Banyuwangi
Kekurangan
Pupuk
Banyuwangi
(Bali Post) -
Tahun
ini Kabupaten
Banyuwangi
dipastikan
akan
kembali
kekurangan pasokan
pupuk.
Pasalnya,
dari
permintaan yang diajukan
sebanyak 50
ribu ton,
hanya 35
ribu ton yang
disetujui.
Padahal,
jumlah 50 ton
tersebut
adalah
ukuran paling minim untuk
kebutuhan
Banyuwangi
setiap
tahunnya.
Demikian
dijelaskan
Kepala
Dinas Kehutanan,
Pertanian
dan
Urusan Ketahanan
Pangan Ir.
Mohamad
Syawal, Sabtu (25/2).
Dikatakannya,
tahun 2004
lalu
Kabupaten Banyuwangi
mampu
mendapatkan pasokan
pupuk
sekitar 53 ribu ton,
sesuai
permintaan dari
Dinas
Pertanian Kabupaten
Banyuwangi
ke
Propinsi Jawa
Timur.
''Tahun
ini
dipastikan turun
pasokan yang
akan
diterima,'' lanjut
Syawal.
Untuk
mengantisipasi
kekurangan
tersebut,
Syawal
menyatakan
akan
melakukan
pengaturan
dan
pengawasan yang tepat
dalam
pendistribusian pupuk.
Tempat-tempat yang
dicurigai
menjadi
penimbunan pupuk
akan
diawasi
secara ketat
bekerja
sama dengan
aparat
kepolisian.
Proses
pembelian
pupuk
tahun ini
akan
sedikit
lebih rumit
dibandingkan
sebelumnya.
Nantinya,
mekanisme
pembelian
pupuk
hanya dilakukan
melalui
kelompok tani.
Setiap
petani yang
akan
membeli
pupuk diwajibkan
membuat
definitif kebutuhan
kelompok (DKK).
Dengan
cara
ini
petani diajarkan
selalu
membuat rencana
pembelian
pupuk.
''Ini
pembelajaran
bagi
petani untuk
mengurangi
pemborosan
dan
penyelewengan pupuk,''
imbuh
mantan Kadis
Perdagangan
Kabupaten
Banyuwangi
ini.
Meski
mekanisme
pembelian
begitu
rumit, Syawal
memastikan
harga
pupuk tidak
akan
dipermainkan.
Petani
bisa
langsung membeli
kepada
pengecer melalui
kelompok
tani
masing-masing.
Kurangnya
pasokan
pupuk untuk
Banyuwangi
juga
diakui oleh
Bendahara
Himpunan
Kerukunan
Tani Indonesia (HKTI)
Propinsi
Jawa
Timur M. Noer
Sutjipto, S.P., M.M.,
M.sc.
Menurutnya, berkurangnya
pasokan
itu disebabkan
oleh
pengurangan pasokan
pupuk
dari pemerintah
pusat
kepada Propinsi
Jawa
Timur.
Tahun
ini
Jawa Timur
sudah
mengajukan permintaan
pupuk 1.300.000 ton.
Namun,
yang disetujui
hanya 1
juta ton. ''Jadi
masih
ada kekurangan 300
ribu ton,''
ujar
Ketua
Pengusaha
Pupuk
Kecil Menengah
Propinsi
Jatim
ini.
Karena
itulah,
lanjut Sutjipto, HKTI
Jatim
sudah mendesak
Gubernur
Jawa
Timur Imam Utomo
untuk
kembali mengajukan
kebutuhan
pupuk
di Jawa
Timur.
Diharapkan petani
di Jawa
Timur
tidak
akan kembali
berebut
pupuk yang berdampak
pada
kualitas hasil
pertanian.
Selain
itu, HKTI
juga
mulai menggalakkan
penggunaan
pupuk
nonorganik untuk
mengembalikan
kesuburan
tanah.
(udi)