Mobil Hibrida, Mengantisipasi Krisis BBM
Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak
(BBM) mengundang banyak protes karena semakin
menyulitkan kehidupan masyarakat, termasuk pemilik mobil.
Berbicara tentang masalah otomotif dan kenaikan harga
BBM, tidak saja berhubungan dengan pasar. Sebab,
kenaikan harga BBM juga berhubungan langsung dengan
kapasitas mesin mobil. Secara umum, ada dua jenis mesin
mobil. Pertama, mobil ber-cc besar dengan kapasitas
1.300 cc atau 1.500 cc ke atas. Kedua, mobil ber-cc
kecil dengan kapasitas 1.100 cc ke bawah.
===========================================================
Dari segi pemakaian bensin, mobil ber-cc besar lebih
boros dibandingkan dengan mobil ber-cc kecil. Mobil
berkapasitas 1.300 cc dan 1.500 cc mengkonsumsi 1 liter
bensin dengan jarak tempuh rata-rata 10-12 kilometer.
Sementara mobil berkapasitas 1.100 cc mengkonsumsi
bensin 1 liter dengan jarak menempuh 10-20 kilometer.
Itu pun tergantung pada kondisi mobil, cara mengemudi,
dan kondisi lalu lintas. Tidak mungkin mobil rusak akan
mengkonsumsi 1 liter bensin dengan jarak 10-15
kilometer, misalnya. Karena kebutuhan 1 liter adalah
untuk kondisi mobil normal.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa
perbedaan antara mobil ber-cc besar dengan ber-cc kecil
dalam pemakaian BBM cukup signifikan. Sehingga untuk
kepemilikan, tak ada salahnya diperhitungkan kembali.
Dengan keadaan BBM yang tidak jelas, sangat wajar
seandainya para pemilik mencoba memakai mobil ber-cc
kecil yang akan lebih efisien dan hemat.
Tidak bisa dimungkiri bahwa harga mobil ber-cc besar di
Indonesia tak jauh berbeda dengan mobil ber-cc kecil.
Kondisi ini menyulitkan konsumen untuk beralih ke mobil
ber-cc kecil. Kecuali pemerintah menurunkan pajak mobil
ber-cc kecil, sehingga harga mobil ber-cc kecil bisa
menjadi lebih murah.
Kebijakan pemerintah menurunkan pajak mobil ber-cc kecil,
secara tidak langsung juga akan membantu dalam
penghematan bensin. Namun, harus diperhitungkan berapa
banyak rakyat Indonesia memakai mobil ber-cc kecil. Jika
mayoritas rakyat Indonesia memakai mobil ber-cc kecil,
tak ada salahnya pemerintah menurunkan pajak mobil ber-cc
kecil tersebut.
Mobil Rakyat Indonesia
Secara ilmu sosial, kesenangan berhubungan dengan
kondisi budaya suatu masyarakat. Begitu juga terhadap
mobil, rakyat Indonesia lebih suka dengan mobil
berukuran besar, yang bisa membawa 7-8 penumpang. Karena
kebanyakan keluarga di Indonesia adalah keluarga besar.
Itulah salah satu hal yang menyebabkan di Indonesia
banyak orang memiliki mobil boros, 1 liter bensin untuk
menempuh perjalanan rata-rata 5 dan 7 kilometer.
Belum lagi pengaruh budaya modern yang memberikan
pandangan, mobil juga sebagai gaya hidup, bukan hanya
sarana transportasi. Menyebabkan orang berlomba-lomba
membeli mobil mahal. Bukan suatu hal aneh, walau dalam
keadaan krisis ekonomi, mobil mewah tetap banyak
berkeliaran di jalan-jalan Jakarta. Mereka rela
mengeluarkan uang tambahan untuk membeli mobil ber-cc
besar (3.000 cc ke atas) demi mengangkat status sosial.
Inilah kelemahan sebagian masyarakat Indonesia, melihat
keberadaan orang dari segi material dan status sosial.
Begitupun di AS, yang ketika mengalami kenaikan harga
BBM, tidak mengubah selera masyarakatnya untuk beralih
ke mobil ber-cc kecil. Mereka tetap rela menambah uang
untuk membeli BBM, hingga rata-rata orang di sana
menghabiskan uang sekitar 1.200-1.500 dolar AS per tahun
untuk membeli BBM. Atau menambah biaya sekitar 100-200
dolar AS per tahun untuk membeli BBM. Ini disebabkan
pendapatan ekonomi mereka memang sudah tinggi.
Melihat perkembangan BBM yang makin minim dan efek
negatif BBM mencemari lingkungan, produsen otomotif
segera melakukan penelitian, pengembangan, dan
memodifikasi mesin. Meereka menciptakan mesin mobil yang
sesuai dengan kondisi lingkungan, kebutuhan dan keadaan
alam. Lahirlah mobil bermesin hibrida.
Mobil bermesin hibrida ini hemat BBM. Sistem mesin ini
kini telah dipakai oleh semua produsen mobil besar dunia
seperti Honda, Toyota, Nissan, General Motors, KIA,
Ford, dan Daimler Chrysler. Mobil hibrida pun semakin
disenangi oleh masyarakat. Bahkan, gara-gara mesin
hibrida, produsen otomotif Jepang sempat memukul pasar
otomotif AS, karena mesin hibrida buatan Jepang jauh
lebih bagus daripada buatan AS. Produsen mobil Jepang
pun mendapat penghargaan dari pemerintahan AS atas
produksinya tersebut, sebagai mobil ramah lingkungan dan
hemat BBM.
Secara teknis mesin hibrida sudah teruji, karena
teknologi hibrida menggabungkan dua bahan bakar mesin,
yaitu bensin dengan listrik, sehingga mobil tidak
membutuhkan tenaga ekstra lagi. Pasalnya, sudah ada
mesin listrik. Tidak itu saja, mobil tidak lagi
tergantung pada bensin. Mesin listrik akan bekerja saat
mobil membutuhkan tenaga kecil, mesin bensin bekerja
saat mobil membutuhkan tenaga besar. Ini mengurangi
kecepatan dan saat mengerem, mesin listrik akan
berfungsi sebagai alternator yang menghasilkan listrik
guna mengisi aki yang berfungsi sebagai sumber tenaga.
Namun, dalam perjalanannya, perkembangan mesin hibrida
tidak seindah yang dibayangkan. Ketika mobil dalam
keadaan macet, mesin hibrida tidak bisa berfungsi secara
optimal. Tetap boros, walau tingkat borosnya tidak
signifikan. Keberadaan mesin hibrida baru akan lebih
terasa, ketika mobil berjalan cepat; karena tenaga sudah
dibantu oleh mesin listrik.
Perkembangan mesin mobil semakin menunjukkan bahwa
teknologi otomotif kian hari kian meningkat. Berkembang
sesuai dengan perkembangan teknologi. Perlengkapan mesin
dan elemen lain semakin sempurna. Semakin menyamankan
pengemudi dalam mengendarai mobil. Itulah salah satu
sifat teknologi. Hal ini tak lepas dari perebutan pasar
dan pengembangan industri. Bila kini mesin hibrida
menjadi mesin terbagus, beberapa tahun nanti hibrida
akan menjadi mesin nomor lima, sembilan, sepuluh, atau
mesin mobil terbelakang.
(sut,
berbagai sumber)