Dari Warung
Global Interaktif Bali Post
Hindari Persaingan tak Sehat, Tingkatkan Kreativitas
Perajin
TERPURUKNYA
kondisi pariwisata Bali sangat berdampak pada berbagai
sektor penunjangnya. Salah satunya adalah sektor
kerajinan yang kini turut serta pemasarannya anjlok.
Bahkan, nilai ekspornya turun sebesar 50% dari tahun
sebelumnya. Tentu hal ini berdampak jelas pada
perputaran ekonomi Bali. Walau ada yang mengatakan bahwa
tidak saja di Bali atau Indonesia, tetapi memang ekonomi
dunia juga sedang sepi. Di samping itu peran pemerintah
dalam keseragaman harga kerajinan juga perlu ditinjau
untuk menghindari adanya persaingan tidak sehat
antarperajin. Faktor keamanan dan kenyamanan wisatawan
yang datang juga perlu dijaga. Untuk itu masalah-masalah
besar harus dituntaskan terlebih dulu, seperti kasus
Amrozy yang sampai saat ini kepastian hukumnya belum ada.
Tanpa ada kepastian hukum maka pulihnya kondisi
pariwisata Bali akan sulit. Di pihak perajin saatnya
sekarang berkreativitas yang lebih baru lagi. Untuk
memulihkan ekonomi desain perlu dimodifikasi. Jadi
kreativitas perajin harus ditingkatkan. Demikian
terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan
secara langsung oleh Radio Global FM 96,5, Senin (27/2)
kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta
Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.
-----------------------------------------------
Pande di Pandak Gede mengatakan bahwa Bali adalah
pariwisata dan pariwisata adalah Bali, Bali identik
dengan pariwisata. Keadaan ini sudah diseting sejak dulu,
di mana hal di luar pariwisata terlupakan maka
terjadilah seperti sekarang. Pada saat kunjungan
wisatawan turun harus dicari sumber atau biang
penyebabnya. Karena semua ini kembali pada pencitraan
Bali atau pencitraan pariwisata. Inilah yang harus kita
jaga.
Yadnya di Karangasem memberi kepastian karena banyak
wisatawan asing yang dulu hanya berkunjung tertarik
dengan barang-barang khas Bali, kemudian datang ke Bali
berikutnya dia bersekolah seni, baik seni ukir, tari dan
lain sebagainya. Selanjutnya tahu bagaimana cara
membuatnya. Otomatis anjloknya produk Bali karena ada
barang-barang yang sama dengan di Bali misalnya tamu
Malaysia mengatakan bahwa ada produk yang sama di dekat
negara tersebut. Maka dari itu dinas terkait agar
segera menyelesaikan kasus yang menggerogoti negara
seperti kasus Amrozy, Poso. Sehingga wisatawan tidak
takut untuk datang ke Bali. Harus diketahui pula bahwa
tamu lebih mengenal Bali. Mereka mengatakan bahwa Bali
adalah mukanya Indonesia.
Mursi di Jl. Supratman Denpasar menyoroti masalah
keamanan yang harus diperhatikan di samping juga faktor
adanya persaingan bisnis yang jelek, sehingga orang
asing membanding-bandingkan antara satu artshop dengan
artshop yang lain. Lebih baik pihak terkait
menyeragamkan harga.
Kak Batu di Ubung Kaja menjelaskan bahwa ia banyak
memiliki tamu asing yang berbisnis di Bali. Mereka
mengatakan bahwa stok yang dibeli di Indonesia tahun
sebelumnya belum laku di negaranya. Hal ini terjadi
sejak perang Irak, di mana daya beli produk furniture
lesu, bukan karena terpuruknya pariwisata Bali, tetapi
kenyataan global mereka tidak membelanjakan uangnya
untuk membeli produk. Tamu yang mengatakan ini berasal
dari Prancis dan memiliki usaha di seluruh dunia. Hal
yang harus diatasi adalah penyelesaian kasus bom Bali
secara maksimal.
Komang Ari di Ubud menambahkan, kalau di layar TV
disebutkan bahwa untuk pengembalian pariwisata Bali baik
promo maupun lainnya dianggarkan dana oleh pemerintah
mencapai Rp 63 milyar, dinilai tidak perlu. Karena
keamanan dan kenyamanannya yang perlu dijaga. Misalnya
kasus Amrozy sampai saat ini kepastian hukumnya belum
ada. Keamanan tamu tidak ada yang menjamin, tanpa ada
kepastian hukum maka pulihnya kondisi pariwisata Bali
akan sulit.
Teken di Suwat Gianyar menyikapi terkait anjloknya
ekspor kerajinan Bali. Menurutnya, kalau kita cermati
pariwisata mengalami kehancuran karena, 1) Hancur jelas
berpengaruh terhadap bisnis kerajinan. Pariwisata anjlok
karena keamanan yang belum tertangani, oleh karena itu
satu-satunya jalan memulihkan pariwisata umumnya dan
Bali khususnya keamanan ini harus dijadikan fokus. 2)
Mutu dan kualitas produk kerajinan harus ditingkatkan.
3) Adanya persaingan tidak sehat antarperajin misalnya
dengan kerajinan yang sama saling bom masalah harga,
sehingga nantinya merugikan perajin itu sendiri. Kalau
begini terus menerus maka akan membunuh perajin itu
sendiri, sehingga seharusnya perajin memiliki
wadah.
Nyoman Ledang Asmara di Denpasar menilai bukan semata
disebabkan oleh situasi dunia global, tetapi ulah
artshop atau tengkulak-tengkulak perajin yang serakah,
misalnya pemberian fee. Akhirnya turis tahu dan merasa
dikibuli sehingga lama-lama turis menyesal. Penyebab
anjlok lainnya karena jumlah produksi kerajinan berlipat
ganda, sementara pemasarannya anjlok karena bom dan
adanya kenaikan BBM sehingga biaya atau cost produksi
meningkat. Hitam putih semua ini ditentukan oleh sebuah
lingkaran antara artshop, travel agent, hotel dan guide.
Nyoman Sutawan di Karangasem secara singkat mengatakan
bahwa penyebab anjloknya ekspor kerajinan karena belum
dieksekusinya Amrozy cs.
Sementara I.B. Rai di Sanur menilai bahwa ini dampak
dari Bom I dan II, apalagi akan dikeluarkannya UU
Antipornografi dan Pornoaksi karena kerajinan tersebut
adalah simbolis, misalnya seperti patung putri duyung.
Jadi orang yang sering membeli handycraft takut nanti
dilarang di bandara. Jadi bisa dikatakan mulai sekarang
muncul kendalanya di Bali dibuat tidak nyaman.
Cok Rai di Ubud menjelaskan, dalam kondisi lesu, di mana
perajin sepi orang-orang bisa melihat grafik yang anjlok,
atau tinggi. Dapat dilihat ini adalah sebuah hukum
keseimbangan mungkin dulu terlalu tinggi. Bagi perajin
di saat sepi harus digunakan untuk berbuat kreatif
mendesain sesuatu yang baru dengan penuh inovasi.
Yus di Tampaksiring mengatakan karena turis sepi maka
otomatis pembeli kurang. Sebaiknya sekarang
berkreativitas yang lebih baru lagi. Untuk memulihkan
ekonomi desain perlu dimodifikasi.
Menurut Ade di Denpasar, harus juga diperhatikan sisi
produsen kerajinan itu. Dalam hal ini produsen harus
proaktif. Kerajinan itu sama dengan makanan harus selalu
dikemas ulang. Kalau kerajinan monoton tanpa ada
kreativitas maka secara otomatis menimbulkan kelesuan.
Misalnya saja kerajinan sasak ditambah pernik-pernik
akhirnya melesat laris. Jadi kreativitas perajin harus
ditingkatkan.
*
panca