Menyembuhkan Penyakit
DALAM
hidup ini, semua orang pernah sakit. Sejak kecil hingga
dewasa, sejak bayi hingga tua; tidak ada orang yang
lolos dari gangguan kesehatan. Ada gangguan yang ringan,
ada pula gangguan yang berat, harus dirawat di rumah
sakit, minum obat berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Memang demikian hidup ini, sakit adalah salah satu
gangguan yang pasti terjadi.
Tidak ada orang yang mengharapkan dirinya sakit. Semua
orang mengharapkan kesembuhan, hidup sehat. Bagaimana
pun kondisi kehidupan yang kita jalani, berbagai cara
diusahakan agar sembuh.
Sehubungan dengan proses penyembuhan; ada tiga jenis
gangguan kesehatan. Pertama, gangguan kesehatan yang
dapat sembuh dengan sendirinya, walaupun tidak pergi ke
dokter dan tidak mengkonsumsi obat-obatan. Gangguan
kesehatan yang sifatnya ringan dapat sembuh dengan
sendirinya, dengan hanya beristirahat beberapa hari.
Kondisi kesehatan kembali pulih.
Kedua, ada gangguan kesehatan yang tidak pernah sembuh.
Walaupun dicoba dengan dokter yang paling terkenal atau
pintar, dengan obat yang dikatakan paling manjur;
gangguan kesehatan tersebut tetap muncul dan semakin
menjadi-jadi, hingga akhirnya menimbulkan kematian.
Proses penuaan merupakan salah satu contoh. Walaupun
diobati oleh dokter ahli, dengan peralatan modern,
hasilnya tetap sama. Kulit tetap keriput.
Ketiga, gangguan kesehatan yang sembuh setelah ditangani
oleh dokter, mendapat nasihat dokter, dan mengkonsumsi
obat yang tepat. Para dokter bekerja dan obat-obatan
dibuat untuk mereka yang berada dalam kelompok ini,
untuk mereka yang memiliki gangguan kesehatan yang bisa
disembuhkan.
Tiga kelompok orang sakit tersebut dipergunakan oleh
Sang Buddha untuk menggambarkan kehidupan manusia dalam
menyembuhkan penyakit batin; keserakahan (lobha),
kebencian (dosa), dan ketidaktahuan (moha); seperti yang
terdapat dalam Anguttara Nikaya III, orang sakit.
Pertama, mereka yang dapat sembuh dengan sendirinya
walaupun tidak bertemu dengan Buddha Dhamma. Mereka
memiliki sedikit kekotoran batin. Kedua, mereka yang
tidak dapat mencapai kebebasan, kebahagiaan abadi,
walaupun Dhamma tersebut diajarkan oleh Buddha sendiri.
Di zaman Sang Buddha, tidak semua siswa Buddha dapat
mencapai tingkat kesucian arahat. Ketika Buddha
parinibbana, banyak orang yang meratapi ketidak
berhasilannya. Ada pula yang gembira karena merasa tidak
ada yang melarang untuk melakukan hal tertentu. Mereka
belum mencapai tingkat kesucian.
Ketiga, mereka yang sembuh dan mencapai kebahagiaan
tertinggi, jika dan hanya jika belajar dan mempraktikkan
Dhamma dalam kehidupan ini. Di zaman Sang Buddha, cukup
banyak pula yang masuk dalam kelompok ini. Mereka
berhasil mencapai tingkat kesucian, dari Sotapanna
hingga Arahat. Untuk mereka, Dhamma dibabarkan dan
diwariskan dan tetap memberikan hasil hingga saat ini.
Kita ada di mana? Jelas, kita tidak termasuk dalam
kelompok pertama dan kedua. Kita belum jadi orang suci.
Kesempatan untuk belajar dengan Sang Buddha juga sudah
lewat. Kita berada dalam kelompok ketika. Kita
kondisikan diri, belajar Dhamma dan berlatih dalam
kehidupan ini. Dengan kondisi yang kita buat,
mudah-mudahan kita bisa sembuh dari tiga akar perbuatan
buruk yang ada.