Balita
Meninggal
Dianiaya
Ayah Tiri
Jakarta (Bali Post) -
Kasus
kekerasan
orangtua
terhadap
anak yang
menyebabkan
kematian sang
anak,
kembali terulang.
Kali ini
yang menjadi
korban
adalah bocah
berusia
empat tahun
bernama
Arjun Andri alias
Dede.
Diduga
bocah
laki-laki ini
meninggal
karena
dianiaya Doppy
Septarandi, ayah
tirinya.
Informasi
yang dihimpun Bali Post
Minggu (26/2)
kemarin,
tragedi
memilukan itu
bermula
saat para
tetangga
Doddy yang
tinggal
di Jalan
Dua
Puluh Desember, RT 5
RW 03, Kelurahan
Pegadungan,
Kalideres, Jakarta
Barat.
Mereka
mengetahui Dede
telah
tewas
dengan
meninggalkan tanda-tanda
penganiayaan
di
sekujur tubuhnya.
Di
tubuh
bocah balita
itu,
para tetangga
menemukan
banyak
bekas memar.
Para
tetangga pun
kemudian
berinisiatif
melaporkan
kasus
itu ke
Polsek Metro
Kalideres.
Para
tetangga
menduga
Dede
tewas setelah
dianiaya
Doppy.
Sebagian lain
berinisiatif
membawa
jenazah bocah
tak
berdosa itu
ke
Rumah Sakit
Tangerang
untuk
diotopsi sekaligus
memastikan
sebab
kematiannya.
Jenazah
bocah
naas itu pun
akhirnya
dibawa
ke RS Cipto
Mangunkusumo (RSCM),
Jakarta.
Polisi
yang mendapatkan
laporan
para tetangga
itu pun
kemudian bertindak
cepat.
Mereka
segera
menangkap Doppy yang
sehari-hari
mengaku
bekerja sebagai
seniman
itu untuk
dimintai
keterangan.
''Doppy
yang dilaporkan
para
tetangganya telah
melakukan
penganiayaan
terhadap
anak
tirinya, saat
ini
masih kami
periksa
intensif,'' kata
Kepala Unit
Reserse
Polsek Metro Kalideres
Iptu
Bejo.
Di
RSCM, tim
dokter yang
melakukan
visum
terhadap jenazah
Dede
mengatakan di
beberapa
bagian
tubuh Dede
ditemukan
tanda-tanda
kekerasan.
Tanda-tanda
kekerasan
itu
tampak jelas
di
bagian punggung,
kepala,
lengan dan
tungkai.
''Luka
itu
sepertinya terjadi
berulang-ulang, yang
terbaru
di punggung.
Ada
juga
luka-luka yang sudah
lama, contohnya
di
telinga ada
luka
seperti bekas
dijewer,''
kata
dokter ahli
forensik RSCM
Oktavinda
Savitri
kepada wartawan.
Meski
banyak
luka di
tubuh
Dede, dr. Oktavinda
mengaku
belum dapat
memastikan
sebab
kematian bocah
itu
sebelum dilakukan
otopsi, yang
hasilnya
baru
akan
diperoleh
dalam
satu pekan
mendatang.
''Sumber
kematian
belum
bisa dipastikan
karena
ada luka-luka yang
sudah lama,
jadi
susah dibedakan,''
tegasnya.
Tak
Percaya
Di
sela-sela
pemeriksaan
jenazah
Dede, paman
Doppy,
Nasrul Yaris,
mengaku
tidak percaya
kalau
keponakannya telah
menganiaya
anak
tirinya itu.
''Saya
tak
percaya keponakan
saya yang
melakukannya.
Setahu
saya
dia orangnya
lembut
dan sangat
sayang
pada Dede,''
kata
Nasrul Yasir yang
mengaku
sebagai juru
bicara
keluarga.
Nasrul
yang datang
ke RSCM
bersama dengan
ibu
kandung Dede yang
bernama
Erni menceritakan,
Erni
dan Doppy
menikah
sejak tiga
tahun
lalu.
Dede,
kata
Nasrul, merupakan
buah
perkawinan pertama
Erni.
''Dede
sebelumnya
tinggal
bersama kakeknya
dari
pihak ibu
di
Indramayu, Jawa
Barat,''
jelasnya.
Menurut
Nasrul,
Sabtu, 25 Februari
malam
lalu, Dede
menderita
kejang-kejang
dan
sempat dibawa
ke RS
Tangerang.
Tetapi,
RS tersebut
tak mau
menerima
Dede
dengan alasan
penuh,
setelah Erni
mengaku
tak mampu
membayar
uang
muka biaya RS
sebesar
Rp 2 juta.
Sementara
itu,
Erni yang mendampingi
Nasrul
terlihat terus
menitikkan air
mata.
Karyawan
sebuah
pabrik roti
ini
memilih bungkam
dan
memasuki mobil
ketika
disodori pertanyaan
oleh
wartawan. ''Dia
masih
sulit bicara.
Kalau
ngomong terbata-bata,''
kata
Nasrul sambil
menambahkan,
rencananya
jenazah
Dede
akan dimakamkan
di
Indramayu. (kmb5)