kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Umanis, 28 Pebruari 2006

 Ekonomi


Virus AI Masuk Jatim--

150 Juta Unggas Terancam

Surabaya sejak 15 Februari 2006 tak bebas lagi dari wabah flu burung. Sebab, virus avian influenza (AI) H5NI penyebab flu burung telah menyerang di Kelurahan Kedurus yang memiliki 23.000 penduduk itu. Gubernur Jatim langsung menyalahkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Alasannya, surat Nomor 524/9603/021/2005 tertanggal 10 Oktober 2005, Gubernur Jatim sudah mengingatkan Pemkot Surabaya agar waspada terhadap penyebaran virus avian influenza. 

Gubernur Imam Utomo mengirimkan surat ke Bupati Gresik, Pasuruan, Sidoarjo dan Wali Kota Surabaya agar meningkatkan pencegahan akan terjadinya wabah flu burung, baik melalui vaksin maupun disinfektan. Namun, nyatanya virus yang menakutkan itu muncul juga. Terlepas dari saling menyalahkan, sebetulnya virus flu burung sudah masuk Jawa Timur sejak 24 Januari 2004 lalu. Berdasarkan data pada Dinas Peternakan Jatim, Januari - Maret 2004 ada empat kabupaten (Malang, Blitar, Kediri dan Tulungagung) yang terkena virus AI.

Kemudian Mei - Juni jumlahnya meningkat menjadi 10 kabupaten di antaranya Mojokerto, Jombang, Lamongan, Magetan, Ponorogo, dan Pasuruan. Kemudian Oktober - November 2004 penyebaran virus AI meluas di 25 kabupaten/kota mulai hilir dan hulu. Yang paling parah menyerang di kawasan unggas rakyat di Blitar terutama ayam buras, ayam ras dan itik yang memiliki populasi 15 juta ekor. Pada 2004, unggas yang dimusnahkan sebanyak 1 juta dan 7 juta ekor yang didepopulasi.

Yang menarik, penyebaran virus AI yang semula menyerang di 25 kabupaten memasuki 2005 menurun drastis. Hanya ada enam kabupaten yang terserang virus AI penyebab flu burung terutama Mei 2005. Pada 2005, jumlah unggas yang didepopulasi sebanyak 70.000 dari 12 juta ekor.

Awal 2006, dua kabupaten di Jatim Kediri dan Tulungagung tetap belum bebas virus AI. Yang menghebohkan justru pertahanan Kota Surabaya yang semula dinyatakan bebas virus AI bobol juga. Terutama di Kelurahan Kedurus, Surabaya. Ribuan unggas yang berada dalam radius 1 kilometer terpaksa harus dimusnahkan dengan cara disembelih kemudian bangkai unggas dikubur sedalam satu meter.

Sementara kandang-kandang unggas dibakar. ''Total unggas di Jatim ada sekitar 150 juta ekor. Dari jumlah populasi unggas di Jatim ada 98 juta di 25 kabupaten yang terserang virus AI,'' kata Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Dinas Peternakan Propinsi Jatim drh. Bambang Hermawan kepada Bali Post, Senin (27/2) kemarin.

Bila melihat adanya penurunan serangan virus flu burung di beberapa tempat, ini menunjukkan upaya pencegahan penularan virus AI keseluruh kabupaten/kota di Jatim yang dilakukan Dinas Peternakan, dan instansi terkait cukup berhasil. Apa yang dilakukan Dinas Peternakan Jatim untuk mencegah menyebarnya virus AI? Ia menyatakan, ada sembilan langkah tindakan untuk mencegah menyebarnya virus AI. Yakni, melakukan vaksinasi massal tiga kali selama satu tahun sebanyak 70 juta dosis. Kemudian melakukan biosecurity dengan melakukan disinvektan untuk membunuh kuman/menyucihamakan/mematikan virus AI H5NI dan penyemprotan insektisida. Langkah selanjutnya, mengisolasi unggas tertular, depopulasi, stamping out/pemusnahan menyeluruh pada daerah tertular baru, surveylent dan pengamatan penyakit.

Salah satu penyebab masuknya virus flu burung ke Indonesia       akibat epidiomologi burung migrasi antarbenua dari Asia Timur dan Australia melalui Cina, Jepang, Malaysia, Filipina, Australia dan Indonesia. ''Burung migrasi itu kemudian berinteraksi dengan burung asli Jawa,'' kata Bambang.

Tentang interaksi burung migrasi dengan burung lokal (Jawa asli) diduga sebagai masuknya virus AI ke Jatim khususnya Surabaya. Terutama di empat titik rawan yakni di Muara Sungai Delta Sidoarjo, Bengawan Solo Gresik, Sungai Wonorejo Surabaya dan pantai Pasuruan. ''Keempat daerah rawan itu disinyalir sebagai tempat berinteraksinya burung migrasi dengan burung Jawa asli,'' tambahnya.

Yang perlu diwaspadai adanya interaksi burung merpati karena terbang sampai mendekati daerah rawan. Meski demikian, virus AI H5NI penyebab flu burung, kata dia, hingga saat ini belum ada yang menular ke manusia. Untuk mencegah menularnya virus AI, Kadis Perikanan Kelautan, Peternakan, Pertanian dan Kehutanan Pemkot Surabaya Suhartoyo didampingi stafnya drh. Aristona menyatakan pihaknya telah melakukan pemusnahan ribuan unggas pada radius satu kilometer dan radius 1-3 kilometer untuk penyemprotan vaksin dan disinfektan.

''Saya yang menerima laporan pertama kali dari Pak Said, pemilik lima ayam di Kelurahan Kedurus yang mati mendadak,'' katanya. Ia menyatakan, pemusnahan unggas dan kandang harus dilaksanakan apabila di suatu wilayah ditemukan virus AI. Sebab, penularan virus AI bisa melalui udara, lalat yang hinggap ke makanan, kotoran serta kontak langsung dengan unggas.

Penemuan virus AI di Kelurahan Kedurus, katanya, sebenarnya bukan yang pertama kalinya tetapi pertama yang dilaporkan ke petugas Dinas Peternakan. Sebab, ada sejumlah kawasan di Surabaya sebetulnya banyak unggas piaraannya mati mendadak setahun lalu. Tetapi, karena ketidaktahuan masyarakat awam akan virus AI matinya unggas piaraan dianggap hal biasa.

 

Prihatin

 

Di kalangan akademis, ditemukannya virus AI H5NI di Surabaya dinilai sangat memprihatinkan. Sebab, ketika masyarakat sedang susah, masih ada saja yang memanfaatkannya untuk menjadikan sebuah proyek. ''Terus terang, saya sangat prihatin. Masak masih ada perguruan tinggi negeri di Jakarta dan Bogor yang memanfaatkan virus AI sebagai proyek. Mereka masing-masing mendapatkan dana Rp 100 milyar dan Rp 75 milyar dengan dalih melakukan penelitian,'' kata peneliti AI dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair Dr. dr. Choirul Anwar Nidhom, M.S.

Padahal, kata dia, kedua perguruan tinggi itu belum pernah melakukan kegiatan apa-apa sebelum isu virus AI muncul kembali. Ia menyatakan, untuk melakukan penelitian memang memerlukan dana besar. Tetapi, bisa disiasati dengan menjalin hubungan dengan perguruan tinggi di luar negeri.

Dengan cara itu untuk meneliti virus AI sebenarnya tidak memerlukan biaya banyak. Apalagi mencapai Rp 175 milyar. Bahkan, peneliti AI dari FKH Unair ini sering melakukan penelitian di Jepang dan beberapa negara lain, tanpa mengeluarkan dana yang banyak. Guna mencegah penularan virus AI, sebenarnya yang paling ampuh adalah melakukan pemusnahan unggas dan membakar kandangnya.

Mengapa? Karena dengan memusnahkan unggas dan membakar kandangnya, diharapkan tidak ada lagi virus AI yang hidup atau tersisa. Tetapi, apabila dilakukan dengan vaksin dan disinfektan, CA Nidhom khawatir ada virus yang masih kuat dan bertahan hidup meskipun dilakukan dengan cara penyemprotan vaksin dan disinfektan.

''Virus yang masih hidup ini tidak lagi menyerang unggas tetapi lebih memilih manusia sebagai sasarannya,'' ujarnya. Sebab, kalau virus ditekan terus dia akan melawan dan akan melakukan proses mutasi/penyerangan kepada manusia. Apalagi vaksin hanya bisa menekan angka kematian tetapi tidak bisa menghilangkan virus. Ditambah lagi peternak tidak mau diatur.

Ada empat cara pecegahan penularan virus AI. Bagi peternak ayam, sebaiknya menggunakan empat sektor. Misalnya, ayam yang biasanya dilepas supaya dikandangkan agar tidak menular. Bila malam hari sebaiknya diberi penutup kerodong ke kandang. Sebab, ada indikasi virus AI jalan pada malam hari.

Untuk peternak mandiri, sebaiknya memakai pagar bambu. Hal itu dimaksudkan agar tikus dan ayam tidak bisa masuk serta terakhir pagar bambu itu kemudian diberi jaring agar burung dari atas tidak bisa masuk. Dengan cara seperti ini diharapkan penyebaran virus AI dapat diminimalkan.

Bahkan, Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Dinas Peternakan Jatim drh. Bambang Hermawan berani memprediksikan apabila sembilan langkah dapat dilakukan antara Pemprop Jatim dan masyarakat, diharapkan di Jatim khususnya akan terbebas dari virus AI yang mematikan itu.

* bambang

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)