Antusias, Peserta Lomba Melukis Wajah Soekarno dan
Gayanya
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai
jasa-jasa pahlawannya. Slogan tersebut nampaknya makin
teraktualisasi di kalangan generasi muda. Terbukti
salah satu di antaranya ketika perhelatan lomba ''Melukis
Wajah Soekarno dan Gayanya'', Minggu (26/2) kemarin di
Pasar Oleh Oleh Bali, Jalan Raya Kuta 88, Tuban,
mendapat sambutan hangat kalangan pelajar SMP.
LOMBA
melukis yang merupakan kerja sama antara Koperasi Krama
Bali (KKB) dengan Yayasan Kepustakaan Bung Karno (YKBP)
tersebut bukan saja diikuti pelajar SMP dari Denpasar
dan Badung, juga kabupaten lain di Bali. Menurut Ketua
YKBP Shri IB Dharmika Wedastera Suyasaputra, S.T., lomba
melukis wajah Soekarno dan gayanya itu selain diikuti
anak-anak SMP dari seluruh Bali, juga tingkat SD pada 4
Maret mendatang.
Wali Kota Denpasar AAN Puspayoga yang membuka lomba
tersebut melihat kegiatan ini bukan saja memberi manfaat
bagi kalangan pelajar untuk menggali dan mengembangkan
bakatnya di bidang melukis. Juga memberi makna khusus
bagi generasi muda dalam menghargai jasa-jasa
pahlawannya. ''Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa
menghargai jasa pahlawannya,'' ungkap Puspayoga.
Puspayoga menyatakan rasa salutnya kepada pemrakarsa
lomba yakni KKB yang dinilainya sangat cerdas dan tepat
dalam mengangkat tema lomba tersebut. Selain sebagai
pahlawan bangsa, Soekarno yang juga terkenal dengan
sebutan Bung Karno (BK), sangat dekat dengan masyarakat
Bali. ''Darah Bung Karno separuhnya darah Bali,'' ungkap
Puspayoga.
Terangnya, mendiang ibu Bung Karno adalah asli orang
Bali (Singaraja), sehingga tak mengherankan Bung Karno
dan keluarganya sangat dekat dengan Bali. Sebaliknya
orang Bali sendiri juga begitu mencintai Bung Karno. ''Inilah
hal yang membanggakan kita semua,'' jelas Puspayoga.
Pada lomba kemarin yang dihadiri Ketua KKB Satria
Naradha serta sejumlah pengamat tersebut, nampak puluhan
peserta begitu semangat melukis wajah BK. Sejumlah objek
wajah BK baik yang dipajang di lokasi pameran maupun
yang dibawa peserta dari rumah, dalam waktu sekitar dua
jam berhasil mereka lukis dengan baik dalam goresan
warna hitam putih.
Ketua YKBK Shri IB Dharmika Wedastera Suyasaputra
mengatakan bakat dan semangat peserta memang sangat
bagus. Sehingga hasil karya mereka sangat mendekati foto
aslinya. Di tengah bangsa yang makin krisis nilai
nasionalismenya, diharapkan melalui lomba melukis BK ini
akan mampu membangkitkan semangat perjuangan dan nilai
nasionalisme yang telah ditanamkan BK untuk generasi
muda mendatang. (lit)
Cemaskan Uang Kepeng makin Punah
Uang kepeng yang lebih dikenal sebagai pis bolong sudah
dikenal masyarakat Bali sejak lama. Meski manfaat uang
kepeng sudah bukan lagi sebagai alat belanja seperti
zaman kerajaan dulu, namun nilainya tetap tinggi. ''Uang
kepeng bagi masyarakat Bali selain memiliki makna sakral
sebagai alat kelengkapan upacara, juga sebagian ada yang
menempatkannya secara khusus karena nilai magisnya,''
ungkap kolektor uang kepeng Dewa Nyoman Putra saat
ditemui di sela-sela Pameran Pasar Buku Bali 2006 di
Pasar Oleh Oleh Bali, Jalan Raya Kuta 88, Tuban, Minggu
(26/2) kemarin.
Pria kelahiran Banjar Tengah Kangin, Desa Peliatan, Ubud
ini mengaku sudah belasan tahun mengumpulkan berbagai
jenis uang kepeng. Ia memburu uang kepeng itu sampai ke
pelosok desa di Bali. Bukan hanya waktu yang dia
habiskan, bahkan tak sedikit uang yang dikeluarkannya
untuk mendapatkan uang kepeng yang beberapa di antaranya
bagi sejumlah masyarakat Bali punya nilai khusus itu.
''Memang tak sampai ke luar daerah mencarinya, sebab
Bali sendiri sebenarnya merupakan pusat peredaran uang
kepeng ini,'' jelasnya. Untuk mendapatkan uang kepeng
tersebut, menurut Dewa Putra memang tak mudah. Ada yang
melalui tukar atau barter dan tak sedikit yang harus dia
beli. Harganya juga bervariasi. ''Yang termahal saya
beli per biji Rp 1 juta,'' jelas karyawan Bali Hai
Cruise ini tanpa merinci jenis pis bolong tersebut.
Meski kini dia telah mengoleksi ratusan jenis uang
kepeng dengan jumlah ribuan biji, Dewa Putra mengaku
belum semua jenis uang kepeng yang pernah ada dia miliki.
''Saya masih akan terus mencarinya,'' jelasnya. Dewa
Putra mengaku dia bukan sendirian yang mengejar
peninggalan kuno itu. Sebab tak sedikit pula kolektor
asing yang ikut memburu uang kepeng tersebut.
Banyaknya pesaing asing itulah sebenarnya salah satu
yang membuatnya cemas. Sebab dia khawatir nantinya uang
itu dibawa ke luar dan Bali akan sangat kehilangan. Uang
kepeng yang kini menjadi koleksinya dijelaskan selain
berasal dari Bali sendiri juga banyak yang merupakan
produk Cina, Vietnam, Korea dan Jepang.
Masing-masing memiliki perbedaan baik dalam hal besar
maupun bentuk lubangnya. Koleksinya yang tertua berasal
dari Dinasti Han, yakni 206 SM. Huruf yang tercantum
dalam uang kepeng tak beda jauh dengan uang kertas yakni
menggambarkan nama-nama atau gelar kaisar yang berkuasa
di zaman itu. Soal nilai lain dari uang kepeng tersebut,
Dewa Putra mengakui memang ada uang punya tuah khusus
dan hal itu juga tergantung dalam perilaku pemiliknya.
Untuk urusan nilai magis ini nampaknya Dewa Putra
sedikit rahasia. (lit)