Warung Global------
Proyek Embung Telaga Tunjung
Sarat Kepentingan Politik
Proyek Embung Telaga Tunjung yang menjadi harapan
ratusan petani di Tabanan, hingga saat ini belum ada
kepastian kapan akan dapat dimanfaatkan. Walaupun ada
pernyataan dari Bupati Tabanan bahwa pembangunan induk
mungkin akan selesai, tetapi pengoperasiannya menunggu
penyelesaian unit penunjang lainnya. Sepertinya itu
hanyalah sebuah janji, apabila dilihat dari real
penyelesaian proyek sampai saat ini belum tuntas.
Benarkah karena terbatasnya dana? Tidak salah anggapan
sejumlah masyarakat bahwa pembuatan Embung Telaga
Tunjung sebuah proyek dengan dominan kepada kepentingan
politik tanpa memperhatikan jeritan dan nasib ratusan
petani yang kini sawahnya kekeringan. Demikian terungkap
dalam acara Warung Global yang disiarkan secara langsung
oleh Radio Global FM 96,5 Sabtu (25/2). Acara ini juga
dipancarluaskan oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM.
Berikut rangkuman selengkapnya.
============================================================
Menurut Jujur di Sanglah, pada saat pilkada proyek ini
sebagai alat politik yang paling hot tapi ternyata
sampai saat ini belum ada apa- apanya. Bahkan Ibu
Megawati sangat berharap Embung Telaga Tunjung itu
memberi kemudahan dan mampu mensejahterakan masyarakat
Tabanan.
Dikatakan, kalau memang proyek tersebut menjadi tujuan
pokok atau moment demi kepentingan masyarakat, untuk
kebutuhan pertanian, mestinya itu diutamakan tanpa ada
proyek lain diluar itu, seperti pembangunan rumah sakit
internasional yang sekarang kelihatannya mangkrak
pengerjaannya dan tanahnya tidak berfungsi dengan baik
juga menghabiskan dana yang tidak sedikit yaitu sekitar
Rp 19 milyar. Kenapa tidak dana tersebut dialokasikan
untuk pembangunan proyek Telaga Tunjung saja, agar
petani bisa menikmati air.
Mohon ketegasan dari Pemda Tabanan kapan proyek ini bisa
dimanfaatkan oleh masyarakat petani dan berapa jumlah
dana yang dibutuhkan. Apabila sudah tidak memungkinkan
Pemda Tabanan untuk menyelesaikan Embung Telaga Tunjung
tersebut, jangan memberikan harapan kepada masyarakat.
Sementara itu, Pande di Pandak Gede berpendapat, mega
proyek ini tidak bisa diselesaikan dengan dana daerah
dan memang dana ini direncanakan akan diambil dari dana
sektoral. Pada saat pemerintahan Megawati, menjanjikan
dan mencanangkan bahkan menindaklanjuti pembangunan
proyek tersebut. KOntan saja, petani di daerah tersebut
begitu menaruh harapan besar terhadap keberadaan proyek
ini untuk mengairi sawah mereka tanpa hanya tergantung
kepada curah hujan saja.
Dan, bahkan masyarakat merelakan tanahnya diterlantarkan
menunggu mega proyek tersebut selesai pengerjaannya.
Namun kemudain ketika penyelesaian proyek itu molor,
masyarakat menaruh curiga dan menghitung-hitung, dirinya
dirugikan. Kemudian atas keresahan masyarakat petani
tersebut pemerintah dalam hal ini Bupati Tabanan
buru-buru mengatakan bahwa embung tersebut mungkin akan
selesai tahun 2006 ini, namun pengoprasiannya menunggu
penyelesaian penunjang lainnya. Itu artinya molor lagi.
Sebaiknya Pemkab Tabanan berbicara seadanya saja, jujur,
transparan sesuai kewenangannya.
Sukarsan di Meliling mengatakan, yang paling dirugikan
oleh proyek ini adalah warga di sekitar subak Meliling.
Empelan tersebut adalah empelan warga subak Meliling
yang dibangun secara swadaya dan sumbangan dari
pemerintah. Dengan dibuatkan mega proyek yang hingga
saat ini pengerjaannya belum selesai sangat mempengaruhi
produktifitas petani di sana. Walaupun masyarakat petani
di sana diberikan sumbangan, namun tidak begitu membantu.
Yang dibutuhkan petani adalah kail bukan ikan.
IB Rai di Denpasar menilai setiap pernyataan- pernyataan
yang disampaikan harus didukung oleh data-data atau
perhitungan yang cermat yang mendekati kepastian.
Pernyataan yang disampaikan Bupati Tabanan bahwa proyek
tersebut sudah dapat beroprasi tahun 2006, tapi sampai
sekarang tampaknya belum berfungsi. Dengan keadaan
seperti ini sudah ada pihak-pihak yang dirugikan yaitu
petani. Dengan menyadari adanya pihak yang dirugikan,
seharusnya pemerintah mencarikan solusi, apa yang
seharusnya dilakukan oleh petani agar tidak terjadi
keresahan yang berkepanjangan.
Wayan Suendara di Tabanan, mengatakan, proyek Telaga
Tunjung hingga saat ini pengerjaannya masih terus
berlanjut, tetapi mungkin penyelesaiannya masih
membutuhkan waktu. Selama ini petani mengairi sawahnya
hanya mengandalkan curah hujan dan menunggu musim tanam
subak dihulu, tetapi tidak selamanya mereka bisa seperti
itu. Jika masalah dana, sebaiknya Pemda melakukan lobi
kepusat agar pengerjaan proyek tersebut cepat selesai.
Sumawa di Kintamani mengatakan, setiap proyek itu ada
dua, jangka panjang dan jangka pendek. Barangkali proyek
Telaga Tunjung ini adalah proyek jangka panjang. Namun
dari kenyataan yang ada, keinginan petani begitu
menggebu untuk segera terselesaikannya proyek tersebut,
inilah yang perlu dicarikan solusi eksekutif dan
legeslatif
Sementara Setia di Tabanan, berpendapat proyek mangkrak
karena kekurangan dana adalah hal yang biasa. Sangat
memprihatinkan petani yang sawahnya kering
bertahun-tahun, mereka itu mesti makan apa? Dalam hal
ini yang paling mendesak adalah bagaimana Pemkab Tabanan
menyikapi usulan dari para petani untuk membebaskan
pembayaran pajak.
Adnyana di Denpasar dan Ariawan di Abiansemal
berpendapat sama sebelum merancang suatu program sudah
barang tentu benar - benar dipikirkan untuk alokasi dana,
apalagi telah dibicarakan target penyelesaian, itu
artinya sudah ada kematangan. Jadi kalau sekarang ada
hambatan penyelesaian pengerjaan proyek tersebut karena
masalah dana, itu salah siapa?
Lain halnya dengan peendapat Bagus di Rijasa dan Joni di
Penatih, kekurangan dana bukan berarti mangkrak. Proyek
tersebut hingga saat ini masih tetap berjalan. Kita
harus bersabar dan kita harus tetap mendukung proyek
tersebut. Setelah kita mendukung, baru kita menyelidiki
secara mendalam. Proyek tersebut hingga saat ini masih
tetap berjalan. (Wati)