Virus AI Masuk Jatim--
150 Juta Unggas Terancam
Surabaya sejak 15 Februari 2006 tak bebas lagi dari
wabah flu burung. Sebab, virus avian influenza (AI) H5NI
penyebab flu burung telah menyerang di Kelurahan Kedurus
yang memiliki 23.000 penduduk itu. Gubernur Jatim
langsung menyalahkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Alasannya, surat Nomor 524/9603/021/2005 tertanggal 10
Oktober 2005, Gubernur Jatim sudah mengingatkan Pemkot
Surabaya agar waspada terhadap penyebaran virus avian
influenza.
Gubernur Imam Utomo mengirimkan surat ke Bupati Gresik,
Pasuruan, Sidoarjo dan Wali Kota Surabaya agar
meningkatkan pencegahan akan terjadinya wabah flu burung,
baik melalui vaksin maupun disinfektan. Namun, nyatanya
virus yang menakutkan itu muncul juga. Terlepas dari
saling menyalahkan, sebetulnya virus flu burung sudah
masuk Jawa Timur sejak 24 Januari 2004 lalu. Berdasarkan
data pada Dinas Peternakan Jatim, Januari - Maret 2004
ada empat kabupaten (Malang, Blitar, Kediri dan
Tulungagung) yang terkena virus AI.
Kemudian Mei - Juni jumlahnya meningkat menjadi 10
kabupaten di antaranya Mojokerto, Jombang, Lamongan,
Magetan, Ponorogo, dan Pasuruan. Kemudian Oktober -
November 2004 penyebaran virus AI meluas di 25 kabupaten/kota
mulai hilir dan hulu. Yang paling parah menyerang di
kawasan unggas rakyat di Blitar terutama ayam buras,
ayam ras dan itik yang memiliki populasi 15 juta ekor.
Pada 2004, unggas yang dimusnahkan sebanyak 1 juta dan 7
juta ekor yang didepopulasi.
Yang menarik, penyebaran virus AI yang semula menyerang
di 25 kabupaten memasuki 2005 menurun drastis. Hanya ada
enam kabupaten yang terserang virus AI penyebab flu
burung terutama Mei 2005. Pada 2005, jumlah unggas yang
didepopulasi sebanyak 70.000 dari 12 juta ekor.
Awal 2006, dua kabupaten di Jatim Kediri dan Tulungagung
tetap belum bebas virus AI. Yang menghebohkan justru
pertahanan Kota Surabaya yang semula dinyatakan bebas
virus AI bobol juga. Terutama di Kelurahan Kedurus,
Surabaya. Ribuan unggas yang berada dalam radius 1
kilometer terpaksa harus dimusnahkan dengan cara
disembelih kemudian bangkai unggas dikubur sedalam satu
meter.
Sementara kandang-kandang unggas dibakar. ''Total unggas
di Jatim ada sekitar 150 juta ekor. Dari jumlah populasi
unggas di Jatim ada 98 juta di 25 kabupaten yang
terserang virus AI,'' kata Kasi Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Hewan Dinas Peternakan Propinsi
Jatim drh. Bambang Hermawan kepada Bali Post, Senin
(27/2) kemarin.
Bila melihat adanya penurunan serangan virus flu burung
di beberapa tempat, ini menunjukkan upaya pencegahan
penularan virus AI keseluruh kabupaten/kota di Jatim
yang dilakukan Dinas Peternakan, dan instansi terkait
cukup berhasil. Apa yang dilakukan Dinas Peternakan
Jatim untuk mencegah menyebarnya virus AI? Ia menyatakan,
ada sembilan langkah tindakan untuk mencegah menyebarnya
virus AI. Yakni, melakukan vaksinasi massal tiga kali
selama satu tahun sebanyak 70 juta dosis. Kemudian
melakukan biosecurity dengan melakukan disinvektan untuk
membunuh kuman/menyucihamakan/mematikan virus AI H5NI
dan penyemprotan insektisida. Langkah selanjutnya,
mengisolasi unggas tertular, depopulasi, stamping out/pemusnahan
menyeluruh pada daerah tertular baru, surveylent dan
pengamatan penyakit.
Salah satu penyebab masuknya virus flu burung ke
Indonesia akibat
epidiomologi burung migrasi antarbenua dari Asia Timur
dan Australia melalui Cina, Jepang, Malaysia, Filipina,
Australia dan Indonesia. ''Burung migrasi itu kemudian
berinteraksi dengan burung asli Jawa,'' kata Bambang.
Tentang interaksi burung migrasi dengan burung lokal (Jawa
asli) diduga sebagai masuknya virus AI ke Jatim
khususnya Surabaya. Terutama di empat titik rawan yakni
di Muara Sungai Delta Sidoarjo, Bengawan Solo Gresik,
Sungai Wonorejo Surabaya dan pantai Pasuruan. ''Keempat
daerah rawan itu disinyalir sebagai tempat
berinteraksinya burung migrasi dengan burung Jawa asli,''
tambahnya.
Yang perlu diwaspadai adanya interaksi burung merpati
karena terbang sampai mendekati daerah rawan. Meski
demikian, virus AI H5NI penyebab flu burung, kata dia,
hingga saat ini belum ada yang menular ke manusia. Untuk
mencegah menularnya virus AI, Kadis Perikanan Kelautan,
Peternakan, Pertanian dan Kehutanan Pemkot Surabaya
Suhartoyo didampingi stafnya drh. Aristona menyatakan
pihaknya telah melakukan pemusnahan ribuan unggas pada
radius satu kilometer dan radius 1-3 kilometer untuk
penyemprotan vaksin dan disinfektan.
''Saya yang menerima laporan pertama kali dari Pak Said,
pemilik lima ayam di Kelurahan Kedurus yang mati
mendadak,'' katanya. Ia menyatakan, pemusnahan unggas
dan kandang harus dilaksanakan apabila di suatu wilayah
ditemukan virus AI. Sebab, penularan virus AI bisa
melalui udara, lalat yang hinggap ke makanan, kotoran
serta kontak langsung dengan unggas.
Penemuan virus AI di Kelurahan Kedurus, katanya,
sebenarnya bukan yang pertama kalinya tetapi pertama
yang dilaporkan ke petugas Dinas Peternakan. Sebab, ada
sejumlah kawasan di Surabaya sebetulnya banyak unggas
piaraannya mati mendadak setahun lalu. Tetapi, karena
ketidaktahuan masyarakat awam akan virus AI matinya
unggas piaraan dianggap hal biasa.
Prihatin
Di kalangan akademis, ditemukannya virus AI H5NI di
Surabaya dinilai sangat memprihatinkan. Sebab, ketika
masyarakat sedang susah, masih ada saja yang
memanfaatkannya untuk menjadikan sebuah proyek. ''Terus
terang, saya sangat prihatin. Masak masih ada perguruan
tinggi negeri di Jakarta dan Bogor yang memanfaatkan
virus AI sebagai proyek. Mereka masing-masing
mendapatkan dana Rp 100 milyar dan Rp 75 milyar dengan
dalih melakukan penelitian,'' kata peneliti AI dari
Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair Dr. dr. Choirul
Anwar Nidhom, M.S.
Padahal, kata dia, kedua perguruan tinggi itu belum
pernah melakukan kegiatan apa-apa sebelum isu virus AI
muncul kembali. Ia menyatakan, untuk melakukan
penelitian memang memerlukan dana besar. Tetapi, bisa
disiasati dengan menjalin hubungan dengan perguruan
tinggi di luar negeri.
Dengan cara itu untuk meneliti virus AI sebenarnya tidak
memerlukan biaya banyak. Apalagi mencapai Rp 175 milyar.
Bahkan, peneliti AI dari FKH Unair ini sering melakukan
penelitian di Jepang dan beberapa negara lain, tanpa
mengeluarkan dana yang banyak. Guna mencegah penularan
virus AI, sebenarnya yang paling ampuh adalah melakukan
pemusnahan unggas dan membakar kandangnya.
Mengapa? Karena dengan memusnahkan unggas dan membakar
kandangnya, diharapkan tidak ada lagi virus AI yang
hidup atau tersisa. Tetapi, apabila dilakukan dengan
vaksin dan disinfektan, CA Nidhom khawatir ada virus
yang masih kuat dan bertahan hidup meskipun dilakukan
dengan cara penyemprotan vaksin dan disinfektan.
''Virus yang masih hidup ini tidak lagi menyerang unggas
tetapi lebih memilih manusia sebagai sasarannya,''
ujarnya. Sebab, kalau virus ditekan terus dia akan
melawan dan akan melakukan proses mutasi/penyerangan
kepada manusia. Apalagi vaksin hanya bisa menekan angka
kematian tetapi tidak bisa menghilangkan virus. Ditambah
lagi peternak tidak mau diatur.
Ada empat cara pecegahan penularan virus AI. Bagi
peternak ayam, sebaiknya menggunakan empat sektor.
Misalnya, ayam yang biasanya dilepas supaya dikandangkan
agar tidak menular. Bila malam hari sebaiknya diberi
penutup kerodong ke kandang. Sebab, ada indikasi virus
AI jalan pada malam hari.
Untuk peternak mandiri, sebaiknya memakai pagar bambu.
Hal itu dimaksudkan agar tikus dan ayam tidak bisa masuk
serta terakhir pagar bambu itu kemudian diberi jaring
agar burung dari atas tidak bisa masuk. Dengan cara
seperti ini diharapkan penyebaran virus AI dapat
diminimalkan.
Bahkan, Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan
Dinas Peternakan Jatim drh. Bambang Hermawan berani
memprediksikan apabila sembilan langkah dapat dilakukan
antara Pemprop Jatim dan masyarakat, diharapkan di Jatim
khususnya akan terbebas dari virus AI yang mematikan itu.
*
bambang