kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 27 Pebruari 2006

 Bali


Antusias, Peserta Lomba Melukis Wajah Soekarno dan
Gayanya
 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Slogan tersebut nampaknya makin teraktualisasi  di kalangan generasi muda. Terbukti salah satu di antaranya ketika perhelatan lomba ''Melukis Wajah Soekarno dan Gayanya'', Minggu (26/2) kemarin di Pasar Oleh Oleh Bali, Jalan Raya Kuta 88, Tuban, mendapat sambutan hangat kalangan pelajar SMP. 

LOMBA melukis yang merupakan kerja sama antara Koperasi Krama Bali (KKB) dengan Yayasan Kepustakaan Bung Karno (YKBP) tersebut bukan saja diikuti pelajar SMP dari Denpasar dan Badung, juga kabupaten lain di Bali. Menurut Ketua YKBP Shri IB Dharmika Wedastera Suyasaputra, S.T., lomba melukis wajah Soekarno dan gayanya itu selain diikuti anak-anak SMP dari seluruh Bali, juga tingkat SD pada 4 Maret mendatang.

Wali Kota Denpasar AAN Puspayoga yang membuka lomba tersebut melihat kegiatan ini bukan saja memberi manfaat bagi kalangan pelajar untuk menggali dan mengembangkan bakatnya di bidang melukis. Juga memberi makna khusus bagi generasi muda dalam menghargai jasa-jasa pahlawannya. ''Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya,'' ungkap Puspayoga.

Puspayoga menyatakan rasa salutnya kepada pemrakarsa lomba yakni KKB yang dinilainya sangat cerdas dan tepat dalam mengangkat tema lomba tersebut. Selain sebagai pahlawan bangsa, Soekarno yang juga terkenal dengan sebutan Bung Karno (BK), sangat dekat dengan masyarakat Bali. ''Darah Bung Karno separuhnya darah Bali,'' ungkap Puspayoga.

Terangnya, mendiang ibu Bung Karno adalah asli orang Bali (Singaraja), sehingga tak mengherankan Bung Karno dan keluarganya sangat dekat dengan Bali. Sebaliknya orang Bali sendiri juga begitu mencintai Bung Karno. ''Inilah hal yang membanggakan kita semua,'' jelas Puspayoga.

Pada lomba kemarin yang dihadiri Ketua KKB Satria Naradha serta sejumlah pengamat tersebut, nampak puluhan peserta begitu semangat melukis wajah BK. Sejumlah objek wajah BK baik yang dipajang di lokasi pameran maupun yang dibawa peserta dari rumah, dalam waktu sekitar dua jam berhasil mereka lukis dengan baik dalam goresan warna hitam putih.

Ketua YKBK Shri IB Dharmika Wedastera Suyasaputra mengatakan bakat dan semangat peserta memang sangat bagus. Sehingga hasil karya mereka sangat mendekati foto aslinya. Di tengah bangsa yang makin krisis nilai nasionalismenya, diharapkan melalui lomba melukis BK ini akan mampu membangkitkan semangat perjuangan dan nilai nasionalisme yang telah ditanamkan BK untuk generasi muda mendatang. (lit)

 

 

 

Cemaskan Uang Kepeng makin Punah

 

Uang kepeng yang lebih dikenal sebagai pis bolong sudah dikenal masyarakat Bali sejak lama. Meski manfaat uang kepeng sudah bukan lagi sebagai alat belanja seperti zaman kerajaan dulu, namun nilainya tetap tinggi. ''Uang kepeng bagi masyarakat Bali selain memiliki makna sakral sebagai alat kelengkapan upacara, juga sebagian ada yang menempatkannya secara khusus karena nilai magisnya,'' ungkap kolektor uang kepeng Dewa Nyoman Putra saat ditemui di sela-sela Pameran Pasar Buku Bali 2006 di Pasar Oleh Oleh Bali, Jalan Raya Kuta 88, Tuban, Minggu (26/2) kemarin.

Pria kelahiran Banjar Tengah Kangin, Desa Peliatan, Ubud ini mengaku sudah belasan tahun mengumpulkan berbagai jenis uang kepeng. Ia memburu uang kepeng itu sampai ke pelosok desa di Bali. Bukan hanya waktu yang dia habiskan, bahkan tak sedikit uang yang dikeluarkannya untuk mendapatkan uang kepeng yang beberapa di antaranya bagi sejumlah masyarakat Bali punya nilai khusus itu. 

''Memang tak sampai ke luar daerah mencarinya, sebab Bali sendiri sebenarnya merupakan pusat peredaran uang kepeng ini,'' jelasnya. Untuk mendapatkan uang kepeng tersebut, menurut Dewa Putra memang tak mudah. Ada yang melalui tukar atau barter dan tak sedikit yang harus dia beli. Harganya juga bervariasi. ''Yang termahal saya beli per biji Rp 1 juta,'' jelas karyawan Bali Hai Cruise ini tanpa merinci jenis pis bolong tersebut.

Meski kini dia telah mengoleksi ratusan jenis uang kepeng dengan jumlah ribuan biji, Dewa Putra mengaku belum semua jenis uang kepeng yang pernah ada dia miliki. ''Saya masih akan terus mencarinya,'' jelasnya. Dewa Putra mengaku dia bukan sendirian yang mengejar peninggalan kuno itu. Sebab tak sedikit pula kolektor asing yang ikut memburu uang kepeng tersebut.

Banyaknya pesaing asing itulah sebenarnya salah satu yang membuatnya cemas. Sebab dia khawatir nantinya uang itu dibawa ke luar dan Bali akan sangat kehilangan. Uang kepeng yang kini menjadi koleksinya dijelaskan selain berasal dari Bali sendiri juga banyak yang merupakan produk Cina, Vietnam, Korea dan Jepang.

Masing-masing memiliki perbedaan baik dalam hal besar maupun bentuk lubangnya. Koleksinya yang tertua berasal dari Dinasti Han, yakni 206 SM. Huruf yang tercantum dalam uang kepeng tak beda jauh dengan uang kertas yakni menggambarkan nama-nama atau gelar kaisar yang berkuasa di zaman itu. Soal nilai lain dari uang kepeng tersebut, Dewa Putra mengakui memang ada uang punya tuah khusus dan hal itu juga tergantung dalam perilaku pemiliknya. Untuk urusan nilai magis ini nampaknya Dewa Putra sedikit rahasia. (lit)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)