kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 27 Pebruari 2006

 Bali


''Indonesia Jaya'', Buku Bagi Hakim, Jaksa dan ...

BUKU berjudul ''Indonesia Jaya: Sebuah Refleksi Sejarah'' karya Anand Krishna, dibedah Minggu (26/2) kemarin di ruang sidang PPS Unud. Kegiatan itu diselenggarakan Program Studi Kajian Budaya Unud bekerja sama dengan National Integration Movement (NIM). Buku setebal 358 halaman itu terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama berjudul Indonesia kini, bagian kedua Indonesia dulu dan bagian ketiga Indonesia Jaya.

Prof. Dr. Wayan Ardika yang membedah buku tersebut mengatakan penulisan buku ini dikemas sedemikian rupa sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu mengajak pembaca bukan untuk mempelajari sejarah. Melainkan belajar dari sejarah masa lampau guna berpijak pada masa kini untuk menapak masa depan.

Pada bagian ketiga buku ini, kata Ardika yang Dekan FS Unud, Anand Krishna mengingatkan kita bahwa bangsa Indonesia mesti kembali pada budaya sendiri. Sehubungan dengan itu Ardika sependapat dengan Anand Krishna bahwa bangsa Indonesia harus kembali pada budaya asal Indonesia, bukan budaya asing. Pancasila sebagai mutiara yang digali dari bumi pertiwi harus tetap dijadikan pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Direktur Program Pascasarjana Unud Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapta dalam sambutannya mengatakan hadirnya buku berjudul ''Indonesia Jaya'' yang mengulas tentang refleksi sejarah Indonesia dan kondisi saat ini sangat tepat di tengah-tengah berbagai isu -- seperti ancaman yang terkait dengan keutuhan NKRI, semangat kedaerahan yang berlebihan dalam otonomi daerah dan sebagainya. Buku ini memberikan inspirasi sekaligus semangat bahwa bangsa ini bisa bangkit menjadi bangsa yang besar. Fakta sejarah menunjukkan bangsa Indonesia pernah menjadi bangsa yang besar, kuat dan mandiri pada masa Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Konsep tentang wawasan nusantara dibangun pada zaman itu. Nilai persatuan, kesatuan, persaudaraan dan kesetaraan serta keadilan benar-benar diimplementasikan dalam menjalankan roda pemerintahan. Sekarang kenapa tidak bisa seperti itu? Adakah yang salah dalam mengelola bangsa ini? Buku yang dipersembahkan kepada hakim, jaksa, polisi dan TNI itu diharapkan memberikan inspirasi bagi kita yang saat ini pesimis tentang masa depan bangsa Indonesia. Tetapi Dewa Suprapta berharap suatu saat nanti Anand Krishna bisa mempersembahkan tulisannya untuk pahlawan pangan dan lingkungan hidup yaitu petani Indonesia. Baginya, petani itu adalah pahlawan. Sepanjang sejarah para petani mengabdi untuk kepentingan kemanusiaan melalui penyediaan pangan, papan, bahan industri dan bahan obat-obatan. Mereka juga pahlawan lingkungan. Melalui petak-petak sawah mereka bisa menahan sebagian air hujan. Melalui lahan perkebunan dan hutannya, aliran air ditahan dan diserap dan dilepaskan pada musim kemarau yang memungkinkan kita memperoleh sumber air bersih. (08)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)