Kekuatan Tri Murti Menyatu di Uluwatu
Tryambakam yajamahe
Sugandhim pusthivardhanam.
Urvarukam iva vandhanat
Mrtyor muksiya mamrtat.
(Rgveda VII.59.12).
Maksudnya: Ya Tuhan sebagai Rudra yang menyebarkan
keharuman dan memperbanyak sumber-sumber makanan.
Semoga beliau
melepaskan kami seperti mentimun dari batangnya, dari
kematian tetapi bukan dari keabadian.
MANTRAM
ini disebut juga Mantra Mahamertyunjaya sebagai mantra
memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra.
Pura Luhur Uluwatu adalah tempat
suci untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra.
Dewa Rudra adalah perwujudan
kemahakuasaan yang manunggal dari Dewa Tri Murti.
Memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra
untuk mendapatkan kekuatan agar manusia memiliki
kemampuan hidup untuk mencipta, memelihara dan
mempralina sesuatu yang sepatutnya diciptakan,
dipelihara dan dipralina.
Pura Luhur Uluwatu berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta,
Badung.
Menurut Lontar Kusuma Dewa, pura ini didirikan atas
anjuran Mpu Kuturan sekitar abad ke-11.
Lontar Kusuma Dewa tersebut dibuat
tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927.
Hal ini didasarkan pada adanya pintu
masuk di Pura Luhur Uluwatu menggunakan candi Paduraksa
yang bersayap. Candi tersebut
sama dengan candi masuk di Pura Sakenan di Pulau
Serangan. Di Candi Pura Sakenan
tersebut terdapat candra sangkala dalam bentuk resi apit
lawang yaitu dua orang pandita berada di
sebelah-menyebelah pintu masuk.
Hal ini menunjukkan angka tahun
yaitu 927 Saka.
Ternyata tahun yang disebutkan dalam
Lontar Kusuma Dewa sangat tepat.
Dalam Lontar Padma Bhuwana disebutkan juga tentang
pendirian Pura Luhur Uluwatu sebagai Pura Padma Bhuwana
oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11.
Candi bersayap
seperti di Pura Luhur Uluwatu terdapat juga di Lamongan
Jatim.
Pura Luhur Uluwatu berfungsi sebagai tempat pemujaan
Dewa Siwa Rudra atau Batara Agni Maha Jaya dan terletak
di barat daya Pulau Bali.
Pura ini didirikan berdasarkan
konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana.
Sebagai pura yang didirikan dengan
konsep Sad Winayaka, Pura Luhur Uluwatu sebagai salah
satu dari Pura Sad Kahyangan.
Sedangkan sebagai pura yang didirikan berdasarkan
Konsepsi Padma Bhuwana, Pura Luhur Uluwatu didirikan
sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya dari
Padma Bhuwana tersebut.
Pemujaan Dewa Siwa Rudra adalah pemujaan Tuhan dalam
memberi energi kepada ciptaan-Nya.
Ida Pedanda Punyatmaja Pidada pernah beberapa kali
menjabat Ketua Parisada Hindu Dharma Pusat mengatakan
bahwa di Pura Luhur Uluwatu memancar energi spiritual
tiga dewa.
Tiga dewa tersebut adalah Dewa Wisnu
di Pura Batur Kintamani, Bangli.
Dewa Siwa di Pura Besakih dan Dewa
Brahma di Pura Andakasa, Karangasem.
Letak pura Luhur Uluwatu memang juga
berhadapan dengan ketiga pura tersebut.
Kekuatan suci ketiga Dewa Tri Murti
(Brahma, Wisnu dan Siwa) menyatu di Pura Luhur Uluwatu.
Untuk menumbuhkan daya cipta yang
kreatif pujalah Tuhan dalam menifestasinya sebagai Dewa
Brahma. Untuk memiliki
ketetapan hati memelihara sesuatu yang patut dipelihara
pujalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu.
Untuk mendapatkan kekuatan untuk
menghilangkan sesuatu yang patut dihilangkan pujalah
Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa.
Energi
spiritual ketiga manifestasi Tuhan itu menyatu dalam
Dewa Siwa Rudra yang dipuja di Pura Luhur Uluwatu.
Keberadaan Pura Luhur Uluwatu ini sejak abad XVI Masehi
terkait dengan tirthayatra (perjalanan suci) dari
seorang pandita Hindu dari Jawa Timur bernama Dang Hyang
Dwijendra.
Danghyang Dwijendra juga bernama
Danghyang Nirartha, putra dari Mpu Penawasikan.
Mpu Penawasikan putra dari Mpu
Bahula. Mpu Bahula putra Mpu
Beradah.
Mpu Beradah adik dari Mpu Kuturan yang
mendirikan Sad Kahyangan di Bali pada abad ke-11 Masehi,
termasuk Pura Luhur Uluwatu.
Istilah mpu adalah gelar pandita dalam bahasa Jawa Kuna.
Mpu artinya mengemban.
Mungkin istilah mpu merupakan terjemahan kata Swami
dalam bahasa Sansekerta.
Swami dalam bahasa Sansekerta
artinya orang yang telah menguasai atau mengemban
kesucian. Dalam naskah kuna Lontar
Dwijendra Tattwa disebutkan bahwa Danghyang Dwijendra
mengadakan perjalanan suci dari Kerajan Daha di Jawa
Timur terus menuju Pasuruan.
Dari Pasuruan beliau mengadakan perjalanan ke Blambangan
dan akhirnya terus menuju Pulau Bali.
Dalam naskah Dwijendra Tattwa itu
diceritakan beliau berkeliling di
Bali.
Sampai di Kerajaan Klungkung dengan
Rajanya Dalem Waturenggong.
Di kerajaan ini Danghyang Dwijendra dipercaya menjadi
Purahita yaitu Pandita Istana mendampingi Dalem Watu
Renggong menata kehidupan rakyat
Bali.
Terakhir setelah beliau menjelang
kembali ke alam asal, Beliau datang ke Pura Sakenan.
Dari Sakenan menuju Desa Kerobokan.
Di
sana
beliau meninggalkan sebuah peti tempat sirih yang
kemudian dikeramatkan di suatu pura.
Pura tersebut sejak itu bernama Pura Peti Tenget artinya
pura peti keramat. Dari Pura
Peti Tenget itulah Beliau menuju Pura Luhur Uluwatu.
Di Pura Luhur
Uluwatu itulah beliau kembali ke asal, Sang Pencipta.
Pada waktu Danghyang Dwijendra datang ke Pura Luhur
Uluwatu, Beliau menjumpai pura dengan
cara pemujaan yang masih
sederhana sebagaimana sistem pemujaan pada zaman Mpu
Kuturan. Di pura tersebut terdapat
tiga patung yaitu patung Brahma, patung Ratu Bagus Dalem
Jurit dan patung Wisnu. Ratu
Bagus Dalem Jurit itulah sesungguhnya Dewa Siwa Rudra.
Pemujaan energi Tri Murti dengan sarana patung ini
merupakan peninggalan sistem pemujaan pada zaman Mpu
Kuturan.
Setelah Danghyang Dwijendra datang,
sistem pemujaan pada Tuhan dengan sarana patung
pelan-pelan diganti dengan sistem palinggih itu umumnya
tidak memperlihatkan wujud patung tertentu.
Hal ini nampaknya disesuaikan dengan
perkembangan zaman. Agar ada
penyesuaian dengan keadaan zaman maka sistem pemujaan
dengan sarana patung atau Murti Puja lalu diganti dengan
wujud palinggih. Setelah itu
didirikan meru tingkat tiga di Pura Luhur Uluwatu
sebagai pemujaan Dewa Siwa Rudra di mana aspek Brahma
dan Wisnu juga terkait menjadi energi magis religius
dalam pemujaan Siwa Rudra di meru tingkat tiga.
Meskipun kedatangan Danghyang Dwijendra memperluas
tempat pemujaan di Pura Luhur Uluwatu bukan berarti
apa yang telah ada harus
ditinggalkan begitu saja. Di Pura
Dalem Jurit inilah terdapat patung Brahma Wisnu dan Ratu
Dalem Jurit yang merupakan tempat pemujaan Siwa Rudra
ketika Mpu Kuturan mendirikan pura tersebut abad ke-11
Masehi. Dari Dalem Jurit kita
terus masuk melalui candi bentar.
Di jaba tengah ini kita menoleh ke
kiri lagi ada sebuah bak air yang selalu berisi air
meskipun musim kering sekalipun.
Hal ini dianggap suatu keajaiban
dari Pura Luhur Uluwatu.
Sebab, wilayah Desa Pecatu adalah daerah perbukitan batu
karang berkapur yang mengandalkan air hujan.
Bak air itu dikeramatkan karena
keajaibannya itu.
Keperluan air untuk bahan tirtha cukup
diambil dari bak air tersebut.
Dari jaba tengah ini kita terus masuk melalui candi
kurung Paduraksa bersayap.
Candi ini ada yang menduga dibuat
pada abad ke-11 Masehi karena dihubungkan dengan candi
kurung bersayap di Pura Sakenan.
Namun, ada juga yang berpendapat
bahwa candi kurung bersayap seperti ini ada di Jawa
Timur. Pada peninggalan purbakala di Sendang
Duwur terdapat Candra Sengkala yaitu tanda tahun saka
dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno sbb: Gunaning
salira tirtha bayu, artinya menunjukkan angka tahun Saka
1483 atau tahun 1561 Masehi, karena candi kurung
Paduraksa bersayap di Sendang Duwur sama dengan candi
kurung Paduraksa di Pura Luhur Uluwatu.
Dengan demikian nampaknya lebih
tepat kalau dikatakan bahwa Candi Kurung Paduraksa di
Pura Luhur Uluwatu dibuat pada abad XVI.
Setelah kita masuk di jeroan kita menjumpai bangunan
yang paling pokok yaitu Meru Tingkat Tiga, tempat
Pemujaan Dewa Siwa Rudra.
Upacara
piodalan di pura ini berlangsung setiap 210 hari, pada
Selasa Kliwon Wuku Medangsia.
Pura Luhur Uluwatu memiliki wilayah suci dalam radius
kurang lebih
lima
kilometer. Wilayah ini disebut wilayah kekeran artinya
wilayah yang suci tidak boleh ada bangunan
apa pun.
Dulu hanya hutan lindung dengan berbagai jenis
binatangnya. Binatang yang
masih tahan sampai sekarang hanyalah kera dan ini pun
jumlahnya semakin sedikit.
Konon dulu ada kijang, menjangan, kura-kura dan berbagai
jenis burung. Di Bali memang Pura Kahyangan yang
berstatus Kahyangan Jagat memiliki radius kesucian
lima
kilometer. Jarak antara Desa Pecatu dengan Pura Luhur
Uluwatu memang
lima
kilometer.
Ada sejumlah pura yang menunjang kesucian Pura Luhur
Uluwatu yaitu Pura Pererepan di Desa Adat Pecatu, Pura
Dalem Kulat di Banjar Tengah, Desa Adat Pecatu, Pura
Karang Boma di Banjar Tengah di atas sebuah bukit.
Pura Dalem Selonding di Banjar
Kanginan, Pura Dalem Pangeleburan di Banjar Kauh di tepi
pantai Desa Adat Pecatu. Pura
Goa Batu Metandal di pantai selatan termasuk wilayah
Banjar Tengah Desa Adat Pecatu dan Pura Goa Tengah yang
terletak di Banjar Tengah.
*
Ketut Gobyah