kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Umanis, 28 Pebruari 2006

 Ekonomi


Pisang
Buleleng Belum Dijadikan Produk Olahan

Singaraja (Bali Post) -
Meningkatnya
produksi pisang di Buleleng tampaknya belum diimbangi dengan pemasaran maksimal. Selama ini produksi pisang di daerah itu masih diperuntukkan untuk keperluan upacara adat dan agama. Hanya sedikit pisang diproduksi khusus untuk kebutuhan usaha pembuatanan kue atau produk olahan lainnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Buleleng Nyoman Manik di kantornya Senin (27/2) kemarin mengatakan, pihaknya mengupayakan berbagai kegiatan untuk pemberdayaan ibu-ibu PKK di bidang pembuatan makanan olahan dari pisang. Ini dilakukan untuk memberi nilai jual terhadap produksi pisang yang makin meningkat di Buleleng. ''Mengolah pisang menjadi produk lain seperti kripik pisang diharapkan bisa memberi nilai jual yang lebih terhadap produksi pisang,'' ujarnya.

Menurut Manik, potensi pisang di Buleleng cukup besar. Hampir di tiap kecamatan terdapat tanaman pisang, terutama di Kecamatan Tejakula, Gerokgak dan Banjar. Pisang yang diproduksi ini jenisnya cukup beragam, di antaranya pisang raja, raja bulu, gepok (saba), sasih dan kapandis. Produksi pisang di Buleleng sebelumnya sempat terpuruk akibat diserang hama, namun kini mulai menunjukkan peningkatan. Produksi pisang tahun 2003 berjumlah 17.897 ton, tahun 2004 mencapai 19.534 ton, dan tahun 2005 meningkat menjadi 24.199 ton.

Padahal tahun 2000 lalu petani pisang di sejumlah kecamatan di Buleleng sempat menjerit karena produksinya terpuruk. Saat itu tanaman pisang di wilayah itu diserang hama gayas (semacam kumbang) dan penyakit layu batang dan daun. Produksinya saat itu hanya 14.817 ton. ''Kemudian tahun 2002 turun menjadi 11.867 ton,'' tandasnya.

Tentang banyaknya produksi pisang dari luar Buleleng yang menyerbu ke Bali Utara, Manik mengatakan hal itu sangat merugikan petani pisang setempat. Karena pisang lokal peminatnya menjadi sedikit, termasuk harganya juga anjlok dibandingkan dengan harga pisang luar Buleleng. Meski demikian pihaknya tetap optimis pisang Buleleng bisa bersaing dengan pisang luar. ''Yang terpenting saat ini bagaimana petani bersama pemerintah bekerja sama dalam pembinaan, sehingga bisa meningkatkan kualitasnya,'' katanya. (kmb15)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)