kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Umanis, 28 Pebruari 2006

 Bali


Banyak Hotel di Bali Kolaps

Denpasar (Bali Post) -
Kebanyakan hotel di Bali kini sudah kolaps. Pasalnya, tingkat hunian di kisaran 30 persen, masih jauh di bawah break event point (BEP) yang mencapai 40 - 45 persen. Demikian disampaikan Ketua Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Sukawati -- yang akrab disapa Tjok Ace -- Senin (27/2) kemarin.

Tjok Ace mengatakan pascabom Bali II kondisi hotel di Bali cukup memprihatinkan. Bahkan, ia mengutarakan hotel-hotel yang ada kebanyakan sudah kolaps karena rendahnya tingkat hunian. ''Kendati terisi 30 persen pun, itu masih di bawah BEP, sebab hotel baru bisa BEP jika tingkat hunian mencapai paling tidak di kisaran 40 - 45 persen,'' katanya.

Kolapsnya sebagian besar hotel di Bali, dikatakannya, juga dipicu adanya optimisme di kalangan manajemen hotel. Ia menjelaskan pada 2004 lalu cukup banyak pengusaha perhotelan yang meminjam dana dari bank dalam jumlah besar untuk melakukan renovasi. Hal ini tidak terlepas dari adanya berbagai laporan positif yang memprediksikan bahwa pada 2005 pariwisata Bali akan kembali pulih. Bahkan, diprediksi akan mengalami kondisi yang jauh lebih baik.

Adanya berbagai prediksi inilah, kata Tjok Ace, yang menyebabkan pengusaha berani meminjam dana dalam jumlah besar. Dikatakannya, bila tidak ada peristiwa bom pada 1 Oktober 2005, prediksi tersebut pasti terbukti. Namun, setelah bom, wisatawan yang berkunjung menurun drastis dan berdampak pada tingkat hunian. Minimnya isian kamar ditambah dengan besarnya kredit yang mesti dibayarkan inilah yang membuat beban pengusaha bertambah berat.

Meski demikian, ia mengatakan sejauh ini belum ada laporan maupun masukan dari anggota tentang penghentian operasional hotel. Ia mengungkapkan penutupan maupun penghentian operasional hotel tidak mesti melapor kepada asosiasi. Sebab, selama ini tidak ada sanksi tegas yang dimiliki asosiasi bagi anggotanya. Terlebih lagi, ia menilai sebagian besar penutupan hotel tidak dilaporkan ke PHRI dengan alasan gengsi.

''Sejauh ini kami belum menerima laporan penutupan hotel. Selama tidak ada kewajiban yang tidak terpenuhi, umumnya pengusaha enggan melaporkan karena gengsi,'' ujar Tjok Ace.

Meski belum ada yang melaporkan kepada asosiasi, ia tidak memungkiri jika penutupan hotel kemungkinan besar terjadi pascabom Bali II. Diakuinya pula, beberapa pengusaha perhotelan sudah ada yang berkonsultasi padanya mengenai kemungkinan penutupan maupun pengurangan jam kerja karyawan. Bila sebatas pengurangan jam kerja, ia mengatakan masih bisa ditoleransi karena tingkat hunian sedang menurun drastis. Namun, ia mengimbau para pengusaha agar jangan sampai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). (kmb18)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)