Mencegah Penyakit pada Musim Pancaroba
Musim kemarau telah berlalu dan digantikan dengan musim
penghujan. Masa peralihan musim yang biasa disebut
dengan musim pancaroba biasanya diwarnai dengan
timbulnya berbagai jenis penyakit, terutama pada
anak-anak dan orang-orang yang daya tahan tubuhnya
kurang. Menurut Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, udara
yang sebelumnya panas tiba-tiba menjadi dingin dan
lembab. Kondisi tersebut membuat tubuh kurang nyaman dan
mudah terserang penyakit. Penyakit yang biasanya muncul
pada masa pancaroba, antara lain gangguan saluran napas,
masuk angin, influenza, gangguan pencernaan seperti
diare, dan tifus abdominalis.
Gangguan Saluran Napas
Pengaruh perubahan cuaca sangat berpotensi mengganggu
saluran pernapasan. Gejala awal gangguan saluran
pernapasan yaitu batuk, bronkhitis, pilek atau influenza
disertai bersin-bersin dan peningkatan suhu tubuh/demam.
Demam bukan merupakan penyakit tersendiri, melainkan
gejala dari penyakit lain misalnya influenza.
Demam ditandai dengan suhu tubuh di atas 37 derajat
Celcius. Pada influenza biasanya terjadi peningkatan
suhu tubuh sekitar 38-40 derajat C, selain itu kepala
terasa sakit, juga otot-otot dan sendi-sendi, terasa
lelah, kurang nafsu makan, suara parau, batuk yang tidak
produktif, sakit tenggorokan dengan langit-langit di
hulu tampak memerah, radang mata, keluar ingus, dan
kongesti hidung. Panas tubuh biasanya lebih tinggi pada
anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Gejala-gejala
tersebut berangsur-angsur berkurang dan biasanya akan
hilang sesudah 3-5 hari, namun batuk dan rasa lemah
serta keletihan tetap.
Batuk merupakan gejala awal penyakit saluran napas,
kadang ditandai dengan bersin-bersin, sesak napas, dan
demam ringan sampai sedang. Penyakit saluran napas di
antaranya yaitu bronkhitis. Penyakit ini memang lebih
sering terjadi pada udara yang lembab dan berhawa dingin.
Bronkhitis di antaranya disebabkan oleh infeksi bakteri
atau virus, dimulai saat bakteri atau virus mengiritasi
bronkhus sampai akhirnya terjadi pembengkakan.
Gangguan Pencernaan
Salah satu gangguan pencernaan yang biasanya muncul pada
musim pancaroba dan awal musim hujan adalah diare. Diare
ditandai dengan keluarnya buang air besar yang sangat
encer seperti air, dan berlangsung terus-menerus.
Penyakit ini sebenarnya dapat digolongkan penyakit
ringan, tetapi jika terjadi secara mendadak dan kurang
mendapat perawatan maka diare juga dapat berakibat
fatal, terutama apabila diare tersebut terjadi pada anak
balita. Berhubung diare dapat menyebabkan terjadinya
kehilangan cairan tubuh yang berlebihan (dehidrasi) dan
elektrolit, sehingga tubuh menjadi lemah dan lemas,
apalagi kalau diare disertai dengan muntah-muntah.
Penderita harus diberi minum sebanyak-banyaknya, serta
diberi oralit. Bila diare tidak juga berhenti maka
penderita harus segera dibawa ke dokter. Penyakit diare
dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satu penyebab
yang paling umum adalah suatu infeksi ringan pada usus
yang disebabkan bakteri, amuba, juga infeksi virus atau
flu usus. Juga dapat disebabkan karena makanan dan
minuman yang tercemar.
Gangguan pencernaan lain yang sering timbul pada musim
pancaroba adalah demam tifoid atau penyakit tifus
abdominalis. Merupakan suatu penyakit peradangan pada
usus yang disebabkan oleh infeksi bakteria. Penyakit ini
dapat terjadi melalui pengkonsumsian makanan dan minuman
yang terinfeksi oleh bakteri Salmonella typhosa.
Penyakit typhus abdominalis sangat cepat penularannya,
yaitu melalui kontak dengan seseorang atau hewan yang
terinfeksi. Pembuangan air kotoran yang tidak memenuhi
syarat dan kondisi saniter yang tidak sehat menjadi
faktor terbesar dalam penyebaran penyakit ini.
Tanda atau gejala penyakit tifus diawali dengan demam
panas yang makin lama makin tinggi, selama panas tinggi
penderita sering mengigau. Selain itu kepala terasa
sakit, menggigil, berkeringat, letih, lemah, tidak nafsu
makan dan berat badan berkurang, peradangan pada cabang
tenggorokan, mual, muntah-muntah dan sakit perut yang
mendadak.
Untuk perawatannya diusahakan untuk menurunkan panasnya
dengan obat yang mempunyai efek antibiotik dan
antipiretik. Istirahat di tempat tidur sampai semua
tanda penyakit hilang. Makan makanan yang mengandung
banyak cairan seperti sop, bubur cair dan lain-lain.
Penyakit pada musim pancaroba dapat menyerang siapa saja,
namun biasanya lebih sering pada orang-orang yang daya
tahan tubuhnya lemah, mobilitas tinggi, dan pada
anak-anak. Kemunculan penyakit tersebut kasusnya menjadi
tinggi pada awal perubahan musim/pancaroba karena
banyaknya kotoran yang menjadi vektor bagi bakteri dan
virus penyebab penyakit, juga tak lepas dari pola
pengkonsumsian makanan. Penyakit tersebut dapat timbul
karena adanya bakteri atau virus yang mencemari makanan
atau minuman.
Penyakit-penyakit pada musim pancaroba tersebut akan
terus berulang seiring dengan perubahan musim, namun
setidaknya kita bisa mencegah atau mengantisipasinya,
yaitu antara lain dengan menjaga kebersihan makanan dan
minuman, membersihkan tangan secara baik sesudah buang
air besar atau menjelang makan. Selain itu, perlu
berhati-hati mengkonsumsi makanan, jangan jajan
sembarangan. Minum air yang bersih dan matang. Menjaga
kebersihan lingkungan, memberantas lalat, nyamuk, kecoa,
semut. Makan makanan yang bergizi dan seimbang,
istirahat yang cukup serta hidup yang teratur, untuk
meningkatkan daya tahan tubuh. Bila terjadi keluhan yang
serius, segera pergi ke dokter.
Berikut beberapa resep tumbuhan obat yang dapat
digunakan untuk membantu mengatasi beberapa penyakit
pada musim pancaroba:
Resep I. 30 gram daun jambu biji + 20 gram kunyit,
dicuci dan dipotong-potong, direbus dengan 600 cc air
hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali
sehari. (digunakan untuk diare)
Resep II. Sebanyak 10-15 gram sambiloto kering atau
20-30 gram yang segar + 30 gram patikan kebo + 30 gram
temu lawak + 20 gram kunyit, dicuci, dipotong-potong,
dan direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc,
disaring, airnya diminum 2 kali sehari. (untuk typhus
abdominalis, diare, dan disentri).
Resep III. Sebanyak 25 gram jahe + 25 gram kencur + 5-7
lembar daun sirih + 10 gram kulit jeruk mandarin, dicuci
dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc,
disaring, airnya diminum 2 kali sehari. (untuk
bronkhitis, batuk, influenza)
Resep IV. Sebanyak 30 gram pegagan + 10 gram sambiloto,
dicuci dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300
cc, disaring, tambahkan 1 sendok makan madu, airnya
diminum 2 kali sehari. (untuk influenza, radang saluran
napas/bronkhitis, batuk rejan, radang paru).
Catatan: untuk perebusan gunakan periuk tanah, panci
enamel atau panci kaca. Lakukan secara teratur, dan
tetap konsultasi ke dokter. (sut,
berbagai sumber)