Mutasi di Tabanan tak Indahkan Faktor Kemanusiaan
Tabanan (Bali Post) -
Turunnya SK Bupati tentang mutasi puluhan guru di
lingkungan Dinas pendidikan menimbulkan gejolak dan
perlawanan dari sejumlah guru yang terkena mutasi.
Desember lalu, sekitar 68 guru dimutasikan. Akan tetapi
hingga kini, banyak guru yang belum memenuhi mutasi
sesuai SK tersebut. Pasalnya mutasi tersebut dinilai
tidak mengindahkan faktor kemanusiaan dan kondisi
psikologis para guru.
Salah satu guru yang keberatan adalah I Gede Putu
Wardika, guru Agama Hindu SD 1 Kelating, Kerambitan yang
dimutasikan ke SD 5 Belimbing. Ia merasa keberatan
dengan langkah mutasi ke tempat tersebut dengan alasan
persoalan keluarga, sebab ibu dan istrinya kini sedang
sakit dan menjalani perawatan.
Menurutnya, akan sangat memberatkan jika ia harus
mengajar di tempat yang jauh. Dengan alasan tersebut,
telah satu bulan ia belum mengajar di tempat tugas baru.
Ia meminta pengambil keputusan lebih memperhatikan lagi
aspek kemanusiaan yang ia alami. Selain itu, Wardika
mengaku berbagai jabatan di desa adat dan pengurus pura
juga menjadi kendala baginya.
Ternyata protes keberatan juga datang dari komite
sekolah dan Desa Pakraman Kelating. Mereka mengaku telah
melayangkan surat keberatan kepada Kadis Pendidikan
dengan tembusan Bupati. Intinya masyarakat dan komite
sekolah menolak Wardika dimutasi ke Pupuan dan juga
menolak pengganti Wardika mengajar di SD Kelating.
Diharapkan, ke depan mutasi dilaksankan lebih bijaksana
dan dikaji lebih mendalam sehingga benar-benar membawa
kebaikan dan tidak sebaliknya malah menyengsarakan guru.
Aksi keberatan juga datang dari beberapa guru SD di
Baturiti. Seorang guru SD di Pacung menyatakan pihaknya
merasa sangat tidak nyaman dengan mutasi tersebut
sehingga ia lebih memilih tinggal di rumah untuk
sementara. Malahan guru ini menilai mutasi yang
dilakukan lebih bermuatan like and dislike.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Wayan Adnyana yang
baru dilantik menggantikan IB Manuaba menyatakan
pihaknya sudah menurunkan tim untuk mempelajari kasus
tersebut. Bahkan, tim yang dibentuknya telah turun ke SD
1 Kelating guna mengkonfirmasikan masalah tersebut
kepada kepala sekolah dan dan guru yang bersangkutan.
Tetapi Adnyana belum dapat memastikan langkah apa yang
akan diambilnya, sebab belum diketahui permasalahannya
dan belum ada laporan dari tim yang turun. ''Tim kami
masih di lapangan, sehingga hasilnya belum diketahui.
Mudah-mudahan secepatnya bisa kami ketahui hasilnya dan
segera mengambil tindakan,'' kilahnya. Namun, Adnyana
menyatakan pihaknya akan berupaya bekerja maksimal dalam
menangani kasus tersebut sehingga tidak ada pendidik
yang dirugikan. (upi)