kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 26 Maret 2006 tarukan valas
 

OPINI


Teori Konspirasi

RUU APP DPR = rancangan usil untuk alihkan perhatian publik dari persoalan real (kasus Freeport, Cepu, TDL). Salam APP = adakan penolakan paksa. (6281338192XXX).

 Itu, satu dari 36 short message service (SMS) yang menarik perhatian Rubag berkaitan Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang dimuat Bali Post edisi Rabu, 22 Maret lalu.

-----------------

 

CUKUP banyak pesan pendek dari pemegang telepon selular termuat di media yang sama, sejak RUU kontroversial itu mencuat. Meskipun segelintir SMS berkesan menyetujui, namun sebagian besar menolak dan di antaranya dilontarkan dengan penuh emosional dan agak vulgar, seperti "Jika RUU APP disahkan, kita semua sebagai rakyat Bali lebih baik merdeka seperti Timtim. Sepalaan daripada nyakitin keneh aspirasine sing taen dingehanga. Hidup Bali".

Perkembangan teknologi informasi yang pesat disertai penerbitan dan terjemahan berbagai jenis buku menyebabkan segala ihwal yang sebelumnya tertutup jadi terbuka. Memang, keterbukaan yang tampak bukan seperti yang dimaksud pembuat teks, tapi multitafsir, sesuai pemahaman masing-masing pembaca, pendengar dan penonton. Sebab, pengertian teks bukan lagi terbatas pada bahasa, tapi juga simbol, gambar dan bunyi.

"Kampung Global" yang tercipta lewat revolusi sibernetika dan gaya hidup membuat dunia terasa sempit, karena semua media berubah jadi pesan. Kebohongan yang tadinya dipertahankan sebagai kebenaran oleh para pemegang kekuasaan dibongkar, meski berusaha dilegitimasi dengan undang-undang, peraturan, kebijakan publik, bahkan alat-alat kekuasaan lainnya.

Alhasil, suasana kheos terjadi di beberapa penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia, karena seluruh dunia sudah didesain menjadi bagian jaring-jaring konspirasi global.

 "Kepak sayap ribuan kupu-kupu di suatu tempat dapat menimbulkan badai besar di tempat lain yang jauhnya ribuan mil," demikian pendapat ahli fisika postmodern tentang jaring-jaring kehidupan berkaitan dengan Teori Kheos.

Rubag memperkirakan, para konspirator global yakni segelintir "korporatokrasi" yang terdiri dari para taipan korporasi transnasional, pemimpin negara-negara G 7 dan personel IMF, Bank Dunia serta WTO, sangat memahami teori kekacauan itu. Bahkan dengan kekuatan di segala bidang yang dimilikinya, Teori Kheos dimanfaatkan guna mempercepat cita-cita mereka untuk menggiring "Dunia di Bawah Satu Atap". Setelah berhasil melebur Welfare States menjadi laissez faire (biarkan saja), dimana negara tak lagi bertanggung jawab atas nasib warga negaranya, kini para korporatokrasi menggunakan teori konspirasi untuk melebur negara-negara bangsa atau Nation States.

***

 

MUNCULNYA kesenjangan lebar antara yang kaya dan miskin, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pejabat publik dalam menelorkan kebijakan yang tidak aspiratif dan hilangnya kesempatan kerja yang disertai naiknya biaya hidup adalah entropi thermodinamika sosial. Celakanya, para konspirator yang berhasil mempengaruhi massa tak henti-hentinya berceloteh, "Kebenaran adalah penemuan seorang pembohong!" Akibatnya, sekarang hampir semua organisasi politik dan kemasyarakatan tampil dengan wajah retak karena para elitnya saling curiga dan berkelahi, sebaliknya sebagian besar konstituennya tidak lagi mempercayai mereka dan organisasinya.

Skenario besar para korporatokrasi nyaris berhasil memecah belah bangsa lewat aplikasi teori konspirasinya.

 Konspirasi berasal dari kata conspirare, artinya "bernafas bersama-sama". Secara denotatif, konspirasi mengandung makna positif -- lewat kerja sama memungkinkan berkembangnya kehidupan di planet biru ini. Ironisnya, seiring dengan perkembangan linguistik yang melahirkan kosakata bermakna serupa, kata "konspirasi" bergeser ke arah konotatif yang cenderung bermakna negatif, yakni persekongkolan atau kong-kalikong segelintir orang untuk mencapai suatu tujuan dengan berbagai cara.

Soal konspirasi di Bali, bagi Rubag, bukan barang baru. Direbutnya kekuasaan di Tumapel oleh Ken Arok, juga dibunuhnya Jayaprana oleh Patih Sawunggaling atas pesanan Raja Kalianget, demikian pula meletusnya Puputan Badung karena isu penjarahan isi kapal wangkang "Sri Kumala" milik  Kwee Tek Tjiang, merupakan hasil konspirasi.

Makanya, kedengaran lucu bila ada sekelompok orang yang seperti baru bangun tidur menuduh masyarakat Bali sebagai "pengkhianat" NKRI lantaran menolak RUU APP. Padahal Bali telah melakukan perang habis-habisan sebanyak tiga kali melawan serdadu Belanda, jauh sebelum kemerdekaan RI diproklamasikan. Puputan Jagaraga, Buleleng tahun 1846, Puputan Badung tahun 1906 dan Puputan Klungkung 1908 merupakan bukti nyata bahwa orang Bali bukan manusia oportunis dan lebih memilih mati berputih tulang daripada hidup bercermin bangkai.

Pas, analogi orang Bali seperti semut yang mati karena genangan gula, namun tetap melawan bila diinjak, meski tahu dirinya tidak mungkin mengalahkan telapak kaki.

 Bahkan pada Puputan Keempat yang terjadi di Margarana, Tabanan, 20 November 1946, pemimpin pejuang Bali, I Gusti Ngurah Rai menolak usulan kompromi dari pimpinan Nica, Overste Termeulen. "Bali bukan tempat berunding dan soal perundingan adalah urusan pemerintah kami di pusat. Kalau Tuan dan pasukan tetap bercokol di sini, kami siap membuat Bali sebagai belanga pertumpahan darah," demikian kurang lebih isi surat Ngurah Rai, yang bila disimak dengan otak sehat menandakan bahwa orang Bali jauh lebih patriotik dibanding mereka yang menuduhnya pengkhianat NKRI. Bahkan, saking cintanya pada NKRI, sebagai ekses peristiwa G 30 S tahun 1965 dan konspirasi elit-elit nasional dengan mitra asingnya, orang Bali tega membunuh ribuan "saudara-sesukunya" yang dituduh mengkhianati bangsa dan negara.

Dua kali ledakan bom teroris tahun 2002 dan 2005, tidak menyebabkan pudarnya kesetiaan masyarakat Bali pada NKRI, meskipun kehidupan mereka jadi morat-marit akibat melemahnya denyut nadi pariwisata. Padahal, sejak Orde Baru tidak terhitung jumlah devisa dan pajak dari pariwisata yang  disetor ke pusat untuk memperkuat APBN.

***

 

SOAL SMS berkesan separatis dan plesetan atas singkatan RUU APP DPR yang nyeleneh perlu dipahami sebagai ungkapan emosional akibat tindihan berbagai beban hidup yang dialami masyarakat Bali sejak dimulainya krisis ekonomi tahun 1997.   Bisa jadi pengirim SMS itu pernah membaca Teori Konspirasi, yang kemudian direduksi sesuai interpretasinya, sehingga RUU APP itu ditafsir sebagai kebijakan untuk mengalihkan perhatian alias konspirasi.

George W Bush di depan Sidang Umum PBB, 10 November 2001, juga sempat marah terhadap konspirolog yang mengatakan Tragedi WTC sebagai hasil konspirasi dengan tujuan merebut ladang-ladang minyak di Timur Tengah. Dia sebaliknya menganggap pelontar Teori Konspirasi jahat dan bohong, bertujuan mengalihkan perhatian dari kesalahan teroris.     Maklum, Mr. Bush tidak mengerti makna pepatah, "Telunjuk lurus kelingking berkait".

* aridus
 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com