kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 28 Maret 2006

 Bali


Dari Warung Global Interaktif Bali Post

Pawai Ogoh-ogoh jangan Diwarnai Tindakan Negatif
 

NYEPI bermakna mawas diri, puasa dari segala bentuk kegiatan. Sehari sebelum Nyepi dilakukan tawur agung. Sejak beberapa tahun belakangan ini, perayaan Nyepi disambut dengan pawai ogoh-ogoh. Prosesi ogoh-ogoh tampaknya akan dilakukan dengan berbagai rambu-rambu di Bali. Sejumlah daerah ada yang mengizinkan pawai, namun tak boleh melewati batas banjar lain. Daerah lain ada juga yang melarang, tetapi pada prinsipnya pelaksanaan pawai ogoh-ogoh tidak dilarang asalkan keamanan tetap kondusif. Ogoh-ogoh sebagai kreativitas anak-anak muda, dikembangkan dengan berbagai cara dan bentuk. Kalau tujuannya positif tentu tidak apa-apa, tetapi sering ditunggangi dengan kepentingan tertentu, malah dipakai pelampiasan untuk kepentingan-kepentingan perorangan, bentrok antarpemuda, tindak kriminal dan lainnya. Aparat keamanan, desa pakraman, tokoh adat dan lembaga adat mestinya bersatu padu sehingga dalam pelaksanaan Nyepi nanti dapat berjalan dengan aman dan kondusif dan betul-betul khidmat. Itulah salah satu opini dalam acara Warung Global, Senin (27/3) kemarin yang disiarkan Radio Global 96,5 FM yang dipancarluaskan Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

-----------------------------------

Sebagai pengunjung pertama, Wayan Sudira di Batuan Gianyar menyatakan selamat dan memberi acungan jempol bagi generasi muda di Bali. Mereka sangat antusias sampai begadang membuat ogoh-ogoh dan sudah siap mengaraknya pada saat pengerupukan. Melalui kegiatan ini para anggota STT menuangkan kreativitasnya dengan harapan Tahun Isaka 1928 ini merupakan kebangkitan Hindu. Ia berharap kepada pejabat serta PHDI bersuara, turun memberikan pencerahan mengenai makna ogoh-ogoh. Dalam proses pengamanan semua komponen masyarakat diharapkan berkerja sama, para klian banjar, hansip, karang tarun harus berpartisipasi terjun langsung dalam menciptakan keamanan.

Walaupun di wilayahnya tidak membuat ogoh-ogoh, Gus Delut di Denpasar tetap tidak mengkhawatirkan keamanan jika dari diri sendiri berkomitmen untuk menjaga keamanan. Untuk itu ia minta kepada setiap pecalang desa adat masing-masing agar melibatkan anak-anak muda turut mengamankan hari suci ini. Selain itu, menjelang Nyepi pasti saja terjadi kemacetan di mana-mana, diharapkan petugas lalu lintas juga turut mengantisipasi keamanan ini.

Menurut Pande di Pandak Gede, pawai ogoh-ogoh merupakan prosesi gaya baru dalam rangka mengembangkan budaya dan kreativitas agar jelas makna hari raya Nyepi itu sendiri, di mana mengindikasikan manusia untuk membentengi diri dari pengaruh butha kala, dan prosesi pawai ogoh-ogoh ini nyomia butha kala. Menurutnya, pengaman pawai ini dimulai dari memaknai hari suci Nyepi itu sendiri. Jika salah memaknainya maka makna Nyepi itu menjadi lain, para pendukung pawai ogoh-ogoh akan menjadi seperti butha kala sehingga terjadilah penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan.

Lain halnya dengan Agung Adnyana di Denpasar yang menyatakan kesetujuannya jika keamanan dalam rangka Nyepi ini diserahkan ke masing-masing desa adat. Sebab, sebagai leading sector upacara adat dan agama Hindu di Bali dan di dunia, desa adat dengan jajarannya sebagai pelaksana tapi tetap harus ada satu koordinasi dan informasi agar selalu sinkron. Ia melihat tiga komponen kelembagaan seperti pemerintah, TNI/Polri, LPM dan LKMD-nya harus bersinergi dalam satu tim program dan bertanggung jawab secara bersama-sama. Tidak ada saling lempar tanggung jawab. Misalnya pengamanan jalan, pengamanan di semua lini bukan semata-mata oleh desa adat saja dilakukan dengan cepat dan tepat sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Tetapi tetap dalam konteks cinta kasih dan kedamaian dalam lindungan-Nya di bawah ideologi Pancasila dan UUD 1945.

Sementara itu, Dewa Alit di Penatih menyatakan masalah ogoh-ogoh ini sangat riskan, memang belum ada tertulis dan diatur dalam Weda. Tetapi kalau dalam konteks pengembangan budaya, dirinya setuju untuk perkembangan budaya. Harus diperjuangkan seperti tahun yang lalu pada saat Nyepi terjadi bentrokan. Tetapi lebih setuju lagi kalau pawai ogoh-ogoh ini mengacu ke hal yang positif, serta tak lepas dari kontrol petugas terkait, jangan dengan alasan keamanan, kreativitas untuk mengembangkan budaya malah terpasung. Sebab, menurutnya, ada informasi di suatu daerah bahwa jika ada pemuda yang mengusung ogoh-ogoh akan didenda Rp 5.000, ini sungguh sangat menyedihkan.

Memang ogoh-ogoh tidak ada dalam rumus agama. Sepengetahuan Jodog di Denpasar, makna pada saat pengerupukan dan Nyepi sepatutnya dijelaskan dengan gamblang oleh pihak yang berkompeten. Sebab, ia menilai masih ada kesimpangsiuran. Selain itu, ia masih melihat ogoh-ogoh ini dijadikan kambing hitam. Sebaiknya harus disertai dengan introspeksi dalam kesunyian yang dilakukan dengan pelaksanaan catur brata penyepian. Sebelum Nyepi pun keamanan suatu wilayah kerap terganggu (tidak aman), jangan selalu mengkambinghitamkan ogoh-ogoh. Hal ini karena sering diwarnai dengan nuansa mabuka-mabukan, dan hal ini juga terjadi bukan hanya menjelang Nyepi saja. Inilah yang seharusnya diperhatikan oleh para manggala desa adat setempat. Jangan kambing hitamkan ogoh-ogoh karena ini merupakan kegagalan dari pemerintah untuk menciptakan keamanan yang kondusif.

Sebagai warga Tabanan, Dewa Winaya menyatakan kesetujuannya agar semua komponen turut menjaga keamanan secara terpadu bukan hanya di lingkungan sendiri saja, tetapi di wilayah lainnya juga patut diperhatikan agar kerukunan bisa tercapai. Ia berharap pelaksanaan pawai ogoh-ogoh ini tidak dilarang, sebab ini merupakan media untuk meluapkan kreativitas dan seni generasi muda Bali dengan tema ogoh-ogoh tertentu. Harapannya penglingsir memberi pengertian kepada generasi muda betapa pentingnya hari Nyepi ini untuk tidak mudah terpengaruh dengan budaya luar.

Menurut Ketut Su di Karangasem, pelaksanaan ogoh-ogoh menjelang Nyepi itu untuk menjaga keseimbangan dunia manusia dan dunia butha kala, karena sama-sama hidup di dunia, hal itu perlu diselaraskan. Tetapi, hal itu kini menjadi kebudayaan yang berkembang di Bali dan mengenai pengamanan ia setuju jika diserahkan kepada desa adat. Ia berharap pengalaman tahun lalu saat Nyepi terjadi bentrokan antarsaudara bisa dihindari dengan sistem keamanan yang lebih ditingkatkan.

Nang Tut Su di Tabanan menyatakan pelaksanaan pawai ogoh-ogoh merupakan luapan ekspresi, tetapi dengan catatan jangan sampai terpengaruh pada perwatakan dari ogoh-ogoh itu sendiri. Sebab, kebanyakan ogoh-ogoh yang dibuat seperti butha kala. Catatan terpenting dalam hal ini, ia mengingatkan agar keamanan tetap tercipta serta bisa diantisipasi. Sebagai garda terdepan desa adat harus mampu memberikan teladan dan mengantisipasi.

Nyoman Sember di Denpasar setuju jika ogoh-ogoh dilaksanakan setahun sekali untuk mengembangkan kreativitas pemuda masing-masing dan keamanan menjadi penting saat itu.

Menurut Kadek Mako di Kedewatan, bukan hanya menjelang hari Nyepi saja tetapi warga di Kedewatan juga kerap kali membuat ogoh-ogoh dipertontonkan kepada wisatawan, dan yang jelas keamanan harus tetap terjaga. Kenapa juga hal-hal seperti ini selalu dikait-kaitkan dengan agama. Untuk menjawab hal ini mungkin bisa dijelaskan oleh pihak yang berkompeten. Selamat hari raya Nyepi tahun Saka 1928, mari kita sambut brata penyepian dengan khidmat demi kenikmatan batin kita bersama, mawas diri dengan melihat apa yang kita lakukan selama ini dan apa yang hendak kita rencanakan untuk masa yang akan datang. Dengan harapan Bali khususnya dan Indonesia umumnya tetap aman dan kondusif.* ika

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)