kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 27 Pebruari 2006

 Nusantara


Balita
Meninggal Dianiaya Ayah Tiri

Jakarta (Bali Post) -
Kasus
kekerasan orangtua terhadap anak yang menyebabkan kematian sang anak, kembali terulang. Kali ini yang menjadi korban adalah bocah berusia empat tahun bernama Arjun Andri alias Dede. Diduga bocah laki-laki ini meninggal karena dianiaya Doppy Septarandi, ayah tirinya. 

Informasi yang dihimpun Bali Post Minggu (26/2) kemarin, tragedi memilukan itu bermula saat para tetangga Doddy yang tinggal di Jalan Dua Puluh Desember, RT 5 RW 03, Kelurahan Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat. Mereka mengetahui Dede telah tewas dengan meninggalkan tanda-tanda penganiayaan di sekujur tubuhnya. Di tubuh bocah balita itu, para tetangga menemukan banyak bekas memar. 

Para tetangga pun kemudian berinisiatif melaporkan kasus itu ke Polsek Metro Kalideres. Para tetangga menduga Dede tewas setelah dianiaya Doppy. Sebagian lain berinisiatif membawa jenazah bocah tak berdosa itu ke Rumah Sakit Tangerang untuk diotopsi sekaligus memastikan sebab kematiannya. Jenazah bocah naas itu pun akhirnya dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.  

Polisi yang mendapatkan laporan para tetangga itu pun kemudian bertindak cepat. Mereka segera menangkap Doppy yang sehari-hari mengaku bekerja sebagai seniman itu untuk dimintai keterangan. ''Doppy yang dilaporkan para tetangganya telah melakukan penganiayaan terhadap anak tirinya, saat ini masih kami periksa intensif,'' kata Kepala Unit Reserse Polsek Metro Kalideres Iptu Bejo.  

Di RSCM, tim dokter yang melakukan visum terhadap jenazah Dede mengatakan di beberapa bagian tubuh Dede ditemukan tanda-tanda kekerasan. Tanda-tanda kekerasan itu tampak jelas di bagian punggung, kepala, lengan dan tungkai. ''Luka itu sepertinya terjadi berulang-ulang, yang terbaru di punggung. Ada juga luka-luka yang sudah lama, contohnya di telinga ada luka seperti bekas dijewer,'' kata dokter ahli forensik RSCM Oktavinda Savitri kepada wartawan.  

Meski banyak luka di tubuh Dede, dr. Oktavinda mengaku belum dapat memastikan sebab kematian bocah itu sebelum dilakukan otopsi, yang hasilnya baru akan diperoleh dalam satu pekan mendatang. ''Sumber kematian belum bisa dipastikan karena ada luka-luka yang sudah lama, jadi susah dibedakan,'' tegasnya. 

Tak Percaya 

Di sela-sela pemeriksaan jenazah Dede, paman Doppy, Nasrul Yaris, mengaku tidak percaya kalau keponakannya telah menganiaya anak tirinya itu. ''Saya tak percaya keponakan saya yang melakukannya. Setahu saya dia orangnya lembut dan sangat sayang pada Dede,'' kata Nasrul Yasir yang mengaku sebagai juru bicara keluarga. 

Nasrul yang datang ke RSCM bersama dengan ibu kandung Dede yang bernama Erni menceritakan, Erni dan Doppy menikah sejak tiga tahun lalu. Dede, kata Nasrul, merupakan buah perkawinan pertama Erni. ''Dede sebelumnya tinggal bersama kakeknya dari pihak ibu di Indramayu, Jawa Barat,'' jelasnya. 

Menurut Nasrul, Sabtu, 25 Februari malam lalu, Dede menderita kejang-kejang dan sempat dibawa ke RS Tangerang. Tetapi, RS tersebut tak mau menerima Dede dengan alasan penuh, setelah Erni mengaku tak mampu membayar uang muka biaya RS sebesar Rp 2 juta.  

Sementara itu, Erni yang mendampingi Nasrul terlihat terus menitikkan air mata. Karyawan sebuah pabrik roti ini memilih bungkam dan memasuki mobil ketika disodori pertanyaan oleh wartawan. ''Dia masih sulit bicara. Kalau ngomong terbata-bata,'' kata Nasrul sambil menambahkan, rencananya jenazah Dede akan dimakamkan di Indramayu. (kmb5)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)