Demo Freeport Bentrok
Jakarta (Bali Post) -
Sekitar
150 mahasiswa
dan
warga Papua mendemo
kantor
pusat PT Freeport Indonesia
di Plaza 89
Kuningan, Jakarta
Selatan,
Senin (27/2)
kemarin.
Mereka
tergabung dalam Front
Perjuangan
Rakyat Papua
Barat (Front
Pepera PB).
Mereka
menuntut penutupan PT
Freeport Indonesia dan
membebaskan 13
mahasiswa yang
ditangkap
aparat
kepolisian beberapa
hari
lalu.
Demo
sempat
diwarnai bentrok
fisik
dua kali. Mahasiswa
Papua yang semula
memadati
jalan
di depan Plaza 89
meminta
masuk ke
halaman.
Tetapi,
ratusan polisi
menghadangnya.
Bentrok
kecil, dorong-dorongan
terjadi.
Lalu
lintas sempat
macet total.
Jalan
utama di
depan
Kedubes Australia itu
tetap
tidak bisa
dilalui
secara bebas
oleh
ratusan kendaraan
yang akan
menuju
arah Menteng.
Polisi yang
menjaga
mahasiswa sekitar
lima lapis ini
akhirnya
berubah
pikiran. Mahasiswa
diberi
kebebasan masuk
ke
halaman plaza.
Polisi
tidak
ingin kecolongan.
Sebuah
mobil water canon dan
rantis
langsung disiagakan
persis
di depan
pintu.
Bentrok kembali
terjadi,
saat
mahasiswa mendesak
ingin
masuk ke
dalam
gedung. Kalah,
mahasiswa
tidak
bisa menembus
pagar
betis polisi
dan security
gedung yang
mengenakan
baju
antihuru-hara.
Mahasiswa
kemudian
melanjutkan
aksinya
dengan orasi-orasi.
Dalam
selebaran yang dibagikan
kepada
wartawan, Perpera PB
menuntut lima
hal.
Pertama, mendesak
penutupan
secara total
seluruh
operasi PT Freepor-Rio
Tinto
dan lakukan audit
dan
penyidikan secara
menyeluruh
terhadap
seluruh
kejahatan HAM, korupsi,
dan
penghancuran lingkungan
hidup
serta sumber-sumber
kehidupan
rakyat Papua.
Kedua,
menarik seluruh
pasukan
nonorganik TNI-Polri
yang berada
di Papua.
Ketiga,
mengecam
keras
statemen pemerintah
NKRI melalui
Wapres
Jusuf Kalla
terkait
pernyataannya tentang
perlunya
penambahan
pasukan TNI
untuk
menjaga kawasan
pertambangan PT Freeport.
Keempat,
bebaskan
seluruh
tahanan kasus Mil
62-63 Timika
dan
kasus BEM Papua di
Plaza 89. Kelima,
mengecam
keras
hegemoni AS-Uni
Eropa
atas penguasaan
dan
penghancuran SDA dan
ekonomi
politik di
tanah Papua.
Perpera PB
juga
menyerukan agar seluruh
rakyat Papua
melakukan
mogok
sipil nasional
dan
menggalang persatuan
untuk
menuntut penyelesaian
seluruh
persoalan rakyat
Papua.
Panglima
TNI Marsekal
Djoko
Suyanto menegaskan,
secara
keseluruhan keamanan
di Papua
dapat
dikendalikan oleh
pihak
kepolisian. Sampai
sekarang
belum
ada permintaan
dan
pelimpahan kewenangan
pengamanan
dari
Polri kepada TNI.
Karena
itu, Panglima
menyatakan
sampai
sekarang TNI tidak
akan
menambah pasukan
guna
mengamankan objek
vital PT Freeport Indonesia di
Timika, Papua. ''Semuanya
sudah
aman. TNI tidak
akan
menambah pasukan,''
tegas
Panglima Djoko
Suyanto
dalam jumpa
pers di
Mabes
Cilangkap Jakarta, Senin
(27/2) kemarin.
Seperti
diketahui, demo
mahasiswa
ini
terkait kerusuhan
antara
pihak aparat
keamanan
dengan
warga di
Timika
di wilayah
pertambangan PT Freeport,
di Mil 62-63.
Setidaknya
tiga
warga Papua tertembak.
Mahasiswa
kemudian
mengamuk
di
kantor pusat Freeport
di Jakarta.
Mereka
kini ditahan.
Aksi kali
ini
sebagai aksi
solidaritas
untuk
menuntut pembebasan
rekan-rekan
mereka
dan sekaligus
mendesak
penutupan PT Freeport.
(kmb7)