Dari Warung
Global Interaktif Bali Post
Profesionalisme Manajemen Perhotelan--
Tempatkan Orang Sesuai ''Skill'' dan ''Job''
KETUA
Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali
Tjokorda Sukawati mengatakan pascabom Bali II kondisi
hotel di Bali cukup memprihatinkan. Bahkan, hotel-hotel
yang ada kebanyakan sudah kolaps karena rendahnya
tingkat hunian. Selain rendahnya tingkat hunian yang
menjadi sumber utama adalah masalah keamanan dan
kenyamanan. Penyebab lainnya adalah, semakin majunya
perkembangan pariwisata di masing-masing negara. Dalam
hal ini setiap negara berusaha memajukan pariwisatanya
untuk menggaet tamu agar datang ke negaranya. Jadi dalam
hal ini sudah terjadi persaingan. Sementara kita di
Indonesia dan Bali khususnya sudah diobrak-abrik oleh
bom, makanya tamu takut datang ke Bali. Sistem pelayanan
perlu ditingkatkan. Sistem manajemen perhotelan perlu
dikelola secara profesional. Harus bisa menempatkan
orang-orang sesuai dengan skill dan job-nya. Dampak bom
Bali sangat luar biasa, di mana bisa mengintervensi
pilar-pilar perekonomian Bali, di antaranya banyak hotel
kolaps. Cepat atau lambat hal ini akan menyebabkan
perumahan karyawan. Timbullah nantinya pengangguran yang
selanjutnya akan timbul kemiskinan dan masalah sosial
lainnya. Ke depan, semoga keamanan bisa lebih
ditingkatkan, sehingga pariwisata bisa kembali pulih.
Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang
disiarkan secara langsung oleh Radio Global FM 96,5,
Selasa (28/2) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan
oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut
rangkuman selengkapnya.
-----------------------------------------
Menurut Suardana, pembangunan Bali tidak bisa lepas dari
pariwisata. Namun, saat ini pariwisata bisa dibilang
gagal/merosot. Akankah gagal secara keseluruhan?
Kebanyakan hotel di Bali kolaps tentu ada faktornya,
baik internal maupun eksternal. Faktor internalnya
mungkin dari keadaan lokal kita, secara makro/eksternal
barangkali ada kesungkanan menanam modal. Kita tentu
berharap agar budaya kita tetap lestari. Yang perlu
dilakukan sekarang adalah masalah transportasi,
reformasi, struktural dan kehidupan masyarakat secara
cepat bisa dilakukan pemerataan.
Sementara itu, menurut Ngurah, sumber utama kolapsnya
hotel adalah masalah keamanan. Kita sudah mengalami bom
Bali I malah diperparah lagi oleh bom Bali II. Di
sinilah keamanan kita sangat amat kurang. Terbukti
pengamanan di pintu masuk Bali tidak pernah memeriksa
secara mendetail. Pihak terkait yang menangani masalah
keamanan juga hendaknya harus aktif memberikan
sosialisasi terkait dengan apa dan bagaimana yang mesti
dilakukan.
Pande menambahkan, dampak bom Bali sangat luar biasa di
mana bisa mengintervensi pilar-pilar perekonomian Bali
di antaranya banyak hotel kolaps. Cepat atau lambat hal
ini akan menyebabkan perumahan karyawan. Timbullah
nantinya pengangguran yang selanjutnya akan timbul
kemiskinan dan masalah sosial lainnya.
Armayani menilai pariwisata Bali adalah pariwisata yang
nikmat sesaat. Sebab, tidak ada komitmen yang jelas,
baik dari pemegang kebijakan maupun fungsi kontrol itu.
Bali ini akan diarahkan kemana? Ibarat kita berjualan
tapi tidak tahu dengan jelas apa yang kita jual.
Keamanan mungkin adalah faktor penunjang. Kita menjual
pariwisata berdasarkan budaya tetapi budaya kita juga
sudah tidak jelas. Kemudian terkait dengan keindahan
alam, dalam hal ini kita kemaruk, sebab oknum pemegang
kebijakan mengeluarkan izin seenaknya saja. Yang dilihat
hanyalah material sehingga terjadilah seperti ini. Yang
diperlukan saat ini hanyalah introspeksi diri.
Menurut Jujur, melihat situasi pariwisata saat ini sudah
jelas dan tepat dikatakan banyak hotel yang kolaps.
Sebab, tamu sudah tidak ada, dari mana masuknya
pendapatan? Melihat situasi sekarang yang utama kena
dampaknya adalah hotel. Hotel pun sangat banyak di Bali,
entah siapa yang punya. Bersyukurlah kita dengan keadaan
ini, ke depan kita bisa berpikir yang sederhana. Sebab,
selama ini pola pikir kita asal dapat uang, investor
masuk. Inilah seleksi alam. Sudah saatnya kita bisa
menyiasati diri bekerja sesuai dengan apa yang bisa kita
kerjakan untuk bertahan hidup. Ke depan mudah-mudahan
keamanan bisa ditingkatkan dan juga perizinan bisa lebih
disaring.
Adnyana mengatakan kolaps itu memang benar adanya, namun
dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Faktor penyebabnya selain keamanan adalah faktor
kenyamanan. Semua orang memerlukan rasa aman dan nyaman.
Ditambahkan oleh Rai, visi dan misi serta fungsi kontrol
juga penting. PHRI dalam hal ini berperan sangat penting,
tidak semata-mata melihat hotel sudah banyak dan lebih.
Jika kita lihat di lapangan hotel memang banyak bahkan
sudah melebihi, namun apakah pajak hotel bisa optimal
dan sesuai dengan target? Inilah yang perlu dikaji.
Sementara Teken menilai penyebab banyaknya hotel yang
kolaps adalah, pertama, kemungkinan Pulau Bali saat ini
tidak lagi menjadi primadona pariwisata dunia yang
disebabkan masalah keamanan. Tamu-tamu takut datang ke
Bali setelah bom Bali I dan II. Penyebab kedua, semakin
majunya perkembangan pariwisata di masing-masing negara.
Dalam hal ini setiap negara berusaha memajukan
pariwisatanya untuk menggaet tamu agar datang ke
negaranya. Jadi dalam hal ini sudah terjadi persaingan.
Sementara kita di Indonesia dan Bali khususnya sudah
diobrak-abrik oleh bom, makanya tamu takut datang ke
Bali. Ketiga, sistem pelayanan perlu ditingkatkan.
Jangan sampai ada kesan kita yang berkecimpung di dunia
pariwisata memeras tamu. Sebab, jika ini terjadi dan
tamu merasa dirinya diperas pasti dia akan bercerita
kepada rekannya tentang keadaan di Bali. Maka lengkaplah
kenapa tamu itu enggan datang ke Bali. Hal keempat,
sistem manajemen perhotelan perlu dikelola secara
profesional. Harus bisa menempatkan orang-orang sesuai
dengan skill dan job-nya.
Dewa Kakiang Manik menambahkan, setelah bom Bali I dan
II Bali tidak lebih tertib, tidak lebih aman, tidak
lebih nyaman, tidak lebih indah, tidak lebih bersih dan
tidak lebih sehat dari sebelumnya. Jika ingin
mendatangkan tamu semua hal itu harus dibuat lebih
positif. Jika ada kemauan dan niat apa pun bisa
dilakukan.
Gatra juga setuju keamanan adalah penyebab utama. Pelaku
bom Bali sampai saat ini belum dieksekusi bagaimana tamu
akan datang, sebab dirasakan Bali belum aman.
Putu Suena juga mengatakan hal yang sama. Jika eksekusi
kepada pelaku bom Bali sudah dilaksanakan setidaknya ada
pengaruhnya terhadap pariwisata. Dengan demikian
Indonesia dianggap sudah bersahaja menanggulangi,
memantau dan menumpas teroris, sehingga sedikit tidaknya
sudah ada jaminan keamanan.
Ugi sependapat pula bahwa faktor keamanan adalah sumber
utama. Ugi menyampaikan bahwa dulu pernah ada rombongan
dari Bali ke luar negeri dalam rangka mempromosikan
pariwisata Bali. Kenapa sekarang ada banyak hotel yang
justru kolaps? Kalau demikian apa yang dipromosikan?
Nuaja berkata singkat, bahwa penyebabnya adalah sapta
pesona sudah dilupakan. Sementara Widi mengungkapkan
bahwa kita sudah dipolitisasi oleh Malaysia. Tokoh/yang
menggerakkan bom Bali sebenarnya adalah orang Malaysia
tetapi yang melakukannya justru orang-orang kita. Nah,
di sinilah kelihatan bahwa orang-orang kita sangat bodoh,
sebab bisa dipolitisasi oleh pihak luar yang tujuannya
ingin menghancurkan negara kita. Terbukti sekarang
Malaysia pariwisatanya sangat bagus, tetapi bagaimana
dengan pariwisata kita? Komitmen keamanan kita juga
sangat kurang. Pemerintah sepertinya kurang perhatian
dalam hal keamanan. Semoga ke depan keamanan bisa lebih
ditingkatkan sehingga pariwisata bisa kembali pulih.
*
mei