kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 28 Maret 2006

 Mimbar Hindu


Menumbuhkan
Kepedulian pada Kehidupan 

RANGKAIAN hari raya Nyepi ada empat tahapan. Dari Melasti, Nyejer, Tawur dan Nyepi. Tahapan hari raya tersebut sebagai rangkaian ritual sakral untuk menyemaikan nilai-nilai spiritual Veda ke dalam lubuk hati umat. Nilai-nilai spiritual itu agar menjadi bagian yang integral dalam diri setiap umat. Karena nilai spiritual itulah yang akan menjadi sumber kendali perilaku dalam mengarungi dinamika kehidupan ini.

Dalam ritual Melasti dinyatakan dalam Lontar Sang Aji Swamandala: ''melasti ngaran ngiring prawatek dewata, anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana''. Lontar Sunarigama menyatakan ''melasti ngaran ngamet sarining merta ring telenging segara''. Jadinya Melasti itu adalah meningkatkan kualitas bakti kita pada Tuhan untuk konsisten mengikuti tuntunan-Nya (ngiring prawatek dewata).

Kualitas bakti pada Tuhan itu untuk mendatangkan kepedulian kita secara aktif mengatasi penderitaan masyarakat (anganyutaken laraning jagat). Di samping itu peduli pada upaya menghilangkan kekotoran diri (anganyutaken papa klesa).

Kekotoran diri berupa kegelapan rohani (awidya), mementingkan diri sendiri (asmita), pengumbaran hawa nafsu secara berlebihan (raga), pendendam, pembenci dan dengki (dwesa) dan penakut karena keterikatan pada nikmatnya ilusi duniawi (abhinivesa). Menghindari perilaku merusak alam lingkungan (anganyutaken letuhing bhuwana).

Jadi Melasti mengingatkan umat agar berbakti pada Tuhan itu tidak berhenti pada berbakti saja. Tetapi berbakti pada Tuhan untuk memotivasi munculnya kepedulian pada perbaikan individual, sosial dan nutural yang yang kesemuanya itu menyangkut pada kepedulian kita pada nilai-nilai yang menyangkut semua sistem kehidupan. Kehidupan akan berlangsung dengan baik melalui sistem alam, sistem sosial, sistem hidup individual yang berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Setelah Melasti dilanjutkan dengan Nyejer, umumnya dilakukan di Pura Bale Agung Desa Pakraman bersangkutan. Istilah Nyejer itu berkonotasi untuk membangun ketetapan hati untuk terus mengikuti (ngiring) tuntutan Prawatek Dewata manifestasi Tuhan sehingga kepedulian untuk tetap menjaga kualitas kehidupan individual, sosial dan natural yang benar terus terjaga dan berlanjut sepanjang zaman.

Tawur Kesanga sebagai ritual sakral yang dilakukan saat Tilem Kesanga bermakna untuk memotivasi sikap hidup umat agar senantiasa mengembalikan alam (Bhuta) ini agar kembali menjadi Bhuta Hita sebagaimana dinyatakan dalam Sarasamuscaya 135. Bhuta Hita adalah alam yang sejahtera. Dalam Agastia Parwa dinyatakan ''Bhuta Yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh''. Artinya Bhuta Yadnya itu mengembalikan kesejahteraan alam dengan mengasihi tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itu sumber makanan hewan dan manusia. Tawur Agung itu ritual yang makna spiritualnya untuk menyucikan Tri Loka (bhur bhuwah dan swah loka). Artinya, untuk mengingatkan umat agar jangan melakukan pengotoran alam di Bhur Loka ini karena akan menimbulkan juga kerusakan sampai ke Bhuwah dan Swah Loka. Seperti terjadinya polusi udara yang sudah amat merisaukan karena menyebabkan semakin meningkatnya pemanasan global.

Semakin rusaknya lapisan ozon sehingga sinar matahari terhalang melakukan swadharma alaminya memberikan sumber hidup pada isi alam ini. Rusaknya Bhuwah dan Swah Loka karena rusaknya perilaku manusia di Bhur Loka.

Kalau bakti pada Tuhan sudah mampu mendatangkan kepedulian umat pada kelestarian alam lingkungan, kesucian individu, dan peduli pada penderitaan sosial, hal itulah yang akan memberikan kehidupan yang hening, sepi dari penonjolan gejolak hawa nafsu.

Jadi Nyepi adalah suatu tonggak peringatan agar umat memulai hidupnya dengan penguasaan diri yang artinya menyepikan gejolak nafsu indriawi dengan simbol melakukan catur brata penyepian.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)