kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 27 Pebruari 2006

 Ekonomi


Catatan Ekonomi Sepekan
Ke Mana Ekonomi Kini Berpijak? 

PERTUMBUHAN ekonomi yang tinggi menjadi kebutuhan mendesak. Pertumbuhan ekonomi tinggi adalah jawaban strategis terhadap masalah sosial-ekonomi di masyarakat yang makin termaginalkan. Pengangguran bertambah, kemiskinan makin dalam dan luas, juga kesehatan masyarakat cenderung terus menurun.

-----------------------------

Menko Perekonomian Boediono dalam sebuah kesempatan berujar perihal pertumbuhan ekonomi nasional serta-merta menerbitkan harapan. Dia berani menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini 6-7 persen. Bahkan, dia juga mengaku optimis bahwa target itu bisa dicapai. Memang kita boleh berharap beban masalah sosial-ekonomi kita tahun ini bisa berkurang. Dengan pertumbuhan ekonomi dalam kisaran relatif tinggi, lapangan kerja bisa lumayan banyak tercipta. Itu, pada gilirannya, niscaya berdampak positif terhadap penurunan masalah kemiskinan maupun perbaikan kesehatan masyarakat. Cuma, jujur saja, kita tidak mendapat penjelasan mengenai munculnya angka pertumbuhan sebesar 6-7 persen itu. Mungkin pemerintah berpijak pada membaiknya indikator makro yakni penguatan kurs rupiah dan Indeks Harga Saham.  

Berpijak pada premis itu, optimisme membangun perekonomian dapat dilakukan lebih baik karena situasi yang kondusif. Ya, nilai tukar rupiah terhadap barang dan jasa menjadi salah satu tolak ukur mendeskripsikan kondisi real ekonomi Indonesia. Rupiah menjadi alat tukar bagi lebih 200 juta penduduk. Nilai rupiah yang telah jatuh berlipat-lipat sejak krisis ekonomi dimulai pertengahan 1997 lalu. Artinya, rupiah yang kita pegang ini telah diamputasi berulangkali.

Para menteri ekonomi pada Kabinet Indonesia Bersatu boleh-boleh saja mengklaim adanya progres di bidang ekonomi. Tapi, rakyat pun berhak untuk menjawab bahwa semua indikator ekonomi maupun klaim-klaim tentang progres bidang ekonomi itu, tidak atau belum memberi nilai tambah sedikit pun terhadap hidup keseharian mereka. Pemerintah, semestinya memahami apa akibatnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tetap, jika inflasi sudah memasuki kisaran dua digit. Dalam situasi seperti sekarang, ketika inflasi berada di level 17 persen, menjadi konyol kalau ada menteri berani-beraninya mengklaim kemajuan.

Pengelolaan ekonomi negara, bagaimana pun, harus fokus pada kesejahteraan rakyat, bukan fokus pada apa yang digariskan teori ekonomi. Klaim-klaim kemajuan itu hanya teori yang nyaris tak punya arti apa-apa bagi begitu banyak orang. Mereka yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), mereka yang harus mengais-ngais untuk sekadar mendapatkan sesuap nasi atau mencari uang hanya agar bisa melunasi uang sekolah anak.

Ekonom Umar Juoro mengungkapkan, indeks kesengsaraan rakyat (misery index) Indonesia per Februari ini sudah cukup tinggi. Metode perhitungan indeks kesengsaraan rakyat ini relatif sederhana, tingkat inflasi ditambah besaran pengangguran. Dalam konteks Indonesia, indeks kesengsaraan rakyat itu menjadi 27,81 persen, hasil penjumlahan dari laju inflasi 17,11 persen dan tingkat pengangguran yang mencapai 10,8 persen. Tingginya indeks kesengsaraan itu menjadi pembenaran yang menggambarkan hidup sebagian besar rakyat di negara ini.

Dengan indikator yang satu ini, diharapkan para perumus kebijakan di kabinet lebih realistis. Tentu saja yang dimaksud realistis adalah merumuskan kebijakan dengan mengacu pada beban hidup rakyat kebanyakan, bukan apa kata orang asing di lembaga-lembaga multilateral macam IMF atau Bank Dunia. Kalau harga pasar BBM sekarang menyebabkan beban hidup begitu berat, menjadi tidak layak jika tarif ini-itu pun ikut-ikut dinaikkan. Apakah karena ''ganti baju'' para elite itu lupa jati dirinya, kalau mereka pun juga rakyat Indonesia?

* indu

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)