwuh''.
Artinya
Bhuta
Yadnya itu
mengembalikan
kesejahteraan
alam
dengan mengasihi
tumbuh-tumbuhan.
Tumbuh-tumbuhan
itu
sumber makanan
hewan
dan manusia.
Tawur
Agung
itu ritual yang makna
spiritualnya
untuk
menyucikan Tri Loka (bhur
bhuwah
dan swah
loka).
Artinya,
untuk
mengingatkan umat
agar jangan
melakukan
pengotoran
alam di
Bhur
Loka ini
karena
akan
menimbulkan
juga
kerusakan sampai
ke
Bhuwah dan
Swah
Loka.
Seperti
terjadinya
polusi
udara yang sudah
amat
merisaukan karena
menyebabkan
semakin
meningkatnya pemanasan
global.
Semakin
rusaknya
lapisan
ozon sehingga
sinar
matahari terhalang
melakukan
swadharma
alaminya
memberikan
sumber
hidup pada
isi
alam ini.
Rusaknya
Bhuwah
dan Swah
Loka
karena rusaknya
perilaku
manusia
di Bhur
Loka.
Kalau
bakti
pada Tuhan
sudah
mampu mendatangkan
kepedulian
umat
pada kelestarian
alam
lingkungan, kesucian
individu,
dan
peduli pada
penderitaan
sosial,
hal itulah yang
akan
memberikan
kehidupan yang
hening,
sepi dari
penonjolan
gejolak
hawa nafsu.
Jadi
Nyepi
adalah suatu
tonggak
peringatan agar umat
memulai
hidupnya dengan
penguasaan
diri yang
artinya
menyepikan gejolak
nafsu
indriawi dengan
simbol
melakukan catur
brata
penyepian.
|