kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 1 Maret 2006

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Profesionalisme Manajemen Perhotelan--

Tempatkan Orang Sesuai ''Skill'' dan ''Job''
 

KETUA Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Sukawati mengatakan pascabom Bali II kondisi hotel di Bali cukup memprihatinkan. Bahkan, hotel-hotel yang ada kebanyakan sudah kolaps karena rendahnya tingkat hunian. Selain rendahnya tingkat hunian yang menjadi sumber utama adalah masalah keamanan dan kenyamanan. Penyebab lainnya adalah, semakin majunya perkembangan pariwisata di masing-masing negara. Dalam hal ini setiap negara berusaha memajukan pariwisatanya untuk menggaet tamu agar datang ke negaranya. Jadi dalam hal ini sudah terjadi persaingan. Sementara kita di Indonesia dan Bali khususnya sudah diobrak-abrik oleh bom, makanya tamu takut datang ke Bali. Sistem pelayanan perlu ditingkatkan. Sistem manajemen perhotelan perlu dikelola secara profesional. Harus bisa menempatkan orang-orang sesuai dengan skill dan job-nya. Dampak bom Bali sangat luar biasa, di mana bisa mengintervensi pilar-pilar perekonomian Bali, di antaranya banyak hotel kolaps. Cepat atau lambat hal ini akan menyebabkan perumahan karyawan. Timbullah nantinya pengangguran yang selanjutnya akan timbul kemiskinan dan masalah sosial lainnya. Ke depan, semoga keamanan bisa lebih ditingkatkan, sehingga pariwisata bisa kembali pulih. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan secara langsung oleh Radio Global FM 96,5, Selasa (28/2) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

-----------------------------------------

Menurut Suardana, pembangunan Bali tidak bisa lepas dari pariwisata. Namun, saat ini pariwisata bisa dibilang gagal/merosot. Akankah gagal secara keseluruhan? Kebanyakan hotel di Bali kolaps tentu ada faktornya, baik internal maupun eksternal. Faktor internalnya mungkin dari keadaan lokal kita, secara makro/eksternal barangkali ada kesungkanan menanam modal. Kita tentu berharap agar budaya kita tetap lestari. Yang perlu dilakukan sekarang adalah masalah transportasi, reformasi, struktural dan kehidupan masyarakat secara cepat bisa dilakukan pemerataan.

Sementara itu, menurut Ngurah, sumber utama kolapsnya hotel adalah masalah keamanan. Kita sudah mengalami bom Bali I malah diperparah lagi oleh bom Bali II. Di sinilah keamanan kita sangat amat kurang. Terbukti pengamanan di pintu masuk Bali tidak pernah memeriksa secara mendetail. Pihak terkait yang menangani masalah keamanan juga hendaknya harus aktif memberikan sosialisasi terkait dengan apa dan bagaimana yang mesti dilakukan.

Pande menambahkan, dampak bom Bali sangat luar biasa di mana bisa mengintervensi pilar-pilar perekonomian Bali di antaranya banyak hotel kolaps. Cepat atau lambat hal ini akan menyebabkan perumahan karyawan. Timbullah nantinya pengangguran yang selanjutnya akan timbul kemiskinan dan masalah sosial lainnya.

Armayani menilai pariwisata Bali adalah pariwisata yang nikmat sesaat. Sebab, tidak ada komitmen yang jelas, baik dari pemegang kebijakan maupun fungsi kontrol itu. Bali ini akan diarahkan kemana? Ibarat kita berjualan tapi tidak tahu dengan jelas apa yang kita jual. Keamanan mungkin adalah faktor penunjang. Kita menjual pariwisata berdasarkan budaya tetapi budaya kita juga sudah tidak jelas. Kemudian terkait dengan keindahan alam, dalam hal ini kita kemaruk, sebab oknum pemegang kebijakan mengeluarkan izin seenaknya saja. Yang dilihat hanyalah material sehingga terjadilah seperti ini. Yang diperlukan saat ini hanyalah introspeksi diri.

Menurut Jujur, melihat situasi pariwisata saat ini sudah jelas dan tepat dikatakan banyak hotel yang kolaps. Sebab, tamu sudah tidak ada, dari mana masuknya pendapatan? Melihat situasi sekarang yang utama kena dampaknya adalah hotel. Hotel pun sangat banyak di Bali, entah siapa yang punya. Bersyukurlah kita dengan keadaan ini, ke depan kita bisa berpikir yang sederhana. Sebab, selama ini pola pikir kita asal dapat uang, investor masuk. Inilah seleksi alam. Sudah saatnya kita bisa menyiasati diri bekerja sesuai dengan apa yang bisa kita kerjakan untuk bertahan hidup. Ke depan mudah-mudahan keamanan bisa ditingkatkan dan juga perizinan bisa lebih disaring.

Adnyana mengatakan kolaps itu memang benar adanya, namun dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Faktor penyebabnya selain keamanan adalah faktor kenyamanan. Semua orang memerlukan rasa aman dan nyaman.

Ditambahkan oleh Rai, visi dan misi serta fungsi kontrol juga penting. PHRI dalam hal ini berperan sangat penting, tidak semata-mata melihat hotel sudah banyak dan lebih. Jika kita lihat di lapangan hotel memang banyak bahkan sudah melebihi, namun apakah pajak hotel bisa optimal dan sesuai dengan target? Inilah yang perlu dikaji.

Sementara Teken menilai penyebab banyaknya hotel yang kolaps adalah, pertama, kemungkinan Pulau Bali saat ini tidak lagi menjadi primadona pariwisata dunia yang disebabkan masalah keamanan. Tamu-tamu takut datang ke Bali setelah bom Bali I dan II. Penyebab kedua, semakin majunya perkembangan pariwisata di masing-masing negara. Dalam hal ini setiap negara berusaha memajukan pariwisatanya untuk menggaet tamu agar datang ke negaranya. Jadi dalam hal ini sudah terjadi persaingan. Sementara kita di Indonesia dan Bali khususnya sudah diobrak-abrik oleh bom, makanya tamu takut datang ke Bali. Ketiga, sistem pelayanan perlu ditingkatkan. Jangan sampai ada kesan kita yang berkecimpung di dunia pariwisata memeras tamu. Sebab, jika ini terjadi dan tamu merasa dirinya diperas pasti dia akan bercerita kepada rekannya tentang keadaan di Bali. Maka lengkaplah kenapa tamu itu enggan datang ke Bali. Hal keempat, sistem manajemen perhotelan perlu dikelola secara profesional. Harus bisa menempatkan orang-orang sesuai dengan skill dan job-nya.

Dewa Kakiang Manik menambahkan, setelah bom Bali I dan II Bali tidak lebih tertib, tidak lebih aman, tidak lebih nyaman, tidak lebih indah, tidak lebih bersih dan tidak lebih sehat dari sebelumnya. Jika ingin mendatangkan tamu semua hal itu harus dibuat lebih positif. Jika ada kemauan dan niat apa pun bisa dilakukan.

Gatra juga setuju keamanan adalah penyebab utama. Pelaku bom Bali sampai saat ini belum dieksekusi bagaimana tamu akan datang, sebab dirasakan Bali belum aman.

Putu Suena juga mengatakan hal yang sama. Jika eksekusi kepada pelaku bom Bali sudah dilaksanakan setidaknya ada pengaruhnya terhadap pariwisata. Dengan demikian Indonesia dianggap sudah bersahaja menanggulangi, memantau dan menumpas teroris, sehingga sedikit tidaknya sudah ada jaminan keamanan.

Ugi sependapat pula bahwa faktor keamanan adalah sumber utama. Ugi menyampaikan bahwa dulu pernah ada rombongan dari Bali ke luar negeri dalam rangka mempromosikan pariwisata Bali. Kenapa sekarang ada banyak hotel yang justru kolaps? Kalau demikian apa yang dipromosikan?

Nuaja berkata singkat, bahwa penyebabnya adalah sapta pesona sudah dilupakan. Sementara Widi mengungkapkan bahwa kita sudah dipolitisasi oleh Malaysia. Tokoh/yang menggerakkan bom Bali sebenarnya adalah orang Malaysia tetapi yang melakukannya justru orang-orang kita. Nah, di sinilah kelihatan bahwa orang-orang kita sangat bodoh, sebab bisa dipolitisasi oleh pihak luar yang tujuannya ingin menghancurkan negara kita. Terbukti sekarang Malaysia pariwisatanya sangat bagus, tetapi bagaimana dengan pariwisata kita? Komitmen keamanan kita juga sangat kurang. Pemerintah sepertinya kurang perhatian dalam hal keamanan. Semoga ke depan keamanan bisa lebih ditingkatkan sehingga pariwisata bisa kembali pulih.

* mei

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)