Para Guru Tuntut
Penggantian
Gaji yang
Dipotong
Bupati
Di-''Deadline''
Sepekan---
Selong
(Suara NTB)-
Rencana
aksi
ribuan guru anggota
PGRI untuk
turun
ke jalan yang
dirancang
sepekan
terakhir, akhirnya
benar-benar
dilaksanakan
pada
Senin (27/2) kemarin.
Mereka
menuntut
penggantian
gaji
mereka yang dipotong
selama
dua tahun
segera
direalisasikan, berikut
mencopot
Kepala
Dinas PDK Lotim, Drs.
H. Machsun Said Rum.
Bupati
di-deadline
selama
sepekan untuk
mengabulkan
tuntutan
mereka.
''Jika
tidak direalisasikan
sampai
batas waktu yang
kami
tetapkan, maka
terpaksa
kami
akan kembali
turun
ke jalan
menuntut
hak
kami,'' demikian
Mahsin,
S.Pd.,
koordinator
lapangan (korlap)
aksi
sekaligus juru
bicara (jubir)
pengurus
cabang (PC) PGRI se-Lotim.
Perjuangan
selama
empat bulan
secara
maraton dalam
wujud
aksi-aksi demo -- bahkan
diwarnai
aksi
mogok mengajar guru
-- menurut
Mahsin,
merupakan perjuangan
profesi, HAM
dan
citra guru.
Aksi
unjuk
rasa tersebut
dibantah
sebagai
aksi yang ditunggangi
kepentingan
politik
segelintir oknum DPRD.
Bahkan
pada
orasi di
gedung
parlemen, para guru
memaki
para anggota
Dewan yang
dituding
tidak
cerdas dalam
pembahasan
dan
persetujuan rancangan
APBD 2006.
Dewan
telah
berselingkuh dengan
eksekutif,
tuding
mereka. Para guru
tersebut mendasari
tudingannya
atas
persetujuan Dewan
terhadap
eksekutif
untuk
membayar utang
pelaksanaan program
tahun
anggaran 2005 yang dibayar
tahun 2006
senilai
Rp 14,3 milyar.
Padahal
Dewan
sendiri tidak
tahu-menahu
soal
pelaksanaan APBD 2005 lalu.
Para
pengunjuk
rasa
juga melontarkan
makian
dan tudingan
intimidasi yang
diduga
telah dilakukan
oleh
Kepala PDK, Machsun
Said R kepada
para guru
karena
sering berdemo.
Pada
kesepakatan yang
diambil
dalam pertemuan
antara PGRI
dan
Bupati H. Moh.
Ali Bin Dachlan
di
Mapolda NTB beberapa
waktu
lalu, bupati
juga
konon setuju
untuk
mengganti Machsun
Said dari
jabatannya
sebagai
Kepala PDK.
Tetapi
nyatanya
sampai
saat ini
Machsun Said
masih
bercokol, teriak
mereka.
Basis
Keilmuan
Para
guru menghendaki
pejabat yang
duduk
memegang kendali
pembangunan
bidang
kependidikan adalah
pejabat yang
berbasis
keilmuan
sebagai
pendidik, bukan
sarjana
ilmu politik.
Beginilah
jadinya
dunia pendidikan
dipolitisir, guru
menjadi
sapi perahan,
lanjut
pengunjuk rasa.
Karena
itu
mereka merasa
sangat
perlu untuk
bertatap
muka
dengan Kepala
Dinas PDK
itu.
Aksi
saling
dorong dengan
aparat
Polres Lotim yang
memagari
tembok
halaman Kantor PDK
pun tak
dapat dihindari.
Para guru berusaha
merangsek
masuk,
bahkan sampai
harus
turun ke
parit
berair untuk
kemudian
naik
melompati pagar
halaman
kantor
itu.
Namun
demikian,
para
pengunjuk rasa
untuk yang
kesekian
kalinya
tak berhasil
berdialog
dengan
Kepala Dinas PDK.
Bapak
sedang tak
masuk
kantor.
Lagi
cuti,
begitu kabar yang
mereka
terima dari
Wakil
Kepala Dinas PDK,
Drs. M. Thuhri.
Kabar
tak
ngantornya Bupati Ali
Dachlan
juga diterima
para
pengunjuk rasa
dari
Sekda Lotim,
Lalu
Nirwan, S.H. saat
berdialog
dengan
perwakilan pengunjuk
rasa.
Para pengunjuk
rasa
sebelumnya memberi
tenggat
waktu bagi
bupati
hingga Kamis (2/3)
lusa
untuk mengganti
gaji yang
dipotong
selama
dua tahun
dengan
asumsi sebesar
Rp 10,7
milyar.
Namun Sekda
menyatakan
hal itu
akan
dikonsultasikan
dengan
pimpinan daerah
lainnya,
sehingga
meminta deadline
diperpanjang
sampai
Senin (6/3) pekan
depan.
Meski demikian,
Sekda pun
tampak
tak berani
menjamin
kalau
Senin pekan
depan
tersebut
akan
direalisasikan
penggantian
gaji yang
dipotong
itu.
(038)
Klik di Sini