kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 27 Pebruari 2006

 Mimbar Buddha


Menyembuhkan Penyakit
 

DALAM hidup ini, semua orang pernah sakit. Sejak kecil hingga dewasa, sejak bayi hingga tua; tidak ada orang yang lolos dari gangguan kesehatan. Ada gangguan yang ringan, ada pula gangguan yang berat, harus dirawat di rumah sakit, minum obat berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Memang demikian hidup ini, sakit adalah salah satu gangguan yang pasti terjadi.

Tidak ada orang yang mengharapkan dirinya sakit. Semua orang mengharapkan kesembuhan, hidup sehat. Bagaimana pun kondisi kehidupan yang kita jalani, berbagai cara diusahakan agar sembuh.

Sehubungan dengan proses penyembuhan; ada tiga jenis gangguan kesehatan. Pertama, gangguan kesehatan yang dapat sembuh dengan sendirinya, walaupun tidak pergi ke dokter dan tidak mengkonsumsi obat-obatan. Gangguan kesehatan yang sifatnya ringan dapat sembuh dengan sendirinya, dengan hanya beristirahat beberapa hari. Kondisi kesehatan kembali pulih.

Kedua, ada gangguan kesehatan yang tidak pernah sembuh. Walaupun dicoba dengan dokter yang paling terkenal atau pintar, dengan obat yang dikatakan paling manjur; gangguan kesehatan tersebut tetap muncul dan semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya menimbulkan kematian. Proses penuaan merupakan salah satu contoh. Walaupun diobati oleh dokter ahli, dengan peralatan modern, hasilnya tetap sama. Kulit tetap keriput.

Ketiga, gangguan kesehatan yang sembuh setelah ditangani oleh dokter, mendapat nasihat dokter, dan mengkonsumsi obat yang tepat. Para dokter bekerja dan obat-obatan dibuat untuk mereka yang berada dalam kelompok ini, untuk mereka yang memiliki gangguan kesehatan yang bisa disembuhkan.

Tiga kelompok orang sakit tersebut dipergunakan oleh Sang Buddha untuk menggambarkan kehidupan manusia dalam menyembuhkan penyakit batin; keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan ketidaktahuan (moha); seperti yang terdapat dalam Anguttara Nikaya III, orang sakit.

Pertama, mereka yang dapat sembuh dengan sendirinya walaupun tidak bertemu dengan Buddha Dhamma. Mereka memiliki sedikit kekotoran batin. Kedua, mereka yang tidak dapat mencapai kebebasan, kebahagiaan abadi, walaupun Dhamma tersebut diajarkan oleh Buddha sendiri. Di zaman Sang Buddha, tidak semua siswa Buddha dapat mencapai tingkat kesucian arahat. Ketika Buddha parinibbana, banyak orang yang meratapi ketidak berhasilannya. Ada pula yang gembira karena merasa tidak ada yang melarang untuk melakukan hal tertentu. Mereka belum mencapai tingkat kesucian.

Ketiga, mereka yang sembuh dan mencapai kebahagiaan tertinggi, jika dan hanya jika belajar dan mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan ini. Di zaman Sang Buddha, cukup banyak pula yang masuk dalam kelompok ini. Mereka berhasil mencapai tingkat kesucian, dari Sotapanna hingga Arahat. Untuk mereka, Dhamma dibabarkan dan diwariskan dan tetap memberikan hasil hingga saat ini.

Kita ada di mana? Jelas, kita tidak termasuk dalam kelompok pertama dan kedua. Kita belum jadi orang suci. Kesempatan untuk belajar dengan Sang Buddha juga sudah lewat. Kita berada dalam kelompok ketika. Kita kondisikan diri, belajar Dhamma dan berlatih dalam kehidupan ini. Dengan kondisi yang kita buat, mudah-mudahan kita bisa sembuh dari tiga akar perbuatan buruk yang ada.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)