Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Pawai Ogoh-ogoh jangan Diwarnai Tindakan Negatif
NYEPI
bermakna mawas diri, puasa dari segala bentuk kegiatan.
Sehari sebelum Nyepi dilakukan tawur agung. Sejak
beberapa tahun belakangan ini, perayaan Nyepi disambut
dengan pawai ogoh-ogoh. Prosesi ogoh-ogoh tampaknya akan
dilakukan dengan berbagai rambu-rambu di Bali. Sejumlah
daerah ada yang mengizinkan pawai, namun tak boleh
melewati batas banjar lain. Daerah lain ada juga yang
melarang, tetapi pada prinsipnya pelaksanaan pawai
ogoh-ogoh tidak dilarang asalkan keamanan tetap kondusif.
Ogoh-ogoh sebagai kreativitas anak-anak muda,
dikembangkan dengan berbagai cara dan bentuk. Kalau
tujuannya positif tentu tidak apa-apa, tetapi sering
ditunggangi dengan kepentingan tertentu, malah dipakai
pelampiasan untuk kepentingan-kepentingan perorangan,
bentrok antarpemuda, tindak kriminal dan lainnya. Aparat
keamanan, desa pakraman, tokoh adat dan lembaga adat
mestinya bersatu padu sehingga dalam pelaksanaan Nyepi
nanti dapat berjalan dengan aman dan kondusif dan
betul-betul khidmat. Itulah salah satu opini dalam acara
Warung Global, Senin (27/3) kemarin yang disiarkan Radio
Global 96,5 FM yang dipancarluaskan Radio Genta Swara
Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman
selengkapnya.
-----------------------------------
Sebagai pengunjung pertama, Wayan Sudira di Batuan
Gianyar menyatakan selamat dan memberi acungan jempol
bagi generasi muda di Bali. Mereka sangat antusias
sampai begadang membuat ogoh-ogoh dan sudah siap
mengaraknya pada saat pengerupukan. Melalui kegiatan ini
para anggota STT menuangkan kreativitasnya dengan
harapan Tahun Isaka 1928 ini merupakan kebangkitan
Hindu. Ia berharap kepada pejabat serta PHDI bersuara,
turun memberikan pencerahan mengenai makna ogoh-ogoh.
Dalam proses pengamanan semua komponen masyarakat
diharapkan berkerja sama, para klian banjar, hansip,
karang tarun harus berpartisipasi terjun langsung dalam
menciptakan keamanan.
Walaupun di wilayahnya tidak membuat ogoh-ogoh, Gus
Delut di Denpasar tetap tidak mengkhawatirkan keamanan
jika dari diri sendiri berkomitmen untuk menjaga
keamanan. Untuk itu ia minta kepada setiap pecalang desa
adat masing-masing agar melibatkan anak-anak muda turut
mengamankan hari suci ini. Selain itu, menjelang Nyepi
pasti saja terjadi kemacetan di mana-mana, diharapkan
petugas lalu lintas juga turut mengantisipasi keamanan
ini.
Menurut Pande di Pandak Gede, pawai ogoh-ogoh merupakan
prosesi gaya baru dalam rangka mengembangkan budaya dan
kreativitas agar jelas makna hari raya Nyepi itu sendiri,
di mana mengindikasikan manusia untuk membentengi diri
dari pengaruh butha kala, dan prosesi pawai ogoh-ogoh
ini nyomia butha kala. Menurutnya, pengaman pawai ini
dimulai dari memaknai hari suci Nyepi itu sendiri. Jika
salah memaknainya maka makna Nyepi itu menjadi lain,
para pendukung pawai ogoh-ogoh akan menjadi seperti
butha kala sehingga terjadilah penyimpangan-penyimpangan
yang tidak diinginkan.
Lain halnya dengan Agung Adnyana di Denpasar yang
menyatakan kesetujuannya jika keamanan dalam rangka
Nyepi ini diserahkan ke masing-masing desa adat. Sebab,
sebagai leading sector upacara adat dan agama Hindu di
Bali dan di dunia, desa adat dengan jajarannya sebagai
pelaksana tapi tetap harus ada satu koordinasi dan
informasi agar selalu sinkron. Ia melihat tiga komponen
kelembagaan seperti pemerintah, TNI/Polri, LPM dan
LKMD-nya harus bersinergi dalam satu tim program dan
bertanggung jawab secara bersama-sama. Tidak ada saling
lempar tanggung jawab. Misalnya pengamanan jalan,
pengamanan di semua lini bukan semata-mata oleh desa
adat saja dilakukan dengan cepat dan tepat sesuai dengan
tugas pokok dan fungsinya. Tetapi tetap dalam konteks
cinta kasih dan kedamaian dalam lindungan-Nya di bawah
ideologi Pancasila dan UUD 1945.
Sementara itu, Dewa Alit di Penatih menyatakan masalah
ogoh-ogoh ini sangat riskan, memang belum ada tertulis
dan diatur dalam Weda. Tetapi kalau dalam konteks
pengembangan budaya, dirinya setuju untuk perkembangan
budaya. Harus diperjuangkan seperti tahun yang lalu pada
saat Nyepi terjadi bentrokan. Tetapi lebih setuju lagi
kalau pawai ogoh-ogoh ini mengacu ke hal yang positif,
serta tak lepas dari kontrol petugas terkait, jangan
dengan alasan keamanan, kreativitas untuk mengembangkan
budaya malah terpasung. Sebab, menurutnya, ada informasi
di suatu daerah bahwa jika ada pemuda yang mengusung
ogoh-ogoh akan didenda Rp 5.000, ini sungguh sangat
menyedihkan.
Memang ogoh-ogoh tidak ada dalam rumus agama.
Sepengetahuan Jodog di Denpasar, makna pada saat
pengerupukan dan Nyepi sepatutnya dijelaskan dengan
gamblang oleh pihak yang berkompeten. Sebab, ia menilai
masih ada kesimpangsiuran. Selain itu, ia masih melihat
ogoh-ogoh ini dijadikan kambing hitam. Sebaiknya harus
disertai dengan introspeksi dalam kesunyian yang
dilakukan dengan pelaksanaan catur brata penyepian.
Sebelum Nyepi pun keamanan suatu wilayah kerap terganggu
(tidak aman), jangan selalu mengkambinghitamkan
ogoh-ogoh. Hal ini karena sering diwarnai dengan nuansa
mabuka-mabukan, dan hal ini juga terjadi bukan hanya
menjelang Nyepi saja. Inilah yang seharusnya
diperhatikan oleh para manggala desa adat setempat.
Jangan kambing hitamkan ogoh-ogoh karena ini merupakan
kegagalan dari pemerintah untuk menciptakan keamanan
yang kondusif.
Sebagai warga Tabanan, Dewa Winaya menyatakan
kesetujuannya agar semua komponen turut menjaga keamanan
secara terpadu bukan hanya di lingkungan sendiri saja,
tetapi di wilayah lainnya juga patut diperhatikan agar
kerukunan bisa tercapai. Ia berharap pelaksanaan pawai
ogoh-ogoh ini tidak dilarang, sebab ini merupakan media
untuk meluapkan kreativitas dan seni generasi muda Bali
dengan tema ogoh-ogoh tertentu. Harapannya penglingsir
memberi pengertian kepada generasi muda betapa
pentingnya hari Nyepi ini untuk tidak mudah terpengaruh
dengan budaya luar.
Menurut Ketut Su di Karangasem, pelaksanaan ogoh-ogoh
menjelang Nyepi itu untuk menjaga keseimbangan dunia
manusia dan dunia butha kala, karena sama-sama hidup di
dunia, hal itu perlu diselaraskan. Tetapi, hal itu kini
menjadi kebudayaan yang berkembang di Bali dan mengenai
pengamanan ia setuju jika diserahkan kepada desa adat.
Ia berharap pengalaman tahun lalu saat Nyepi terjadi
bentrokan antarsaudara bisa dihindari dengan sistem
keamanan yang lebih ditingkatkan.
Nang Tut Su di Tabanan menyatakan pelaksanaan pawai
ogoh-ogoh merupakan luapan ekspresi, tetapi dengan
catatan jangan sampai terpengaruh pada perwatakan dari
ogoh-ogoh itu sendiri. Sebab, kebanyakan ogoh-ogoh yang
dibuat seperti butha kala. Catatan terpenting dalam hal
ini, ia mengingatkan agar keamanan tetap tercipta serta
bisa diantisipasi. Sebagai garda terdepan desa adat
harus mampu memberikan teladan dan mengantisipasi.
Nyoman Sember di Denpasar setuju jika ogoh-ogoh
dilaksanakan setahun sekali untuk mengembangkan
kreativitas pemuda masing-masing dan keamanan menjadi
penting saat itu.
Menurut Kadek Mako di Kedewatan, bukan hanya menjelang
hari Nyepi saja tetapi warga di Kedewatan juga kerap
kali membuat ogoh-ogoh dipertontonkan kepada wisatawan,
dan yang jelas keamanan harus tetap terjaga. Kenapa juga
hal-hal seperti ini selalu dikait-kaitkan dengan agama.
Untuk menjawab hal ini mungkin bisa dijelaskan oleh
pihak yang berkompeten. Selamat hari raya Nyepi tahun
Saka 1928, mari kita sambut brata penyepian dengan
khidmat demi kenikmatan batin kita bersama, mawas diri
dengan melihat apa yang kita lakukan selama ini dan apa
yang hendak kita rencanakan untuk masa yang akan datang.
Dengan harapan Bali khususnya dan Indonesia umumnya
tetap aman dan kondusif.*
ika