Jangan Bodohi Prajurit
Jakarta (Bali Post) -
Terhadap wacana pemberian hak politik bagi TNI, Panglima
TNI Marsekal Djoko Suyanto tampak sedikit emosional.
Menurutnya, wacana yang mengatakan bahwa pemberian hak
politik TNI bisa menyebabkan tembak-menembak
antarkesatuan merupakan wacana yang membodohi prajurit.
''Kita harus memberikan pencerahan bagi prajurit, bukan
membodohinya,'' tegas Panglima TNI Djoko Suyanto, Senin
(27/2) kemarin.
Prajurit TNI itu warga negara yang berpendidikan, punya
kedisiplinan dan memiliki aturan. Mereka juga warga
negara yang memiliki hak untuk memilih. Panglima
membandingkan masyarakat sipil, yang kadang tidak
berpendidikan, diperbolehkan memilih dalam pemilu,
mengapa prajurit TNI tidak boleh. Tetapi, hak politik
TNI ini tidak akan digunakan sembarangan. Hak politik
TNI akan diatur secara rigid, mana yang boleh dan mana
yang tidak boleh.
Kata Panglima, hak politik itu hanya digunakan sebagai
hak memilih bukan yang lainnya. ''TNI tidak boleh ikut
partai ini, partai itu. TNI juga tidak boleh ikut
kampanye dan sebagainya. Hak itu hanya untuk memilih,
baik dalam pemilu, pilkada maupun presiden,'' tegasnya.
Keputusan ini baru akan dilakukan setelah TNI selesai
melakukan pengkajian internal. Panglima justru membentuk
tim khusus. Selama 2-2,5 tahun, tim yang diketuai oleh
asisten teritorial itu akan mengkaji secara mendalam
aspirasi prajurit, norma-norma dan aturan-aturan
mengenai hak politik ini. ''Prajurit TNI juga akan
diberi pendidikan politik,'' tandasnta.
Pendidikan politik ini jangan sampai disalahartikan
sebagai pendidikan agar prajurit bebas menjadi anggota
partai. Sama sekali tidak. Pendidikan itu hanya untuk
memberi penyadaran terhadap hak memilih bagi para
prajurit dan kesadaran hidup berdemokrasi. ''Arahnya
bukan untuk berpartai atau kampanye-kampanye.''
(kmb7)