Teori Konspirasi
RUU
APP DPR = rancangan usil untuk alihkan perhatian publik dari
persoalan real (kasus Freeport, Cepu, TDL). Salam APP = adakan
penolakan paksa. (6281338192XXX).
Itu, satu dari 36 short message service (SMS) yang menarik
perhatian Rubag berkaitan Rancangan Undang-undang Anti Pornografi
dan Pornoaksi (RUU APP) yang dimuat Bali Post edisi Rabu, 22 Maret
lalu.
-----------------
CUKUP banyak pesan pendek dari pemegang
telepon selular termuat di media yang sama, sejak RUU
kontroversial itu mencuat. Meskipun segelintir SMS berkesan
menyetujui, namun sebagian besar menolak dan di antaranya
dilontarkan dengan penuh emosional dan agak vulgar, seperti "Jika
RUU APP disahkan, kita semua sebagai rakyat Bali lebih baik
merdeka seperti Timtim. Sepalaan daripada nyakitin keneh
aspirasine sing taen dingehanga. Hidup Bali".
Perkembangan teknologi informasi yang pesat disertai penerbitan
dan terjemahan berbagai jenis buku menyebabkan segala ihwal yang
sebelumnya tertutup jadi terbuka. Memang, keterbukaan yang tampak
bukan seperti yang dimaksud pembuat teks, tapi multitafsir, sesuai
pemahaman masing-masing pembaca, pendengar dan penonton. Sebab,
pengertian teks bukan lagi terbatas pada bahasa, tapi juga simbol,
gambar dan bunyi.
"Kampung Global" yang tercipta lewat revolusi sibernetika dan gaya
hidup membuat dunia terasa sempit, karena semua media berubah jadi
pesan. Kebohongan yang tadinya dipertahankan sebagai kebenaran
oleh para pemegang kekuasaan dibongkar, meski berusaha
dilegitimasi dengan undang-undang, peraturan, kebijakan publik,
bahkan alat-alat kekuasaan lainnya.
Alhasil, suasana kheos terjadi di beberapa penjuru dunia, tak
terkecuali di Indonesia, karena seluruh dunia sudah didesain
menjadi bagian jaring-jaring konspirasi global.
"Kepak sayap ribuan kupu-kupu di suatu tempat dapat menimbulkan
badai besar di tempat lain yang jauhnya ribuan mil," demikian
pendapat ahli fisika postmodern tentang jaring-jaring kehidupan
berkaitan dengan Teori Kheos.
Rubag memperkirakan, para konspirator global yakni segelintir "korporatokrasi"
yang terdiri dari para taipan korporasi transnasional, pemimpin
negara-negara G 7 dan personel IMF, Bank Dunia serta WTO, sangat
memahami teori kekacauan itu. Bahkan dengan kekuatan di segala
bidang yang dimilikinya, Teori Kheos dimanfaatkan guna mempercepat
cita-cita mereka untuk menggiring "Dunia di Bawah Satu Atap".
Setelah berhasil melebur Welfare States menjadi laissez faire (biarkan
saja), dimana negara tak lagi bertanggung jawab atas nasib warga
negaranya, kini para korporatokrasi menggunakan teori konspirasi
untuk melebur negara-negara bangsa atau Nation States.
***
MUNCULNYA kesenjangan lebar antara yang kaya dan
miskin, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pejabat publik dalam
menelorkan kebijakan yang tidak aspiratif dan hilangnya kesempatan
kerja yang disertai naiknya biaya hidup adalah entropi
thermodinamika sosial. Celakanya, para konspirator yang berhasil
mempengaruhi massa tak henti-hentinya berceloteh, "Kebenaran
adalah penemuan seorang pembohong!" Akibatnya, sekarang hampir
semua organisasi politik dan kemasyarakatan tampil dengan wajah
retak karena para elitnya saling curiga dan berkelahi, sebaliknya
sebagian besar konstituennya tidak lagi mempercayai mereka dan
organisasinya.
Skenario besar para korporatokrasi nyaris berhasil memecah belah
bangsa lewat aplikasi teori konspirasinya.
Konspirasi berasal dari kata conspirare, artinya "bernafas
bersama-sama". Secara denotatif, konspirasi mengandung makna
positif -- lewat kerja sama memungkinkan berkembangnya kehidupan
di planet biru ini. Ironisnya, seiring dengan perkembangan
linguistik yang melahirkan kosakata bermakna serupa, kata "konspirasi"
bergeser ke arah konotatif yang cenderung bermakna negatif, yakni
persekongkolan atau kong-kalikong segelintir orang untuk mencapai
suatu tujuan dengan berbagai cara.
Soal konspirasi di Bali, bagi Rubag, bukan barang baru. Direbutnya
kekuasaan di Tumapel oleh Ken Arok, juga dibunuhnya Jayaprana oleh
Patih Sawunggaling atas pesanan Raja Kalianget, demikian pula
meletusnya Puputan Badung karena isu penjarahan isi kapal wangkang
"Sri Kumala" milik Kwee Tek Tjiang, merupakan hasil
konspirasi.
Makanya, kedengaran lucu bila ada sekelompok orang yang seperti
baru bangun tidur menuduh masyarakat Bali sebagai "pengkhianat"
NKRI lantaran menolak RUU APP. Padahal Bali telah melakukan perang
habis-habisan sebanyak tiga kali melawan serdadu Belanda, jauh
sebelum kemerdekaan RI diproklamasikan. Puputan Jagaraga, Buleleng
tahun 1846, Puputan Badung tahun 1906 dan Puputan Klungkung 1908
merupakan bukti nyata bahwa orang Bali bukan manusia oportunis dan
lebih memilih mati berputih tulang daripada hidup bercermin
bangkai.
Pas, analogi orang Bali seperti semut yang mati karena genangan
gula, namun tetap melawan bila diinjak, meski tahu dirinya tidak
mungkin mengalahkan telapak kaki.
Bahkan pada Puputan Keempat yang terjadi di Margarana, Tabanan,
20 November 1946, pemimpin pejuang Bali, I Gusti Ngurah Rai
menolak usulan kompromi dari pimpinan Nica, Overste Termeulen.
"Bali bukan tempat berunding dan soal perundingan adalah urusan
pemerintah kami di pusat. Kalau Tuan dan pasukan tetap bercokol di
sini, kami siap membuat Bali sebagai belanga pertumpahan darah,"
demikian kurang lebih isi surat Ngurah Rai, yang bila disimak
dengan otak sehat menandakan bahwa orang Bali jauh lebih patriotik
dibanding mereka yang menuduhnya pengkhianat NKRI. Bahkan, saking
cintanya pada NKRI, sebagai ekses peristiwa G 30 S tahun 1965 dan
konspirasi elit-elit nasional dengan mitra asingnya, orang Bali
tega membunuh ribuan "saudara-sesukunya" yang dituduh mengkhianati
bangsa dan negara.
Dua kali ledakan bom teroris tahun 2002 dan 2005, tidak
menyebabkan pudarnya kesetiaan masyarakat Bali pada NKRI, meskipun
kehidupan mereka jadi morat-marit akibat melemahnya denyut nadi
pariwisata. Padahal, sejak Orde Baru tidak terhitung jumlah devisa
dan pajak dari pariwisata yang disetor ke pusat untuk
memperkuat APBN.
***
SOAL SMS berkesan separatis dan plesetan
atas singkatan RUU APP DPR yang nyeleneh perlu dipahami sebagai
ungkapan emosional akibat tindihan berbagai beban hidup yang
dialami masyarakat Bali sejak dimulainya krisis ekonomi tahun
1997. Bisa jadi pengirim SMS itu pernah membaca Teori
Konspirasi, yang kemudian direduksi sesuai interpretasinya,
sehingga RUU APP itu ditafsir sebagai kebijakan untuk mengalihkan
perhatian alias konspirasi.
George W Bush di depan Sidang Umum PBB, 10 November 2001, juga
sempat marah terhadap konspirolog yang mengatakan Tragedi WTC
sebagai hasil konspirasi dengan tujuan merebut ladang-ladang
minyak di Timur Tengah. Dia sebaliknya menganggap pelontar Teori
Konspirasi jahat dan bohong, bertujuan mengalihkan perhatian dari
kesalahan teroris. Maklum, Mr. Bush tidak
mengerti makna pepatah, "Telunjuk lurus kelingking berkait".
* aridus