kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Umanis, 28 Pebruari 2006

 Iptek


Mobil Hibrida, Mengantisipasi Krisis BBM

Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) mengundang banyak protes karena semakin menyulitkan kehidupan masyarakat, termasuk pemilik mobil. Berbicara tentang masalah otomotif dan kenaikan harga BBM, tidak saja berhubungan dengan pasar. Sebab, kenaikan harga BBM juga berhubungan langsung dengan kapasitas mesin mobil. Secara umum, ada dua jenis mesin mobil. Pertama, mobil ber-cc besar dengan kapasitas 1.300 cc atau 1.500 cc ke atas. Kedua, mobil ber-cc kecil dengan kapasitas 1.100 cc ke bawah.

=========================================================== 

Dari segi pemakaian bensin, mobil ber-cc besar lebih boros dibandingkan dengan mobil ber-cc kecil. Mobil berkapasitas 1.300 cc dan 1.500 cc mengkonsumsi 1 liter bensin dengan jarak tempuh rata-rata 10-12 kilometer. Sementara mobil berkapasitas 1.100 cc mengkonsumsi bensin 1 liter dengan jarak menempuh 10-20 kilometer. Itu pun tergantung pada kondisi mobil, cara mengemudi, dan kondisi lalu lintas. Tidak mungkin mobil rusak akan mengkonsumsi 1 liter bensin dengan jarak 10-15 kilometer, misalnya. Karena kebutuhan 1 liter adalah untuk kondisi mobil normal. 

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa perbedaan antara mobil ber-cc besar dengan ber-cc kecil dalam pemakaian BBM cukup signifikan. Sehingga untuk kepemilikan, tak ada salahnya diperhitungkan kembali. Dengan keadaan BBM yang tidak jelas, sangat wajar seandainya para pemilik mencoba memakai mobil ber-cc kecil yang akan lebih efisien dan hemat.

 

Tidak bisa dimungkiri bahwa harga mobil ber-cc besar di Indonesia tak jauh berbeda dengan mobil ber-cc kecil. Kondisi ini menyulitkan konsumen untuk beralih ke mobil ber-cc kecil. Kecuali pemerintah menurunkan pajak mobil ber-cc kecil, sehingga harga mobil ber-cc kecil bisa menjadi lebih murah.

 

Kebijakan pemerintah menurunkan pajak mobil ber-cc kecil, secara tidak langsung juga akan membantu dalam penghematan bensin. Namun, harus diperhitungkan berapa banyak rakyat Indonesia memakai mobil ber-cc kecil. Jika mayoritas rakyat Indonesia memakai mobil ber-cc kecil, tak ada salahnya pemerintah menurunkan pajak mobil ber-cc kecil tersebut.

 

Mobil Rakyat Indonesia

 

Secara ilmu sosial, kesenangan berhubungan dengan kondisi budaya suatu masyarakat. Begitu juga terhadap mobil, rakyat Indonesia lebih suka dengan mobil berukuran besar, yang bisa membawa 7-8 penumpang. Karena kebanyakan keluarga di Indonesia adalah keluarga besar. Itulah salah satu hal yang menyebabkan di Indonesia banyak orang memiliki mobil boros, 1 liter bensin untuk menempuh perjalanan rata-rata 5 dan 7 kilometer.

 

Belum lagi pengaruh budaya modern yang memberikan pandangan, mobil juga sebagai gaya hidup, bukan hanya sarana transportasi. Menyebabkan orang berlomba-lomba membeli mobil mahal. Bukan suatu hal aneh, walau dalam keadaan krisis ekonomi, mobil mewah tetap banyak berkeliaran di jalan-jalan Jakarta. Mereka rela mengeluarkan uang tambahan untuk membeli mobil ber-cc besar (3.000 cc ke atas) demi mengangkat status sosial. Inilah kelemahan sebagian masyarakat Indonesia, melihat keberadaan orang dari segi material dan status sosial.

 

Begitupun di AS, yang ketika mengalami kenaikan harga BBM, tidak mengubah selera masyarakatnya untuk beralih ke mobil ber-cc kecil. Mereka tetap rela menambah uang untuk membeli BBM, hingga rata-rata orang di sana menghabiskan uang sekitar 1.200-1.500 dolar AS per tahun untuk membeli BBM. Atau menambah biaya sekitar 100-200 dolar AS per tahun untuk membeli BBM. Ini disebabkan pendapatan ekonomi mereka memang sudah tinggi.

 

Melihat perkembangan BBM yang makin minim dan efek negatif BBM mencemari lingkungan, produsen otomotif segera melakukan penelitian, pengembangan, dan memodifikasi mesin. Meereka menciptakan mesin mobil yang sesuai dengan kondisi lingkungan, kebutuhan dan keadaan alam. Lahirlah mobil bermesin hibrida.

 

Mobil bermesin hibrida ini hemat BBM. Sistem mesin ini kini telah dipakai oleh semua produsen mobil besar dunia seperti Honda, Toyota, Nissan, General Motors, KIA, Ford, dan Daimler Chrysler. Mobil hibrida pun semakin disenangi oleh masyarakat. Bahkan, gara-gara mesin hibrida, produsen otomotif Jepang sempat memukul pasar otomotif AS, karena mesin hibrida buatan Jepang jauh lebih bagus daripada buatan AS. Produsen mobil Jepang pun mendapat penghargaan dari pemerintahan AS atas produksinya tersebut, sebagai mobil ramah lingkungan dan hemat BBM.

 

Secara teknis mesin hibrida sudah teruji, karena teknologi hibrida menggabungkan dua bahan bakar mesin, yaitu bensin dengan listrik, sehingga mobil tidak membutuhkan tenaga ekstra lagi. Pasalnya, sudah ada mesin listrik. Tidak itu saja, mobil tidak lagi tergantung pada bensin. Mesin listrik akan bekerja saat mobil membutuhkan tenaga kecil, mesin bensin bekerja saat mobil membutuhkan tenaga besar. Ini mengurangi kecepatan dan saat mengerem, mesin listrik akan berfungsi sebagai alternator yang menghasilkan listrik guna mengisi aki yang berfungsi sebagai sumber tenaga.

 

Namun, dalam perjalanannya, perkembangan mesin hibrida tidak seindah yang dibayangkan. Ketika mobil dalam keadaan macet, mesin hibrida tidak bisa berfungsi secara optimal. Tetap boros, walau tingkat borosnya tidak signifikan. Keberadaan mesin hibrida baru akan lebih terasa, ketika mobil berjalan cepat; karena tenaga sudah dibantu oleh mesin listrik.

 

Perkembangan mesin mobil semakin menunjukkan bahwa teknologi otomotif kian hari kian meningkat. Berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi. Perlengkapan mesin dan elemen lain semakin sempurna. Semakin menyamankan pengemudi dalam mengendarai mobil. Itulah salah satu sifat teknologi. Hal ini tak lepas dari perebutan pasar dan pengembangan industri. Bila kini mesin hibrida menjadi mesin terbagus, beberapa tahun nanti hibrida akan menjadi mesin nomor lima, sembilan, sepuluh, atau mesin mobil terbelakang.

(sut, berbagai sumber)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)