Penertiban Rumah Liar Diminta tak Tebang Pilih
Bangli (Bali Post) -
Upaya pemerintah menertibkan rumah liar yang mencaplok
kawasan hutan lindung di Kintamani diingatkan tidak
tebang pilih. Tidak pilih kasih dalam mendindak siapa
saja yang memang terbukti melanggar aturan.
Demikian dikatakan anggota Komisi B DPRD Bangli I Nyoman
Gegel Wesnawa yang juga salah satu warga Desa Songan,
Kintamani Senin (27/3) kemarin.
Dikatakan, perlu pengkajian dan penjelasan lebih lanjut
mana saja di Kintamani yang masuk kawasan hutan lindung
serta lokasi dilarang mendirikan bangunan. Sebab yang
gencar dilakukan penertiban baru sebatas di depan hidung
yang sering dilalui kendaraan. Semetara daerah pelosok
pedalaman disinyalir telah beralih fungsi justru luput
dari penertiban.
Gegel mengaku sangat mendukung upaya penertiban semacam
itu. Namun harus dilandasi asas keadilan bagi semua
pihak agar semua pelaku pencaplokan hutan lindung ikut
ditindak.
Upaya menertibkan itu pun harus dilandasi penjelasan
secara kooperatif pada masyarakat di mana saja masuk
kawasan hutan lindung, sehingga masyarakat menjadi jelas
dan upaya paksa menggusur warga yang ingin mencari
keuntungan di tempat itu tidak terulang. Walau upaya
menertibkan kawasan hutan patut didukung semua pihak
namun belum cukup menertibkan seluruh kawasan di
Kintamani yang dicapolok sebagai pemukiman.
Pascapenertiban itu, pemerintah mesti menindaklanjuti
bersama perangkat desa dengan hati lapang dan kepala
dingin. Terutama mereka yang tergusur akan ditempatkan
di mana. Sebab kebanyakan warga yang terkena gusur itu
termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah dan ingin
mencari keberuntungan ekonomi di tempat itu. Gegel
sangat menyesalkan adanya penertiban sampai mencabuti
pohon tomat warga yang siap panen. Semestinya pencabutan
pohon yang memiliki nilai ekonomis tinggi bagi
masyarakat tidak perlu terjadi. Pemerintah jangan arogan
dan begitu saja mencabuti tanpa memberikan batasan waktu
bagi pemilik untuk membuka rumah liar termasuk ladang
pertanian. Kerugian petani walau kecil di mata
pemerintah namun berarti besar bagi warga Songan. ''Warga
kami yang tinggal dengan mendirikan rumah semipermanen
di tempat itu adalah untuk mengadu nasib. Bila sekarang
mereka kena gusur, terutama yang sudah tak memiliki
rumah di desa akan diberikan tempat tinggal di mana.
Pemerintah harus mencarikan jalan keluar sehingga tidak
ada warga yang telantar,'' pintanya.
(kmb17)