''Indonesia Jaya'',
Buku
Bagi Hakim, Jaksa
dan
...
BUKU
berjudul ''Indonesia Jaya:
Sebuah
Refleksi Sejarah''
karya
Anand Krishna, dibedah
Minggu (26/2)
kemarin
di ruang
sidang PPS
Unud.
Kegiatan itu
diselenggarakan Program
Studi
Kajian Budaya
Unud
bekerja
sama dengan
National Integration Movement (NIM).
Buku
setebal 358
halaman
itu terdiri
atas
tiga bagian.
Bagian
pertama
berjudul Indonesia kini,
bagian
kedua Indonesia dulu
dan
bagian ketiga
Indonesia Jaya.
Prof. Dr.
Wayan
Ardika yang membedah
buku
tersebut mengatakan
penulisan
buku
ini dikemas
sedemikian
rupa
sejalan dengan
tujuan yang
ingin
dicapai yaitu
mengajak
pembaca
bukan untuk
mempelajari
sejarah.
Melainkan
belajar
dari sejarah
masa
lampau guna
berpijak
pada
masa kini
untuk
menapak masa
depan.
Pada
bagian
ketiga buku
ini,
kata Ardika yang
Dekan FS
Unud,
Anand Krishna mengingatkan
kita
bahwa bangsa
Indonesia mesti
kembali
pada budaya
sendiri.
Sehubungan
dengan
itu Ardika
sependapat
dengan
Anand Krishna bahwa
bangsa Indonesia
harus
kembali pada
budaya
asal Indonesia, bukan
budaya
asing.
Pancasila
sebagai
mutiara yang digali
dari
bumi pertiwi
harus
tetap dijadikan
pedoman
dalam hidup
berbangsa
dan
bernegara.
Direktur
Program Pascasarjana
Unud Prof. Dr.
Dewa
Ngurah Suprapta
dalam
sambutannya mengatakan
hadirnya
buku
berjudul ''Indonesia Jaya''
yang mengulas
tentang
refleksi sejarah
Indonesia dan
kondisi
saat ini
sangat
tepat di
tengah-tengah
berbagai
isu --
seperti ancaman yang
terkait
dengan keutuhan NKRI,
semangat
kedaerahan yang
berlebihan
dalam
otonomi daerah
dan
sebagainya.
Buku
ini
memberikan inspirasi
sekaligus
semangat
bahwa
bangsa ini
bisa
bangkit menjadi
bangsa yang
besar.
Fakta
sejarah
menunjukkan bangsa
Indonesia pernah
menjadi
bangsa yang besar,
kuat
dan mandiri
pada
masa Kerajaan
Majapahit
di
bawah kepemimpinan
Raja Hayam
Wuruk
dan Mahapatih
Gajah
Mada.
Konsep
tentang
wawasan nusantara
dibangun
pada
zaman itu.
Nilai
persatuan,
kesatuan,
persaudaraan
dan
kesetaraan serta
keadilan
benar-benar
diimplementasikan
dalam
menjalankan roda
pemerintahan.
Sekarang
kenapa
tidak bisa
seperti
itu?
Adakah
yang salah
dalam
mengelola bangsa
ini?
Buku yang
dipersembahkan
kepada
hakim, jaksa,
polisi
dan TNI itu
diharapkan
memberikan
inspirasi
bagi
kita yang saat
ini
pesimis tentang
masa
depan bangsa
Indonesia.
Tetapi
Dewa
Suprapta berharap
suatu
saat nanti
Anand Krishna
bisa
mempersembahkan tulisannya
untuk
pahlawan pangan
dan
lingkungan hidup
yaitu
petani Indonesia.
Baginya,
petani
itu adalah
pahlawan.
Sepanjang
sejarah
para petani
mengabdi
untuk
kepentingan kemanusiaan
melalui
penyediaan pangan,
papan,
bahan industri
dan
bahan obat-obatan.
Mereka
juga
pahlawan lingkungan.
Melalui
petak-petak
sawah
mereka bisa
menahan
sebagian air hujan.
Melalui
lahan
perkebunan dan
hutannya,
aliran air
ditahan
dan diserap
dan
dilepaskan pada
musim
kemarau yang memungkinkan
kita
memperoleh sumber air
bersih. (08)