Dampak
yang paling dirasakan
oleh
masyarakat lokal yang
tinggal
di suatu
kawasan
wisata adalah
pencemaran
lingkungan.
Transportasi
serta
sistem manajemen
lalu
lintas yang jelek
adalah
sumber utama
polusi
udara dan
kebisingan.
---------------------------------
Benarkah
Pariwisata
Merusak
Lingkungan?
Oleh
Ketut
Gede Dharma
Putra
BEBERAPA
penelitian yang
komprehensif
memperlihatkan
betapa
pariwisata telah
memberikan
kontribusi
nyata
pada peningkatan
kualitas
hidup
masyarakat Bali.
Namun
pada
sisi yang lain,
pembangunan
kepariwisataan
ternyata
menyisakan
dampak
negatif.
----------------------
Masyarakat
Bali baru
sadar
setelah menikmati
keindahan
gemerlap
dunia
pariwisata yang memabukkan,
ada
beberapa hal yang
harus
segera diantisipasi
agar kenikmatan yang
pernah
dirasakan
dulu,
tetap
dapat dirasakan
juga
oleh generasi
berikutnya.
Dampak
negatif
pariwisata terhadap
lingkungan
hidup
telah diuraikan
oleh
World Tourism Organization (WTO)
pada
tahun 1996, yang harus
secara
cermat dipikirkan
oleh
masyarakat di
daerah
tujuan wisata
seperti Bali.
Keramaian
wisatawan
memberikan
dampak
kepada perubahan
perilaku
binatang yang
ditunjukkan
dengan
tingkah agresif yang
seringkali
membahayakan.
Pembangunan
fasilitas
kepariwisataan (akomodasi,
dan
sarana penunjang
lainnya),
selain
menyebabkan kerusakan
bentang
alam, potensi
peningkatan
longsor
dan banjir,
ternyata
memunculkan
daerah-daerah
kumuh
di sekitarnya.
Hal ini
sebagai
akibat datangnya
pencari
kerja yang tidak
memiliki
keterampilan yang
terjebak
dengan
mimpinya tentang
keindahan
dunia
gemerlap pariwisata.
Namun,
setelah
sadar dengan
kesukaran
lapangan
kerja
tidak berani
pulang
karena malu.
Akhirnya
mereka
menyambung hidup
dengan
tinggal di
daerah
kumuh dan
terperangkap
dengan
pekerjaan yang amoral.
Pembukaan
daerah
rekreasi, wisata
alam,
wisata bahari
dan
berbagai wisata
minat
khusus lainnya
seperti rafting, scuba
diving, hiking, bersepeda,
dan
panjat tebing
ternyata
memberikan
gangguan
besar
terhadap kehidupan
flora dan fauna liar.
Bahkan,
atraksi
memberi makan
binatang
di
daerah tertentu,
akhirnya
memberikan
dampak
kepada peningkatan
kebuasan
binatang liar
tersebut yang
sangat
berbahaya bagi
manusia.
Penjualan
barang-barang
suvenir yang
dibuat
sesuai dengan
keunikan
suatu
kawasan melalui
keunikan
benda
budaya, flora dan
fauna, akhirnya
memberikan
dampak
kepada kerusakan
alam yang
dilakukan
oleh
oknum yang ingin
menjual
benda suvenir
dari
bahan asli
dari
alam.
Pencemaran
Lingkungan
Dampak
yang paling dirasakan
oleh
masyarakat lokal yang
tinggal
di suatu
kawasan
wisata adalah
pencemaran
lingkungan.
Transportasi
serta
sistem manajemen
lalu
lintas yang jelek
adalah
sumber utama
polusi
udara dan
kebisingan. WTO
(1996) memperkirakan
lebih
dari 4 juta ton
bahan
bakar digunakan
setiap
tahun yang menghasilkan
850 juta gas yang
merusak
lapisan ozon
dan
menghasilkan 3,5 juta
ton bahan
kimia
di udara yang
menyebabkan
terjadinya
hujan
asam berbahaya
bagi
kehidupan.
Pencemaran
air semakin
meningkat
sebagai
akibat penggunaan
pestisida,
pupuk
dan bahan
kimia
lainnya dalam
upaya
meningkatkan keindahan
fasilitas
kepariwisataan (hotel,
lapangan golf,
dan
kolam).
Peningkatan
limbah
tinja di
suatu
kawasan setelah
bergabung
dengan
limbah lainnya
seperti
limbah plastik,
limbah
bahan berbahaya
dan
beracun (B-3) menyebabkan
kerusakan
lingkungan
di
sekitarnya.
Langkanya
beberapa
spesies
binatang juga
diakibatkan
oleh
permintaan
akan
makanan yang
mahal
untuk wisatawan
di
samping gangguan
akibat
kunjungan manusia
di
suatu kawasan
konservasi.
Aktivitas
wisatawan
di laut
seperti
berperahu, snorkling,
diving, dan surfing
dapat
menyebabkan kerusakan
lingkungan
pesisir
dan laut.
Flora
dan fauna
asing yang
dapat
berakibat buruk
bagi
keberlanjutan ekosistem
setempat
seringkali
didatangkan
oleh
para wisatawan
secara
sadar maupun
tidak.
Strategi
Pengelolaan
Dampak
Memang
benar,
pengembangan kepariwisataan
dapat
menimbulkan dampak
negatif
terhadap lingkungan.
Walaupun
kerusakan
lingkungan yang
diakibatkan
oleh
aktivitas pariwisata
hanya
sebagian kecil
dibandingkan
kerusakan
lingkungan
akibat
aktivitas masyarakat
lainnya.
Sebagian
besar
kerusakan sebenarnya
berasal
dari kegiatan
domestik yang
dilakukan
oleh
masyarakat.
Limbah
cair
rumah tangga,
sampah,
emisi gas buang,
serta
sumber pencemar
lainnya yang
masuk
ke lingkungan
jauh
lebih banyak
berasal
dari kegiatan
masyarakat
sendiri.
Terutama
di
daerah yang tidak
memiliki
sarana
pengolahan limbah
yang baik,
seperti
di
Bali.
Sampai
saat
ini, kerusakan
lingkungan
sebagai
akibat limbah
cair,
sampah, polusi
udara,
limbah B-3, dan
sanitasi
lingkungan yang
jelek
belum memiliki
sistem
pengelolaan terpadu.
Indikator
kerusakan
tersebut
dapat
diketahui dari trend
pencemaran
lingkungan yang
disimpulkan
dari
kegiatan pemantauan
lingkungan
di
titik-titik tertentu
di
Pulau Bali.
Sesuai
dengan
konsep pembangunan
berkelanjutan,
perbaikan
kualitas
lingkungan
baru
akan
dapat
dilakukan apabila
ada
anggaran yang memadai
untuk
kegiatan tersebut.
Kerusakan
lingkungan yang
diakibatkan
perkembangan
kepariwisataan
dapat
diperbaiki dengan
menggunakan
dana yang
dihasilkan
dari
aktivitas
kepariwisataan,
karena
pariwisata
menghasilkan pendapatan
nyata.
Perpaduan
antara
pemanfaatan dan
perbaikan
sumber
daya alam
perlu
dipertimbangkan, agar
generasi yang
akan
datang
masih dapat
merasakan
nikmatnya
dunia
pariwisata Bali. Pariwisata
memang
diperlukan untuk
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat,
namun
masyarakat pun harus
melakukan
kegiatan yang
sama
terhadap
keberlanjutan
pariwisata,
salah
satunya dengan
perilaku yang
ramah
lingkungan. Kalau
lingkungan
rusak,
maka
kerusakan itu
juga
sebagian besar
disebabkan
oleh
masyarakat Bali, tidak
semata-mata
karena
aktivitas pariwisata.
Oleh
karena
itu, saatnya
untuk
memperbaiki lingkungan
dengan
memberikan perhatian
yang lebih
besar
pada sektor
pengelolaan
lingkungan
hidup.
Kalau
lingkungan asri,
pariwisata
akan
tetap
berkembang, dan
masyarakat Bali
dapat
mewariskannya kepada
generasi yang
akan
datang.
Penulis,
staf
pengajar dan
peneliti
amdal
pada Universitas
Udayana